Dolar AS Catatkan Penguatan Mingguan Terbaik Dalam 6 Minggu Setelah Data CPI

dollar

Sterling Jatuh ke Bawah 1,24 Karena Suramnya Prospek Ekonomi Inggris, Data CPI AS

Sterling turun lebih dari 1% pada hari Jumat dan turun dalam dua minggu beruntun atas dolar AS karena prospek ekonomi Inggris yang suram, sementara data inflasi AS yang kuat mendorong greenback. Pound jatuh di bawah $1,24 setelah data menunjukkan bahwa CPI AS naik di Mei, menunjukkan bahwa The Fed dapat melanjutkan dengan kenaikan suku bunga 50 bps hingga September untuk memerangi inflasi.

Dolar AS Catatkan Penguatan Mingguan Terbaik Dalam 6 Minggu Setelah Data CPI

Dolar AS naik ke level tertinggi hampir empat minggu atas mata uang utama lainnya pada hari Jumat, setelah data menunjukkan harga konsumen AS naik di bulan Mei, memperkuat ekspektasi Federal Reserve mungkin harus melanjutkan kenaikan suku bunga hingga September untuk memerangi inflasi. Dalam 12 bulan hingga Mei, CPI meningkat 8,6% setelah naik 8,3% di April. Para ekonom berharap bahwa tingkat CPI tahunan mencapai puncaknya pada bulan April. Data inflasi dirilis menjelang rapat kebijakan The Fed Rabu depan, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunganya sebesar 50 bps. Bank sentral AS tersebut juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga dengan tambahan setengah poin persentase pada bulan Juli. The Fed telah menaikkan suku bunga acuannya sebesar 75 basis poin sejak Maret. Indeks Dolar AS, naik 0,8% pada 104,16, tertinggi sejak 17 Mei, dan mendekati 105,01, tertinggi dua dekade yang disentuh pada pertengahan Mei. Selama sepekan, indeks naik hampir 2%, kinerja mingguan terbaiknya dalam 6 minggu.

Emas Pulih di Tengah Kekhawatiran Resesi

Harga emas pulih dari kerugian awal untuk diperdagangkan pada $1.874 per ons pada hari Jumat, level tertinggi dalam empat minggu, karena kekhawatiran resesi mampu mengimbangi hambatan dari penguatan dolar dan naiknya imbal hasil Treasury AS.

Minyak Turun Setelah Data CPI AS, Menguat Dalam Sepekan

Harga minyak turun pada hari Jumat setelah harga konsumen AS naik melebihi perkiraan dan China memberlakukan tindakan penguncian COVID-19 yang baru. Minyak mentah Brent turun $1,06 menjadi $122,01 per barel, sementara WTI AS turun 84 sen menjadi $120,67 per barel. Meski begitu, kedua tolok ukur minyak tersebut masih membukukan kenaikan mingguan, 1,9% untuk Brent dan 1,5% untuk WTI. Di Jumat, harga minyak merosot bersama dengan saham Wall Street setelah berita bahwa harga konsumen AS meningkat di bulan Mei. Harga bensin telah mencapai rekor tertinggi dan bahan makanan melonjak, menyebabkan kenaikan tahunan terbesar dalam sekitar 40 tahun. Hal itu meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan memperketat kebijakan lebih agresif. Sentimen negatif buat permintaan, Shanghai dan Beijing kembali waspada COVID pada hari Kamis. Beberapa bagian Shanghai memberlakukan pembatasan penguncian baru. Namun, Impor minyak mentah China di Mei naik hampir 12% dari tahun sebelumnya.

Wall Street Merosot Setelah Data Inflasi AS

Ketiga indeks saham utama AS ditutup melemah tajam pada hari Jumat, memperpanjang kerugian untuk sesi ketiga berturut-turut setelah data inflasi yang lebih panas dari perkiraan memberikan dukungan untuk taruhan bahwa Federal Reserve akan terus menaikkan suku secara agresif.

Fokus Minggu Ini : PPI & Retail Sales AS, The Fed, BoE, SNB & BoJ Meeting

Minggu ini akan dirilis data-data penting ekonomi di berbagai negara, serta event bank Sental. Di AS, ada data PPI, retail sales, serta pidato ketua The Fed Jerome Powell. Selain itu, beberapa bank sentral juga akan menggelar rapat regularnya, yaitu; BoE, BoJ, SNB, serta The Fed. Fokus utama akan tertuju pada FOMC meeting, di mana The Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 50 bps.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*