Beberapa data makro ekonomi akan kembali hadir mewarnai pergerakan pasar keuangan di minggu ini

Dolar AS menguat atas mata uang utama dunia lainnya pada hari Jumat, setelah data ketenagakerjaan AS yang beragam. Pada dasarnya, laporan Non-Farm Payrolls AS yang lebih baik dari perkiraan menjadikan faktor bearish untuk dolar karena mengurangi daya tariknya sebagai aset safe-haven. Namun, data jobless claims dianggap bullish dan mendorong investor kembali melirik dollar sebagai safe haven. Dolar AS naik pada hari Kamis karena trader mulai meragukan apakah pertumbuhan non-farm payroll bisa bertahan lama di tengah klaim tunjangan pengangguran yang terus-menerus naik dan lonjakan kasus coronavirus. Dengan kata lain, NFP mewakili masa lalu, dan jobless claims berwawasan ke depan. Investor mengabaikab ekonomi pada bulan Juni, mereka ingin tahu ke mana arahnya pada bulan Juli. Indeks dollar menguat tipis hari Jumat pada 97,289, namun masih mencatatkan penurunan mingguan.

Sterling mencatatkan kenaikan mingguan untuk pertama dalam empat minggu terakhir atas dollar, meski belum ada perkembangan dalam perundingan post Brexit antara Ingris dan Uni Eropa (UE). Ketua Negosiator UE Michael Barnier mengatakan bahwa masih banyak perbedaan mengenai perundingan Inggris dan UE minggu kemarin. Di awal bulan ini, sterling sudah menguat 1,2% setelah anjlok 2,7% di Juni.

Harga emas naik ke level tertinggi 8,5 tahun minggu lalu dengan emas berjangka AS melewati area psikologi $1800. Harga emas naik setelah testimoni ketua the Fed Jerome Powell dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin, yang menegaskan stimulus masih berjalan. Emas sempat koreksi karena aksi profit taking menyusul rilisan solidnya data makro ekonomi yang mendorong sentimen risk-on. Namun, emas kembali bersinar, meski data ketenagakerjaan AS yang melebihi ekspektasi mendorong penguatan saham AS.

Harga minyak menyentuh level tertinggi empat bulan pada minggu lalu, didorong oleh pemangkasan ouput serta solidnya data ketenagakerjaan AS yang dirilis melebihi ekspektasi. Harga minyak juga naik setelah laporan Energy Information,Administration (EIA) yang menyebutkan bahwa cadangan minyak AS turun 7,2 juta barel. Sentimen minyak juga terangkat setelah survei Bloomberg yang menunjukkanb produksi minyak OPEC turun ke level terendah dalam tiga dekade terakhir menjadi 22,69 juta bph, berkat komitmen Arab Saudi untuk memenuhi pemangkasan produksi tambahan sebesar 1 jta bph, di luar perjanjian kesepakatan OPEC+. Namun, reli emas mulai tersendat di hari Jumat setelah meningkatnya jumlah kasus virus corona di dunia, terutama di AS. Pada hari Kamis, AS melaporkan jumlah kasus kasus harian virus corona lebih dari 55 ribu, meningkatkan kekhawatiran bahwa lonjakn infeksi bisa mengurangi pemulihan permintaan minyak.

Saham-saham Asia bertahan dekat level tertinggi 4 bulan hari ini karena investor mengandalkan stimulus moneter dan fiskal untuk menopang pemulihan ekonomi, bahkan ketika terjadi lonjakan dalam infeksi virus corona, yang menyebabkan ditundanya pembukaan ekonomi di AS. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang menguat 0,05%. Indeks Nikkei menguat 0,4% dan indeks saham berjangka AS S&P 500 naik 0,3%.

Fokus Minggu ini: ISM Non-Manufacturing AS & RBA
Beberapa data makro ekonomi akan kembali hadir mewarnai pergerakan pasar keuangan di minggu ini. Data-data tersebut antara lain; ISM Non-Manufacturing AS, yang diperkirakan mengalami perbaikan di Juni. Data AS lainnya adalah jobless claims, serta PPI. Dari Kanada ada data ketenagakerjaan dan di Inggris construction PMI. Sementara event yang akan hadir adalah rapat bank sentral Australia (RBA).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*