Dolar AS Lanjutkan Rebound Berkat Kenaikan Yield Obligasi

Dolar Amerika Serikat (AS) melanjutkan penguatan pada hari Senin setelah kenaikan imbal hasil (yield) Treasury dan prospek pertumbuhan dari stimulus fiskal AS. Presiden terpilih AS dari Partai Demokrat Joe Biden menjanjikan “triliunan” anggaran tambahan untuk bantuan pandemi. Biasanya, rencana stimulus tambahan mendorong investor khawatir mengenai kenaikan inflasi dan efek merugikannya pada dolar AS di saat ekonomi yang lemah. Namun, dolar telah didukung dalam beberapa pekan terakhir berkat kenaikan imbal hasil obligasi AS, yang naik ke ke level tertinggi 10-bulan pada hari Senin. Selain kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan dollar juga karena adanya sentimen risk-off menyusul meningkatnya ketidakpastian tentang perkembangan politik di AS. Indeks dolar menguat 0,2%, penguatan berturut-turut dalam empat hari, setelah mata uang tersebut jatuh ke level terendah 3 tahun di 89,21 minggu lalu.
Loonie Jatuh ke Level Terendah 2 Minggu
Dolar Kanada (loonie) jatuh mendekati level terendah dua minggu atas dolar AS karena penguatan greenback, namun survei dari Bank of Canada yang menunjukkan membaiknya sentimen bisnis telah mengurangi penurunannya. Loonie melemah 0,7% menjadi 1,2773. Mata uang tersebut sempat menyentuh level intraday terlemah sejak 29 Desember di 1,2835.
Emas Tertekan Oleh Penguatan Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil Obligasi AS
Harga emas melemah pada hari Senin karena penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury AS di tengah harapan lebih banyak stimulus fiskal. Harga emas spot turun 0,1% menjadi $ 1,846.61 per ounce, setelah menyentuh level terendah sejak 2 Desember di $ 1.816.53.Sedangkan emas berjangka AS naik 0,8% menjadi $1850,80.
Minyak Koreksi Karena Kekhawatiran Lonjakan Virus Corona
Harga minyak koreksi kemarin menyusul lockdown virus korona di seluruh dunia, meningkatkan kembali kekhawatiran mengenai permintaan bahan bakar global. Di sisi lain, penguatan dolar AS turut membebani harga. Menurut data dari Reuters, kasus virus korona di seluruh dunia saat ini sudah melampaui 90 juta. Meski sudah menjalankan lockdown ketat, Inggris saat ini tengah menghadapi minggu-minggu terburuk pandemi, sementara di Jerman kasus-kasus masih meningkat.Di Asia, China mengalami peningkatan harian terbesar dalam infeksi virus dalam lebih dari lima bulan. Sementara itu, harga minyak biasanya dihargai dalam dolar, jadi penguatan dolar membuat mentah lebih mahal bagi pembeli dengan non dolar. Harga minyak WTI turun sekitar 0,8% di $51,84, sementara Brent turun 1,11% di $55,37. Minggu lalu harga minyak naik tajam 8% setelah Arab Saudi akan memangkas produksi minyaknya sebesar 1 juta bph.

Wall Street Koreksi Karena Aksi Profit Taking
Setelah mencetak rekor minggu lalu berkat optimisme vaksin dan stimulus tambahan, bursa Wall Street terkoreksi karena aksi profit taking. Indeks Nasdaq Composite merosot 1,04%, indeks S&P 500 turun 0,72%, sementara Dow Jones melemah 0,40% ke 30.973. Investor memperkirakan aktivitas bisnis akan rebound pada tahun 2021. Harapan ini dipicu oleh peluncuran vaksin Covid-19 dan tambahan stimulus fiskal AS.

Fokus Hari ini : Pidato Broadbent dan Brainard
Eforia stimulus fiskal dari pemerintah AS, serta program vaksinasi global, sepertinya mulai meredup. Hal ini terlihat dari koreksi bursa saham AS semalam. Meski begitu, tidak menutup kemungkinan eforia tersebut kembali hadir di pasar di tengah minimnya data ekonomi yang dirils hari ini. Beberapa pejabat bank sentral akan menyampaikan pidatonya hari ini, seperi Ben Broadbent (BoE) dan Lael Brainard (the Fed).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*