Di tahun ini, emas Comex sudah naik 24%, dan emas Spot naik lebih dari 25%

Dollar melemah minggu lalu di tengah keraguan pasar atas proses pemulihan ekonomi AS karena negara dengan ekonomi terbesar dunia tersebut sedang berjuang untuk meredam jumlah kasus virus corona. Indeks dollar ditutup pada kisaran 94,627, melewati level terendah bulan Maret di 94,65. The greenback juga mencatat pelemahan mingguan terburuk dalam satu bulan terakhir. Amerika Serikat (AS) melaporkan kenaikan pertama pada data jobless claims sejak Maret di angka 1.416 ribu. Hal ini terjadi ketika beberapa negara bagian AS membatalkan untuk membuka kembali ekonominya. Jumlah kasus virus corona di AS terus meningkat, dimana pada hari Kamis sudah mencapai lebih dari 4 juta orang. Dollar juga melemah karena ketidakpastian mengenai paket penyelamatan fiskal yang mengalami kebuntuan di DPR AS, sementara tenggat waktu untuk paket stimulus tunjangan pengangguran akan berakhir

Euro bertahan di atas 1.160 minggu lalu, yang merupakan level tertinggi akhir tahun 2018. Penguatan euro didorong setelah Uni Eropa menyepakati paket dana bantuan pandemi senilai 750 miliar euro. Kesepakatan tersebut sekaligus mengurangi kekhawatiran risiko politik jangka pendek. Selama sepekan, pair EUR/USD berhasil membukukan penguatan 2%, ditutup di kisaran 1.1655.

Harga emas minggu lalu bertahan di atas level psikologi $1900 untuk pertama kalinya sejak 2011. Penguatan emas didorong oleh faktor safe haven di tengah merebaknya jumlah kasus virus corona, yang memaksa bank sentral AS menggontorkan trilunan dollar. Memanasnya hubungan AS-China menyusul pengusiran konsulat China di Houston semakin mengangkat harga. Selama sepakan, harga emas spot naik 5% dan emas berjangka menguat 4,8%. Di tahun ini, emas Comex sudah naik 24%, dan emas Spot naik lebih dari 25%.

Harga minyak ditutup bervariasi pada hari Jumat karena sinyal yang bertentangan pada ekonomi, pandemi Covid-19 dan anjloknya saham-saham sektor teknologi di Wall Street, menambah ketidakpastian investor. Di hari Rabu, harga minyak jenis sempat mencapai menyentuh $42,40, tertinggi sejak bulan Maret, sementara minyak Brent naik ke level tertinggi emapt bulan di $44,88, menjaga target bullish minimum di $45 per barel, bagi ke dua jenis minyak tersebut dalam waktu dekat. Minyak telah reli dalam tiga bulan terakhir, naik dari minus $40, menjadi positif $40. Reli tersebut terjadi seiring dengan prospek pulihnya permintaan sejak adanya relaksasi lockdown di bulan Mei. Meski begitu, ancaman lockdown kembali mencuat seiring dengan kekhawatiran gelombang kedua penyebaran virus. Selama sepekan, harga minyak jenis WTI turun 0,5%, sementara jenis Brent justru mampu mencatat penguatan sekitar 0,5%.

Indeks saham berjangka AS turun dan bursa saham Asia melemah pada pembukaan pasar Asia hari ini, dipicu oleh ketegangan politik antara AS-China setelah kasus penutupan konsulat jendral China di Houston. Indeks berjangka S&P 500 turun 0,2%, sementara indeks Nasdaq melemah 0,3%. Di Asia, indeks Nikkei anjlok 1,3%, setelah dibuka kembali pasca liburan. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang flat.

Fokus Minggu ini: FOMC Meeting
Fokus pasar minggu ini tertuju pada rapat FOMC, yang akan memberi petunjuk mengenai arah kebijakan. The Fed diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga di 0,25%. Bank sentral tersebut kemungkinan masih akan menyampaikan nada dovish di tengah upaya menyelematkan ekonomi akibat pandemi. Sementara data yang layak disimak antara lain; PDB Jerman, AS dan Kanda, serta Manufacturing PMI China.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*