Covid-19 kembali mempengaruhi Dollar AS

Dollar melemah kemarin atas mata uang utama dunia lainnya seperti euro, franc Swiss, dan sterling, terbebani oleh kebuntuan di Kongres tentang tambahan stimulus AS untuk membantu mengatasi pandemi virus corona. Dollar sempat rebound dari level terendah dua tahunnya, yang diraih akhir Juli lalu. Namun investor masih terfokus pada perundingan paket stimulus yang mengalami kebuntuan minggu lalu. Pada hari Rabu, presiden AS Donald Trump menuduh Partai Demokrat tidak ingin berunding mengenai paket bantuan virus corona AS ketika negosiator Rebpublik dan Demokrat saling menyalahkan atas penundaan lima hari dalam pembicaraan mengenai undang-undang bantuan. Dollar juga gagal terangkat meski data jobless claims AS dirilis lebih baik dari perkiraan. Data semalam menunjukkan jobless claims AS turun 963 ribu minggu lalu, jauh lebih baik dari perkiraan penurunan 1,12 juta

Dollar New Zealand (kiwi) melemah setelah rapat RBNZ yang tetap mempertahankan suku bunga di 0,25%. Namun, prospek kebijakan RBNZ yang dovish membebani kinerja kiwi. Deputi Gubernur RBNZ Geoff Bascand mengatakan dengan munculnya kembali infeksi virus korona merupakan risiko besar bagi prospek pertumbuhan. Untuk itu, dia mempertimbangkan terus berbuat lebih banyak dalam hal stimulus moneter.

Emas menguat sekitar 2% kemarin, rebound dari level terendah hampir tiga pekan karena pelemahan dollar dan pemulihan yang lambat pada sektor tenaga kerja AS menunjukkan dampak dari pandemi Covid-19. Data jobless claims AS memang turun, namun setidaknya ada 28 juta orang masih menerima cek pengangguran, menunjukkan pasar tenaga kerja masih lemah. Harga emas spot naik 1,9% menjadi $1954,37 per ons.

Harga minyak melemah kemarin setelah International Energy Agency (IEA) menurunkan perkiraan permintaan minyak global tahun ini pada laporan bulanannya. Meski begitu, solidnya data ketenagakerjaan AS, di mana bawah jobless claims turun di bawah 1 juta masih mendukung harga. Data tersebut tersebut menegaskan bahwa pemulihan di AS masih berjalan, eski ada berbagai perlambatan dalam beberapa minggu terakhir. Harga minyak menyentuh level tertinggi 5 bulan pada hari Rabu setelah data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan adanya penurunan yang besar pada cadangan minyak AS. Sementara itu, IEA memperkirakan bahwa permintaan minyak tanah akan turun 3,1 juta bph tahun ini menjadi rata-rata 4,8 juta bph, lebih sedikit dari perkiraan sebelumnya. Sedangkan permintaan bensin dan diesel diperkirakan akan pulih kuat. Secara keseluruhan, IEA memangkas estimasi permintaan untuk dua kuartal terakhir tahun ini sebesar 500.000 barel per hari, memproyeksikan konsumsi rata-rata 95,25 juta bph hingga akhir tahun.

Saham-saham Asia bergerak mendatar hari ini, terbebani oleh penurunan Wall Street dan tengah menanti data ekonomi China yang dirilis hari ini. Indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 0,05%, sementara di Jepang indeks Nikkei naik 0,06%. Indeks Future Hang Seng juga turun 0,13%. Di Wall Street, indeks S&P 500 semalam turun tipis setelah sempat diperdagangkan dekat level tertinggi.

Fokus Hari ini: PDB Zona Euro, Retail Sales & Sentimen Konsumen AS
Mengakhiri perdagangan minggu ini, investor masih akan disibukkan oleh beberapa data ekonomi penting. Di Asia, China akan merilis data industrial production, retail sales dan tingkat pengangguran. Sementara dari Eropa, ada data trade balance dan PDB zona euro. Terakhir, AS akan merilis data retail sales dan sentimen konsumen versi Univesitas Michigan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*