Dolar AS Jatuh Karena Meningkatnya Sentimen Risk Appetite

Dolar Amerika Serikat (AS) jatuh kemarin, karena minat terhadap aset berisiko masih bertahan di tengah optimisme tentang paket stimulus besar-besaran di bawah pemerintahan baru Joe Biden yang kemungkinan akan meningkatkan pemulihan ekonomi AS. Greenback melemah terhadap yen, serta mata uang terkait dengan harga komoditas seperti dolar Australia, Kanada, Selandia Baru, dan crown Norwegia. Dolar AS turun ke level terendah tiga tahun versus mata uang Kanada dan sterling, dan mencapai level terendah dua minggu terhadap yen. Biden dilantik sebagai presiden ke-46 Amerika Serikat pada hari Rabu, bersumpah untuk mengakhiri “perang tidak beradab” di negara yang terpecah belah, yang terguncang oleh ekonomi dan pandemi virus korona yang mengamuk, yang telah menewaskan lebih dari 400.000 orang Amerika. Pemerintah baru diperkirakan akan meloloskan rencana stimulus fiskal AS hampir $ 2 triliun melalui Kongres.
Loonie Menguat Setelah BoC Meeting
Dolar Kanada (loonie) naik mendekati level tertinggi tiga tahun atas greeback setelah BoC tetap mempertahankan suku bunga di 0,25% dan mengesampaingkan suku bunga negatif. Sebelumnya pasar sempat melihat adanya peluang pemangkasan di bawah 0,25%. Dengan kedatangan vaksin COVID-19 dan permintaan asing yang lebih kuat, prospek ekonomi Kanada menjadi cerah di masa mendatang.
Emas Menguat Berkat Prospek Stimulus Tambahan
Emas naik lebih dari 1% pada hari Rabu di tengah harapan bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden akan meningkatkan langkah-langkah stimulus untuk menghadapi ekonomi dampak pandemi virus korona. Harga emas spot emas naik 1,6% menjadi $ 1,868.00. Biden dilantik pada hari Rabu, dengan investor berfokus pada proposal paket stimulus $ 1.9 triliun dan kecepatan distribusi vaksin COVID-19.
Minyak Menguat Berkat Harapan Stimulus, Biden
Minyak menguat pada hari Rabu di tengah ekspektasi bahwa pemerintahan Presiden AS Joe Biden akan memberikan stimulus ekonomi yang kuat terkait pandemi, yang akan mengangkat permintaan bahan bakar, serta memberlakukan kebijakan yang akan memperketat pasokan minyak mentah. Biden, yang baru saja dilantik akan segera mengambil tindakan untuk mengekang industri minyak AS, termasuk rencana untuk memasukkan kembali kesepakatan iklim Paris, membatalkan izin untuk pipa minyak mentah Keystone XL dan menghentikan pengeboran yang direncanakan di Arktik. Namun, harga kembali berbalik turun setelah penutupan perdagangan menyusul data dari American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan cadangan minyak mentah AS secara tak terduga naik pekan lalu, membengkak 2,6 juta barel menjadi sekitar 487,1 juta barel. Investor kini menanti data cadangan minyak dari EIA yang akan dirilis Jumat.

Wall Street Kembali Rekor, Saham Asia Diperkirakan Menguat
Saham-saham Asia diperkirakan menguat hari ini setelah Wall Street ditutup pada rekor tertinggi di tengah harapan bahwa Presiden AS yang baru dilantik, Joe Biden, akan menerapkan stimulus ekonomi besar- besaran untuk mengimbangi kerusakan yang ditimbulkan oleh pandemi COVID-19. Di Wall Street, indeks Dow Jones menguat 0,83%, indeks S&P 500 naik 1,39% ke 3.851,85 dan Nasdaq Composite menanjak 1,97%.

Fokus Hari ini : BoJ & ECB Meeting, Data AS
BoJ dan ECB akan menggelar rapatnya hari ini. Kedua bank tersebut diperkirakan tidak akan mengubah kebijakannya. Khusus untuk ECB, kemungkinan akan mengulang pernyataan yang disampaikan pada ECB minutes minggu lalu, yang mengkhawatirkan rendahnya inflasi dan penguatan mata uang. pasar juga akan fokus pada data-data ekonomi AS, seperti Philly Fed manufacturing index dan jobless claims.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*