Agenda bank sentral, dimana para pembuat kebijakan terus memonitor efek Covid-19

Fokus utama pasar minggu lalu adah agenda bank sentral, dimana para pembuat kebijakan terus memonitor efek Covid-19. Di Inggris, Bank of England (BoE) menambah jumlah stimulus dari sebelumnya 645 miliar poundsterling menjadi 745 miliar poundsterling. BoE masih menetapkan suku bunga di 0,10%. Di Jepang, BoJ juga tetap mempertahankan kebijakan dan berharap bahwa pemulihan global perlahan-lahan berlangsung. BoJ mengatakan bahwa pihaknya akan menyediakan sekitar $1triliun untuk membantu perusahaan yang mempunyai masalah keuangan. Sementara di AS, ketua the Fed Jerome Powel menyampaikan pesan yang suram untuk kongres, dengan mengatakan bahwa ekonomi sedang mengalami penurunan yang tajam dan dia tidak berharap ekonomi pulih penuh sampai publik yakin bahwa Covid-19 bisa terkendali.

Dollar menguat minggu lalu karena faktor safe haven di tengah kekhawatiran mengenai meningkatnya jumlah kasus baru virus corona di dunia, serta angka jobless claims yang lebih tinggi dari yang perkiraan. Indeks dollar menguat 0,3% selama sepekan dan ditutup di area 97.71. AS melaporkan kenaikan jumlah kasus virus corona, sementara China telah membatalkan penerbangan untuk mencegah penularan virus.

Harga emas menguat Jumat lalu, sekaligus mencatatkan penguatan dalam dua minggu berturut-turut berkat meningkatnya permintaan safe haven di tengah meningkatnya jumlah kasus baru virus corona di China dan AS, meski bursa saham AS menguat pekan lalu. Meski begitu, reli emas dibatasi oleh penguatan dollar, yang naik 0,3% selama sepekan. Analis melihat bahwa penguatan dollar bisa membuat investor menjauh dari emas, yang dihargai dalam dollar. Emas berjangka AS ditutup di $1753, menguat 0,9% selama sepekan.

Harga minyak berjangka menguat Jumat lalu, dengan mencatatkan penguatan 9,6% selama sepekan. Panel OPEC mengambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa negara-negara tertentu menebus kegagalan untuk memenuhi target pengurangan produksinya di bulan lalu. Kazakhstan dan Irak berjanji akan meningkatkan kepatuhannya sehubungan dengan pemangkasan produksi OPEC+ yang berlaku awal Mei. OPEC + sudah memangkas produksi sebesar 9,7 juta bph awal sejak bulan Mei. Sejauh ini tingkat kepatuhan OPEC dalam pemangkasan produksi bulan Mei hanya sebesar 87%. Panel OPEC menginginkan tingkat 100% dan memberi watu bagi negara-negara yang belum mematuhi untuk menebus di bulan-bulan selanjutnya. Meski begitu, sentimen minyak masih dibayangi mengenai permintaan bahan bakar setelah lonjakan virus corona di China, yang mengakibatkan dibatalkannya penerbangan dan penutupan sekolah. Sedangkan negara bagian AS, termasuk Texas, Florida dan California melaporkan peningkatan tajam dalam kasus baru.

Saham Asia melemah hari ini karena investor mempertimbangkan dampak wabah virus corona di beberapa negara, mulai dari AS hingga Australia, meski indeks future AS mulai pulih. Australia memperketat pembatasann karena adanya kasus baru. Di sisi lain, penangguhan impor China dari pabrik Tyson Foods Inc. memicu kekhawatiran akan implikasi yang lebih luas bagi AS dan ekspor daging global selama pandemi.

Fokus Minggu Ini : PMI & PDB AS
Minggu ini negara-negara besar akan merilis data PMI, baik dari sektor jasa, maupun manufaktur. Data-data tersebut akan menunjukkan seberapa sehat kondisi ekonomi di negara-negara tersebut. Data tersebut masih diperkirakan suram, ditunjukkan dengan perkiraan kontraksi pada sektor jasa dan manufaktur di negara-negara Eropa. Namun di AS, sektor manufaktur diperkirakan ekspansi. AS juga akan merilis data PDB.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*