Berita Menarik Pengaruhi Pasar Minggu ini

Dollar yang sempat menguat minggu lalu berkat pelemahan euro, kembali jatuh awal minggu ini setelah the Fed kembali memangkas suku bunganya dalam rapat dadakan hari Minggu. The Fed memangkas suku bunganya mendekati nol persen, dan kembali memulai program pembelian obligasi. Bersama bank sentral lainnya, the Fed berusaha memastikan likuiditas dalam pinjaman dollar untuk membantu ekonomi global yang rapuh akibat meningkatnya penyebaran virus corona. The Fed juga akan memperlebar neracanya setidaknya hingga $700 miliar dalam beberapa minggu mendatang. Di hari minggu dollar jatuh 1,2% atas yen menjadi 106,71, euro menguat 0,7% menjadi $1.1190. Indeks dollar melemah 0,7% menjadi 97,733.

Sterling jatuh ke level terendah lima bulan minggu lalu karena penguatan dollar. Pekan lalu, sterling anjlok lebih dari 5%, penurunan terbesar sejak 5%. Sterling bergerak fluktuatif setelah gabungan stimulus dari pemerintah dan bank sentral Inggris. Minggu lalu, secara mengejutkan Bank of England (BoE) memangkas suku bunganya sebesar 50 bps menjadi 0,25%.

Harga Emas kembali merosot minggu lalu karena banyak investor yang membutuhkan dana cash untuk menutupi kerugian di pasar saham. Di minggu lalu, harga emas anjlok sekitar 9%, penurunan mingguan terbesar dalam sembilan tahun terakhir. Di hari Senin, emas sempat menyentuh level tertinggi tujuh tahun di kisaran $1703,90. Emas juga tertekan setelah adanya stimulus gabungan dari beberapa negara seperti China, Australia, Swedia dan Norwegia untuk meredam kepanikan pasar. Di AS, the Fed mengumumkan suntikan likuiditas sebesar $1,5 trililun. Harga emas berjangka turun 4,6% di Jumat menjadi $1516,17 per ons. Selama sepekan, emas berjangka turun 9,3%, penurunan mingguan terbesar sejak 18 September 2011.

Harga minyak naik sekitar 1% di hari Jumat, namun masih mencatat penurunan sekitar 25% secara mingguan, terburuk sejak krisis keuangan. Minyak terus menerus dibayangi sentimen negatif. Setelah perang harga minyak antara Rusia dan Arab Saudi, sentimen minyak kembali tertekan dengan anjloknya bursa saham global. Beberapa negara menyatakan lockdown karena penyebaran virus corona yang begitu masif, seperti Italia. Sementara AS menyatakan keaadaan darurat bagi negaranya. Meski adanya intervensi dari presiden AS dengan menyuntikan dana sebesar $1,5 triliun, minyak masih mencatatkan penurunan 25%, terburuk sejak krisi keuangan. Harga minyak WTI naik 0,7% di Jumat, menjadi $31,7, namun masih turun 25% selama sepekan. Sementara harga minyak Brent juga turun 25% selama minggu lalu, meski di hari Jumat membukukan penguatan 1,9% menjadi $33,85.

Saham-saham di Asia turun tajam hari ini setelah the Fed memangkas suku bunganya mendekati 0% dalam rapat dadakan hari Minggu. Indeks S$P/ASX 200 turun 4,6% di awal perdagangan hari ini. Sementara itu, mayoritas bursa Asia juga melemah, dengan Nikkei anjlok 1,02%, indeks Kospi juga masuk teritori negatif, melemah 0,54. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang melemah 0,51%.

Fokus Minggu Ini: FOMC Meeting
Penyebaran virus corona yang semakin masif di luar China masih akan menjadi sorotan pasar di minggu ini. Amerika Serikat (AS) menyatakan kondisi darurat atas penyebaran virus tersebut di negaranya. Selain itu, ada beberapa agenda penting yang layak disimak, seperti, RBA minutes, Sentimen Ekonomi Jerman, retail Sales AS, serta FOMC meeting.