Daily Bulletin

Dollar turun ke level terendah 20 minggu atas yen Jumat lalu setelah ketua the Fed Jerome Powell mengindikasikan pemangkasan suku bunga untuk mengatasi dampak virus corona. Dalam pernyataannya Jumat lalu, The Fed mengatakan akan bertindak sesuai untuk mendukung ekonomi dalam menghadapi risiko yang ditimbulkan oleh virus corona, meski dia mengatakan ekonomi masih dalam kondisi solid. Yen Jepang mencatat penguatan harian terbesar sejak 2017 karena investor melarikan dananya ke mata uang safe haven. Yen sempat menguat ke level 107,50 atas dollar dan ditutup pada 107,92. Indeks dollar, melemah sekitar 1% minggu lalu, berakhir di kisaran 98,127.

Dollar menguat atas mata uang yang mempunyai imbal hasil yang tinggi, namun melemah atas mata uang safe haven dan euro. Minggu lalu, dollar mencatat level tertinggi 10 tahun atas ausie dan menyentuh 1.6000 atas kiwi untuk pertama kalinya sejak Oktober. Namun, terhadap euro, dollar melemah setelah data yang menunjukkan kepercayaan bisnis Jerman meningkat di bulan Februari.

Harga emas sempat naik ke level tertinggi tujuh tahun minggu lalu, namun kemudian terkoreksi hingga turun ke bawah $1600. Selama sepekan, harga emas berjangka turun 3,7% dan ditutup pada kisaran $1587 per ons. Sementara harga emas spot turun 3,5% pada kisaran $1586,16. Awalnya, harga emas sempat naik ke level tertinggi tujuh tahun mendekati level $1700. Harga jatuh karena aksi profit taking dan setelah fund manager melepas asset emasnya untuk mengcover posisi rugi mereka di saham. Alasan lainnya adalah margin call yang lebih tinggi, yang berarti trader membutuhkan uang tunai untuk tetap mempertahankan posisinya atau melepas posisi. Namun, analis masih melihat bahwa harga emas masih bisa ke area $1600.

Harga minyak mencatat pelemahan mingguan terburuk sejak resesi 2008, dengan mencatat penurunan sebesar 16% pekan lalu untuk jenis WTI. Pada hari Jumat, harga minyak anjlok 5% dan ditutup pada kisaran $44,76 per barel. Sementara harga minyak jenis Brent melemah 15% selama sepekan dan ditutup di level $48,95. Harga minyak anjlok berbarengan dengan tumbangnya bursa saham global, dengan indeks S&P 500 AS merosot 13% pekan lalu, penurunan terburuk sejak Oktober 2008. Anjloknya harga minyak dan saham tersebut dikarenakan kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus corona di luar China. Penyebaran virus corona dikhawatirkan bisa memukul perekonomian global, serta berkurangnya permintaan minyak. Moody’s Analiics memperkirakan bahwa ekonomi AS akan tumbuh 1,3% di kuartal pertama, turun 0,6%. Sementara pertumbuhan untuk tahun 2020 penuh berada di 1,7%, turun 0,2%.

Indeks saham berjangka anjlok di awal perdagangan hari ini menyusul data ekonomi China yang mengecewakan di akhir pekan. Data tersebut menunjukkan aktifitas manufaktur di China mengalami kontraksi yang dalam, meningkatkan kekhawatiran resesi global akibat dampak dari coronavirus. Sebanyak $5 triliun telah menguap dari pasar minggu lalu karena kekhawatiran wabah virus corona.

Fokus Minggu Ini:
Pasar kemungkinan akan kembali mengalami volatilitas di minggu ini menyusul maraknya data serta event penting yang akan terjadi. Serangkaian data-data ekonomi penting AS yang akan hadir diantaranya; ISM manufacturing, serta data ketenagakerjaan AS. Fokus lainnya adalah kampanye bakal calon presiden dari partai Demokrat AS. Event lainnya yang tak kalah penting adalah OPEC dan BoC meeting.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*