Dolar AS Menguat

dollar

Dolar AS Menguat Berkat Kenaikan Imbal Hasil Obligasi Pemerintah AS

Indeks dolar Amerika Serikat (AS) naik 0,55% atas mata uang utama lainnya pada hari Senin, seiring dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah karena investor mengantisipasi Federal Reserve AS akan tetap berada di jalur kenaikan suku bunga pada tahun 2022. Sementara lonjakan kasus virus corona yang disebabkan oleh varian Omicron terus berdampak pada perjalanan global dan layanan publik, investor tetap optimis bahwa penguncian akan dihindari. Pada hari Senin, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) AS mengizinkan penggunaan dosis ketiga vaksin Pfizer dan BioNTech COVID-19 untuk anak-anak berusia antara 12 dan 15 tahun, dan mempercepat waktu untuk semua suntikan booster menjadi lima bulan dari enam bulan setelah dosis primer. Imbal hasil obligasi dua tahun AS, yang sensitif terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga, bersama dengan obligasi 5 tahun, melonjak ke level tertinggi sejak Maret 2020.

Dolar AS Ungguli Yen & Pound

Dolar AS juga unggul atas yen sebesar 0,17% atas pound 0,35%. The greenback berada di jalur untuk persentase kenaikan harian terbesar sejak 17 Desember. Data ekonomi menunjukkan indeks manufaktur Markit untuk Desember turun ke 57,7 dari pembacaan sebelumnya di 57,8, tetapi masih menunjukkan angka ekspansi. Pengeluaran konstruksi naik 0,4% di November, di bawah ekspektasi kenaikan 0,6%.

Emas Jatuh Lebih Dari 1% karena Meningkatnya Risk-On

Emas turun lebih dari 1% pada hari Senin karena reli risk-on dalam ekuitas menekan emas, dengan investor mengabaikan  kekhawatiran  seputar dampak varian  virus corona  Omicron.  Spot  emas turun 1,5% menjadi$1,800.68. Emas juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil obligasi AS dan dolar AS. Pasar ekuitas tampaknya akan memperpanjang pemulihan dari guncangan pandemi, memudarkan pamor safe haven emas.

Minyak Menguat Berkat Prospek Pemulihan Permintaan

Minyak menguat pada hari Senin di tengah harapan pemulihan permintaan lebih lanjut pada 2022, meski OPEC+ tampaknya akan menyetujui peningkatan produksi lagi dan masih adanya kekhawatiran tentang lonjakan infeksi COVID yang dapat memengaruhi permintaan. Jumlah kasus infeksi varian coronavirus Omicron telah mencatat rekor. Perayaan Tahun Baru di seluruh dunia dibatasi, dengan lebih dari 4.000 penerbangan dibatalkan pada hari Minggu. Analis berperndapat bahwa pertemuan bulanan OPEC+ minggu ini lebih cenderung ke bullish daripada bearish karena beberapa anggota OPEC mengalami kesulitan mencapai kuota yang ditetapkan. Harga minyak juga memperoleh beberapa dukungan dari pemadaman di Libya. Produksi minyak akan dipangkas 200.000 barel per hari selama seminggu karena pemeliharaan pipa. Harga minyak Brent naik 1,5%, pada $ 78,98 per barel dan WTI AS naik 87 sen menjadi $76,08 per barel.

Wall Street Menguat, Dipimpin Nasdaq

Tiga indeks Wall Street menguat pada perdagangan perdana tahun 2022, dipimpin oleh indeks Nasdaq. Saham Apple Inc mencapai kapitalisasi pasar US$ 3 triliun pada hari perdagangan pertama tahun ini dan menjadi perusahaan pertama yang mencapai tonggak sejarah itu, harga sahamnya juga menguat. Indeks Nasdaq Composite melesat 1,20% , Dow Jones menguat 0,68% dan S&P 500 menguat 0,64%.

Fokus Hari Ini : OPEC+ Meeting, ISM Manufacturing AS

OPEC dan produsen minyak dunia lainnya, atau dikenal OPEC+ akan menggelar rapatnya pertamanya di tahun ini. Kelompok tersebut kemungkinan masih tetap akan memasok minyak ke pasar sebesar 400 ribu bph. Fokus pasar lainnya adalah PMI manufaktur dai beberapa negara, termasuk AS, yang diperkirakan berada di angka 60,4 di Desember. Sebelum itu ada data ketenagakerjaan dan retail sales Jerman.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*