Dolar AS Menguat Berkat Safe Haven

Dolar menguat atas mata uang utama dunia lainnya karena aksi risk aversion. Kekhawatiran atas waktu dan ukuran stimulus fiskal tambahan AS, sempat membuat indeks saham utama AS secara jatuh lebih dari 1%, sebelum kembali pulih. Pergerakan yang sangat cepat tersebut telah menyurutkan minat risk appetite. Sentimen pasar berubah menjadi rentan pada akhir pekan lalu karena data ekonomi Eropa menunjukkan bahwa pembatasan lockdown untuk membatasi penyebaran virus korona telah mengganggu aktivitas bisnis. Investor saat ini mencoba mencari petunjuk apakah pemerintahan Presiden AS Joe Biden dapat mencegah kekhawatiran Partai Republik bahwa proposal bantuan pandemi senilai $ 1,9 triliun itu terlalu mahal. Namun, terlepas dari rebound dolar baru-baru ini, analis memperkirakan penurunan dolar tahun ini masih berlanjut. Posisi speculative short bersih pada dolar naik ke level tertinggi dalam 10 tahun minggu lalu.
Euro Turun Setelah IFO Jerman
Euro turun sekitar 0,28% terhadap dolar pada hari Senin setelah . Sentimen bisnis Jerman merosot ke level terendah enam bulan pada Januari karena gelombang kedua COVID-19 menghentikan pemulihan di ekonomi terbesar Eropa, yang akan stagnan pada kuartal pertama, lembaga ekonomi Ifo mengatakan pada hari Senin. IFO Jerman turun 90,1 di Januari dari 92,2 di bulan sebelumnya, di bawah perkiraan 91,5.
Prospek Stimulus Masih Dukung Emas
Harga Kenaikan emas terkikis kemarin setelah dolar AS menguat, 0,2%, tetapi ekspektasi stimulus fiskal AS masih mendukung logam mulia tersebut menjelang FOMC minggu ini. Harga emas spot naik 0,1% menjadi $ 1,854.81, setelah sempat naik 0,8%. Sementara emas berjangka AS turun 0,1% menjadi $1855. Penguatan menjadikan harga membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang non-dolar.
Minyak Menguat Berkat Optimisme Stimulus
Harga minyak menguat sekitar 1% pada akhir perdagangan Senin. Optimisme seputar rencana stimulus AS dan beberapa kekhawatiran pasokan di masa depan berhasil mendorong harga. Penguatan minyak muncul setelah pejabat dalam pemerintahan Presiden AS Joe Biden pada pertemuan dengan anggota parlemen dari partai Republik dan Demokrat mencoba untuk mencegah kekhawatiran Partai Republik bahwa proposal bantuan pandemi senilai US$ 1,9 triliun itu terlalu mahal. Namun, penguatan harga minyak masih dibatasi oleh kekhawatiran permintaan yang didorong oleh penguncian akibat lonjakan virus corona. Di sisi pasokan, kepatuhan OPEC+ dengan pembatasan produksi minyak yang dijanjikan, sejauh ini rata-rata 85% pada Januari. Data menunjukkan bahwa kelompok tersebut telah meningkatkan kepatuhannya pada pembatasan pasokan yang dijanjikan. Minyak Brent naik 0,9% menjadi $55,88, sementara WTI naik 1% menjadi $52,77.

Wall Street Variatif, Dow Jones Melemah
Wall Street bergerak variatif pada perdagangan Senin, dengan dua dari tiga indeks utama masih ditutup menguat meski ada kekhawatiran atas stimulus fiskal yang mengurangi optimisme pasar pada awal pekan laporan pendapatan dari perusahaan mega-cap. Indeks Dow Jones melemah 0,12%, indeks S&P 500 menguat 0,36% dan indeks Nasdaq naik 0,69%.

Fokus Hari ini : Data Ketenagakerjaan Inggris & Consumer Confidence AS
Hari ini Inggris akan merilis data ketenagakerjaan, di mana tingkat pengangguran diperkirakan naik menjadi 5,1% selama di bulan November. Sementara pertumbuhan upah yang telah meningkat selama empat bulan berturut-turut, setelah tumbuh 2,7% di bulan November. Kenaikan diperkirakan akan berlanjut, dengan perkiraan 3,0%. Sementara dari AS, ada data consumer confidence.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*