Bursa Saham Global Menguat Setelah Data Retail AS, Pelonggaran Lockdown China

Dolar AS Semakin Menjauh dari Tertinggi 20 Tahun Karena Meningkatnya Risk-On

Indeks Dolar Amerika Serikat (AS) jatuh untuk hari ketiga berturut-turut pada hari Selasa, mundur dari tertinggi dua dekade atas mata uang utama lainnnya, karena meningkatnya selera investor atas aset berisiko telah mengurangi daya tarik mata uang AS sebagai safe haven. Indeks dolar AS, yang mengukur bobot dolar atas enam mata uang utama lainnya, turun 0,7% menjadi 103,41, terendah sejak 6 Mei. Indeks mencapai tertinggi dua dekade pekan lalu didukung oleh Federal Reserve yang hawkish dan kekhawatiran atas ekonomi global dampak dari konflik Rusia-Ukraina. Namun, indeks dolar memangkas kerugian setelah ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pada acara Wall Street Journal pada hari Selasa, bahwa The Fed akan “terus mendorong” untuk memperketat kebijakan moneter AS sampai inflasi jelas menurun.

Euro Lanjutkan Rebound Setelah Komentar Hawkish Para Pejabat ECB

Euro naik 1% pada $ 1,0535 setelah pejabat ECB Francois Villeroy de Galhau mengatakan pada hari Senin bahwa euro yang lemah dapat mengancam stabilitas harga di blok mata uang. Komentar hawkish lainnya juga terlontar dari dari kepala bank sentral Belanda Klaas Knot, yang mengatakan bahwa Bank Sentral Eropa tidak hanya akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Juli, tetapi juga siap untuk mempertimbangkan kenaikan yang lebih besar jika inflasi terbukti lebih tinggi dari yang diharapkan.

Emas Melemah Setelah Data Retail Sales AS Yang Kuat

Harga emas turun pada hari Selasa tertekan oleh data penjualan ritel AS yang kuat dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang agresif, meski penurunannya dibatasi oleh koreksi dolar AS. Spot emas turun 0,5% menjadi $1,815,19 per ons, sementara emas berjangka AS ditutup naik 0,3% pada $1,818,9

Minyak Koreksi Karena Harapan Tambahan Pasokan dari Venezuela, Komentar Powell

Setelah naik ke level tertinggi tujuh minggu, harga minyak anjlok 2% pada hari Selasa setelah Reuters melaporkan bahwa AS dapat mengurangi beberapa pembatasan pada pemerintah Venezuela, meningkatkan harapan bahwa pasar dapat melihat beberapa tambahan pasokan. Minyak Brent turun 2% menjadi di US$111,93 per barel dan WTI turun 1,6% menjadi di US$112,40 per barel. Reuters melaporkan, mengutip sumber bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden akan memberi wewenang kepada perusahaan minyak AS Chevron Corp untuk berunding dengan pemerintah Presiden Venezuela Nicolas Maduro segera setelah Selasa. Belum ada keputusan final AS untuk memperbarui lisensi terbatas Chevron saat ini untuk beroperasi di Venezuela, kata sumber itu. Harga juga turun setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell memperingatkan ekonomi bisa dirugikan oleh upaya untuk mengurangi inflasi. Bank sentral AS akan “terus mendorong” untuk memperketat kebijakan moneter AS sampai jelas bahwa inflasi menurun.

Bursa Saham Global Menguat Setelah Data Retail AS, Pelonggaran Lockdown China

Pasar ekuitas global reli dan imbal hasil Treasury naik pada hari Selasa, setelah penjualan ritel AS yang solid pada bulan April menunjukkan pertumbuhan ekonomi mungkin menguat, bersamaan pula dengan dilonggarkannya lockdown di China. Penjualan ritel AS naik 0,9% bulan lalu sementara data untuk Maret direvisi lebih tinggi menjadi 1,4% daripada 0,7% seperti yang dilaporkan sebelumnya.

Fokus Hari Ini : PDB Jepang, Inflasi Zona Euro & Kanada

Jepang telah merilis data PDB di kuartal 1-2020, yang terkontraksi sebesar 1% (tahunan), lebih baik dari perkiraan kontraksi 1,8%. Di Eropa ada data inflasi zona euro, yang diperkirakan naik 3,5% di bulan April. Kanada juga akan merilis data inflasi, yang diperkirakan melandai menjadi 0,5% di April, dibanding bulan Maret, yang sebesar 1,4%. Sementara untuk tahunan diperkirakan tetap di angka 6,7%.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*