Dolar AS Menguat Setelah Data Payroll

Dolar naik pada hari Jumat di tengah sepinya perdagangan, membukukan kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, setelah data non-farm payoll (NFP) dirilis lebih baik dari perkiraan, menunjukkan ekonomi AS berada di jalur yang stabil menuju pemulihan dari pandemi. Data Jumat lalu menunjukkan nonfarm payrolls AS melonjak 916.000 di Maret, kenaikan terbesar sejak Agustus lalu. Sementara data bulan Februari direvisi naik menjadi 468.000 dari sebelumnya 379.000. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan NFP tumbuh 647.000. Sentimen dolar membaik dalam beberapa pekan terakhir, sementara imbal hasil Treasury telah melonjak, karena rencana stimulus pemerintahan Biden lebih dari $2 triliun dan peluncuran vaksin COVID-19 yang cepat memicu optimisme ekonomi serta kekhawatiran inflasi. Indeks dolar naik 0,1% menjadi 93,025, membukukan kenaikan dalam lima dari enam minggu terakhir.
Pound Jatuh, Solidnya Data Inggris Batasi Kerugian
Pounds Inggris menjadi salah satu mata uang yang tampil mengensankan akhir-akhir ini di tengah spekulasi bahwa ekonomi Inggris akan menjadi salah satu ekonomi besar pertama yang pulih dari pandemi virus korona. Meski begitu, sterling tidak mampu menahan lonjakan permintaan untuk Dolar. Namun, mampu menahan kerugian berkat solidnya data-data Inggris, seperti PMI manufaktur, yang lebih baik dari perkiraan.
Emas Naik Berkat Koreksi Dollar dan Turunnya Yield Obligasi AS
Emas naik lebih dari 1% pada hari Kamis didukung oleh koreksi dolar dan imbal hasil obligasi AS. Sementara suramnya data pengangguran mengaburkan prospek pemulihan ekonomi, menambah daya tarik safe-haven logam. Harga spot emas naik 1,2% menjadi $ 1,727,86, sementara emas berjangka AS ditutup naik 0,7% pada
$ 1.728,30. Sebagian besar pasar tutup dalam perayaan Jumat Agung pada tanggal 2 April.
Minyak Naik Setelah Kesepakatan OPEC+
Harga minyak melonjak 3% pada hari Kamis setelah berita bahwa OPEC+ mencapai kesepakatan untuk secara bertahap melonggarkan pengurangan produksi mulai Mei. OPEC+, yang terdiri dari OPEC, Rusia dan produsen minyak lainnya, setuju untuk mengurangi pembatasan produksi sebesar 350.000 barel per hari (bph) di bulan Mei, 350.000 bpd lagi di bulan Juni dan lebih lanjut 400.000 bpd atau lebih di bulan Juli. Pada kesepakatan Kamis, pemotongan yang diterapkan oleh OPEC+ akan sedikit di atas 6,5 juta barel per hari dari Mei, dan hanya sedikit di bawah 7 juta barel per hari pada April. Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan pada hari Kamis bahwa dia memperkirakan persediaan minyak global, parameter utama untuk industri minyak, akan kembali ke level normal dalam 2-3 bulan. Selama sepekan, Minyak WTI naik tipis 0,8% di $61,45, sementara minyak Brent naik 0,5% di $64,86.

Wall Street Menguat Berkat Kenaikan Saham Teknologi
Wall Street kompak menghijau pada akhir perdagangan Kamis, dengan S&P 500 melonjak ke atas level 4.000 didukung oleh kenaikan saham Microsoft, Amazon dan Alphabet serta optimisme pemulihan ekonomi Amerika Serikat. Indeks Dow Jones naik 171,66 poin atau 0,52% ke 33.153,21, S&P 500 naik 46,98 poin atau 1,18% ke 4.019,87 dan Nasdaq Composite naik 233,23 poin atau 1,76% ke 13.480,11.

Fokus Minggu ini : IMF Meeting, Powell, Yellen, Lagarde, FOMC Minutes
Minggu ini ada pertemuan IMF, di mana pasar akan mencermati proyeksi pertumbuhan terbaru untuk tahun 2021 dan 2022. Ketua the Fed Jerome Powell dan Menteri Keuangan AS Janet Yellen juga akan menyampaikan pidatonya. Selain Powell, juga ada pidato Christine Lagarde dari ECB. Kemudian FOMC mnutes. Sementara data ekonomi yang layak disimak,salah satunya adalah ISM non-manufacturing.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*