Bursa Saham AS Berakhir Turun Dalam Perdagangan Yang Bergejolak

Data Ekonomi AS Mengisyaratkan Kelemahan The FED Atasi Inflasi

Data Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan tingkat pengangguran turun di bulan lalu ke level terendah pra- pandemi sebesar 3,5% karena pertumbuhan pekerjaan moderat. Sementara tingkat penghasilan per jam rata-rata naik 5,5% dari tahun lalu, sedikit lebih lambat dari kenaikan bulan sebelumnya. Data tersebut menggarisbawahi tantangan yang dihadapi The Fed dan bank sentral lainnya saat mereka memerangi kenaikan inflasi dengan penguncian China yang menyebabkan gangguan rantai pasokan yang terus-menerus dan perang di Ukraina yang menekan harga pangan. Diyakini bahwa The Fed akan mengalami kesulitan bahkan tidak mampu dalam melawan inflasi. Sesuatu yang saat ini diluar kendali bank sentral hingga beberapa tahun mendatang. Langkah The Fed untuk memperlambat inflasi dengan pengetatan kebijakan moneter akan membuat volatilitas pasar meningkat di tengah adanya kekhawatiran bahwa terlalu banyak pengetatan juga dapat menyebabkan resesi.

Bursa Saham AS Berakhir Turun Dalam Perdagangan Yang Bergejolak

Perdagangan bergejolak di Wall Street, setelah sempat naik, indek utama turun. Bahkan Nasdaq dan S&P 500 membukukan penurunan minggu kelima berturut-turut, dan Dow Jones keenam. Itu adalah penurunan beruntun terpanjang untuk S&P 500 sejak pertengahan 2011 dan untuk Nasdaq sejak akhir 2012. Indek Dow Jones turun 0,3%, S&P 500 turun 0,57% dan Nasdaq turun 1,4%.

Dolar AS Sempat Tergelincir, Diunggulkan Oleh Pelemahan Euro

Dolar AS tergelincir dimana investor masih meniitik beratkan perhatian mereka pada seberapa agresif Fed akan menaikkan suku bunga. Indek dolar AS mencapai level tertinggi 20 tahun karena dorongan permintaan safe haven, sehari setelah aksi jual saham yang tajam didorong oleh kenaikan suku bunga AS dan karena mata uang Eropa melemah di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan di wilayah tersebut. Indeks dolar naik mencapai 104,07, tertinggi sejak Desember 2002, sebelum tergelincir jatuh kembali ke 103,64, atau 0,09%. Euro juga mendapat dorongan oleh komentar yang relatif hawkish dari pejabat ECB. Euro terakhir berada di $1,0547, naik 0,08% hari ini, setelah sebelumnya jatuh ke $1,04830. Itu bertahan tepat di atas level terendah lima tahun di $ 1,0470 yang dicapai pada 28 April. Poundsterling jatuh ke level terendah sejak Juni 2020, sehari setelah Bank of England menaikkan suku bunga ke level tertinggi sejak 2009 tetapi memperingatkan ekonomi berisiko resesi. Sterling turun 0,20% pada
$1,2331, setelah jatuh ke $1,2276.

Pelemahan Dolar AS Untungkan Emas, Kinerja Mingguan Tetap Turun

Emas naik karena dolar yang lebih lemah tetapi prospek kenaikan suku bunga agresif dari The Fed menyebabkan emas mencatat penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Harga emas berjangka AS menetap 0,4% lebih tinggi pada
$1,882.80 per ounce.

Harga Minyak Naik, Abaikan kekhawatiran Tentang Inflasi Global

Harga minyak naik untuk sesi ketiga berturut-turut, mengabaikan kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global karena sanksi Uni Eropa yang akan datang terhadap minyak Rusia meningkatkan prospek pasokan yang lebih ketat. Harga minyak mentah berjangka AS naik $ 1,51 menjadi menetap di $ 109,77 per barel dan Brent ditutup naik $ 1,49 pada $ 112,39.

Fokus Pasar Hari Ini :

Mengawali perdagangan minggu ini, bbisa dikatakan sepi dengan data. Pasar akan bergerak dalam kisaran. Namun demikian, pernyataan dari sejumlah eksekutif bank sentral perlu mendapat perhatian guna memastikan bagaimana arah gerak kebijakan moneternya. Pernyataan dari salah satu pembuat kebijakan Bank of England, akan memberikan gambaran bagaimana bank sentral ini dalam melakukan pengetatan dimasa depan. Sementara itu, lockdown di China mengganggu operasi pelabuhan Shanghai dan menghentikan aktivitas di kota-kota besar, memengaruhi rantai pasokan bisnis dari Tesla Inc. hingga Apple Inc. Data perdagangan pada hari ini akan memberikan petunjuk sejauh mana kerusakan. Pertumbuhan ekspor China kemungkinan melambat ke laju terlemahnya sejak Juni 2020, sementara impor mungkin berkontraksi untuk bulan kedua, tanda belanja konsumen yang lemah karena jutaan penduduk di Shanghai dan di tempat lain terkurung di rumah mereka. Sebagai produsen dunia, gangguan di China membebani global. (LH)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*