Dolar AS Menguat Berkat Solidnya Data-data Ekonomi AS

Dolar AS menguat pada Rabu berkat data ekonomi AS yang optimis dan tanda-tanda kenaikan inflasi, membantu greenback menguat atas mata uang utama dunia lainnya. Data penjualan ritel, output industri, dan harga produsen (PPI) AS memberikan kejutan yang kuat, menandakan pemulihan ekonomi dari resesi pandemi mendapatkan momentum saat penerapan vaksin berlangsung. Data-data tersbut dirilis melebihi angka ekspektasi. Sementara itu, The Fed merilis risalah dari pertemuan kebijakan moneter 26-27 Januari, di mana para peserta menyatakan kebutuhan untuk “tetap waspada” di tengah tanda-tanda rebound ekonomi baru-baru ini, membahas target inflasi jangka pendek yang diharapkan, dan menegaskan komitmennya untuk menjaga kebijakan akomodatif untuk mendukung sektor tenaga kerja yang sedang terpukul. Tidak ada sesuatu yang baru dalam minutes tersebut. Indeks dolar AS menguat 0,25% menjadi 90,933.
Loonie Melemah Setelah Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak, Data AS
Dolar Kanada melemah atas greenback pada hari Rabu, karena kenaikan imbal hasil obligasi AS, yang mengangkat dolar AS secara umum dan setelah data inflasi Kanada bertahan jauh di bawah Target 2% Bank of Canada. Loonie melemah 0,1% menjadi 1,2698 dolar AS. Naiknya imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi satu tahun telah meningkatkan pamor greenback, ditambah dengan solidnya data-data ekonomi AS .
Emas Lanjutkan Penurunannya Karena Penguatan Dolar AS
Emas memperpanjang penurunannya pada hari Rabu, turun ke level terendah di lebih dari dua bulan karena taruhan untuk pemulihan ekonomi mendorong dolar dan benchmark imbal hasil obligasi AS. Harga spot emas turun 1,2% menjadi $ 1,773.72 per ons, setelah sempat menyentuh mencapai level terendah sejak 30 November di $1.768,60. Sementara emas berjangka AS turun 1,5% menjadi $ 1.772,80.
Harga Minyak Menguat Karena Suhu Dingin di Texas
Harga minyak naik lebih 1% pada hari Rabu, karena suhu dingin di Texas telah menutup produksi di seluruh negara bagian penghasil minyak mentah terbesar AS. Harga minyak mentah Brent ditutup pada level $64,34 atau naik 1,6%, sementara WTI di $61,14 per barel, naik 1,8%. Cuaca dingin bersejarah sejak akhir pekan di Texas, yang memasok sebagian besar minyak mentah AS dan merupakan bagian dari pusat penyulingan utama AS, telah mendorong harga lebih tinggi. Suhu dingin di AS tersebut telah menutup produksi sekitar 1 juta barel per hari (bph) dan diperkirakan akan mengganggu produksi selama beberapa hari, bahkan bisa berminggu-minggu, menurut pakar industri, karena pusat sumur telah membeku dan jaringan pipa telah tertutup. Setidaknya seperlima dari produksi penyulingan AS telah dihentikan, yang menghambat permintaan minyak, di saat yang sama produksi turun.

Wall Street Variatif, Aksi Jual Saham Teknologi Tekan S&P 500 & Nasdaq
Wall Street bergerak variatif, dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu. Indeks Nasdaq Composite melemah 0,58%, S&P 500 turun tipis 0,03%, sementara Dow Jones menguat 0,29%. Pelemahan pada indeks Nasdaq dan S&P 500 terjadi karena koreksi di saham sektor teknologi setelah sejumlah investor memilih untuk keluar. Kekhawatiran tentang inflasi juga menambah tekanan ke bursa saham.

Fokus Hari ini : Australian Jobs Data, ECB Minutes, Philly Fed & EIA
Tadi pagi Australia sudah merilis data ketenagakerjaan, di mana tingkat pengangguran turun menjadi 6,4% di Januari, lebih baik dari perkiraan. Namun penciptaan lapangan kerja hanya tumbuh 29,1 ribu. Beralih ke Eropa, ECB akan merilis minutes-nya, yang kemungkinan masih akan menyampaikan pesan dovish. Sementara di AS, ada data Philly Fed manufacturing indeks, serta data cadangan minyak dari EIA.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*