Dolar AS Menguat Karena Potensi Sanksi Baru AS dan Barat Atas Rusia

DOLLAR

Imbal Hasil Obligasi AS Naik Setelah Pernyataan Hawkish Para Pejabat The Fed

Pada hari Rabu, Presiden Fed San Francisco Mary Daly dan Presiden Fed Cleveland Loretta Mester menjadi pembuat kebijakan Fed terbaru yang mengindikasikan kenaikan yang agresif akan segera terjadi pada pertemuan bank sentral Mei. Dengan banyaknya para pejabat The Fed yang berubah hawkish, termasuk sang Ketua Jerome Powell, telah mendorong kenaikan pada imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke 2,4%.

Dolar AS Menguat Karena Potensi Sanksi Baru AS dan Barat Atas Rusia

Dolar AS naik hari Rabu dan euro melemah karena harga minyak naik lagi setelah Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin Eropa, siap untuk mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia selama perjalanannya ke Eropa. Biden dijadwalkan tiba di Brussel pada Rabu malam dalam perjalanan luar negeri pertamanya sejak perang di Ukraina dimulai, dan akan bertemu dengan para pemimpin NATO dan Eropa dalam pertemuan puncak darurat di markas aliansi militer Barat. Sumber mengatakan paket AS akan mencakup langkah- langkah yang menargetkan anggota parlemen Rusia. Harga komoditas seperti minyak dan gandum naik karena ketegangan di Ukraina meningkat, memberikan tekanan tambahan pada inflasi yang sudah tinggi karena hambatan rantai pasokan. Meningkatnya inflasi telah menyebabkan banyak bank sentral, termasuk The Fed, mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan harga, seperti dengan menaikkan suku bunga.

Kekhawatiran Inflasi dan Krisis Ukraina Dorong Penguatan Emas

Emas naik kemarin karena inflasi yang tidak terkendali dan krisis Ukraina yang semakin intensif mendorong permintaan untuk logam safe-haven, meskipun dolar yang lebih kuat dan imbal hasil obligasi yang tinggi membatasi kenaikan. Spot emas naik 0,8% menjadi $1,937,52 per ons pada 14:05. ET (1805 GMT).

Minyak Melonjak Lagi 5% Karena Gangguan Pasokan

Harga minyak melonjak 5% menjadi lebih dari $121 per barel pada hari Rabu karena gangguan pada ekspor minyak mentah Rusia dan Kazakh melalui pipa Caspian Pipeline Consortium (CPC), menambah kekhawatiran atas pasokan global yang ketat. Situasi tersebut menambah kekhawatiran pasar tentang efek sanksi berat terhadap Rusia, eksportir minyak mentah terbesar kedua di dunia, setelah invasi ke Ukraina. Pipa CPC adalah jalur pasokan yang signifikan untuk pasar global, membawa sekitar 1,2 juta barel per hari dari kelas minyak mentah utama Kazakhstan, atau 1,2% dari permintaan global. Brent naik 5,3% menjadi $121,60, sementara WTI AS naik 5,2% ke $114,93 per barel. Kedua benchmark tersebut terus menguat sejak Rusia menginvasi Ukraina sebulan lalu dalam apa yang disebutnya “operasi khusus” dan AS serta sekutunya menjatuhkan sanksi berat terhadap negara itu, mengganggu pasokan minyak dunia. Rusia mengekspor antara 4-5 juta barel minyak mentah setiap hari, menjadikannya eksportir terbesar kedua setelah Arab Saudi.

Wall Street Menguat, Dipimpin Saham Teknologi

Tiga indeks utama Wall Street kompak melemah setelah harga minyak naik lagi dan para pemimpin Negara Barat mulai berkumpul di Brussel untuk merencanakan lebih banyak tindakan guna menekan Rusia agar menghentikan invasi di Ukraina. Indeks Dow Jones turun 1,29% menjadi 34.358,5, S&P 500 melemah 1,23% ke 4.456,24 dan indeks Nasdaq Composite anjlok 1,32% ke 13.922,60.

Fokus Hari Ini : PMI Global & SNB Meeting

Hari ini sarat dengan data ekonomi penting, termasuk data PMI global, yang akan menunjukkan seberapa sehat kondisi ekonomi di berbagai negara. Selain itu, AS sendiri akan merilis beberapa penting lainnya, seperti durable goods orders dan jobless claims. Selain data, ada event bank sentral, di mana SNB akan menggelar rapatnya, yang diperkirakan tetap mempertahankan suku bunga di level -0,75%.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*