Dolar AS Naik Berkat Melonjaknya Kembali Yield Obligasi AS

Dolar Amerika Serikat (AS) naik pada hari Jumat setelah lonjakan baru dalam imbal hasil Treasury berkat prospek pulihnya ekonomi setelah lockdown selama setahun, menghidupkan kembali kekhawatiran akan inflasi. Pelaku pasar semakin waspada dalam beberapa pekan terakhir bahwa stimulus fiskal besar-besaran dan pola konsurisme yang terpendam dapat menyebabkan lonjakan inflasi karena gencarnya kampanye vaksinasi mengakhiri penguncian. Sementara itu, data hari Jumat menunjukkan harga produsen AS (PPI) mengalami kenaikan tahunan terbesar dalam hampir 2,5 tahun. Ekonomi AS akan mendapat stimulus yang besar setelah Presiden Joe Biden menandatangani undang-undang stimulus $1,9 triliun pada hari Kamis dan mendesak negara bagian AS untuk mulai mengkampanyekan program vaksinasi bagi usia dewasa sampai 1 Mei. Indeks dolar naik 0,25% menjadi 91,668, namun masih melemah tipis selama sepekan.
Loonie Reli Setelah Data Ketenagakerjaan Kanada
Loonie menguat atas semua mata uang G10 lainnya hari Jumat dan imbal hasil obligasi Kanada melonjak, setelah data ketenagakerjaan dirilis lebih baik dari perkiraan, mendukung pandangan bahwa BoC akan mengurangi pembelian pelonggaran kuantitatif bulan depan. Kanada menambahkan 259.000 pekerjaan pada Februari, melampaui perkiraan peningkatan 75.000. Loonie menguat 0,5% di $1,2465, naik 1,5% pekan lalu.
Emas Catatkan Penguatan Mingguan, Meski Yield Obligasi AS Naik
Harga emas menguat pada hari Jumat dan mencatatkan penguatan mingguan berkat koreksi tipis pada dolar dan melemahnya pasar ekuitas, mengimbangi tekanan dari kenaikan imbal hasil Treasury AS. Harga spot emas naik 0,2% menjadi $ 1.724,16, setelah jatuh sebanyak 1,4% di awal sesi. Dalam sepekan, emas naik 1,4% sepanjang minggu ini. Sementara emas berjangka AS turun 0,2% menjadi $ 1.719,80.
Minyak Dekati Leval $70, Ditutup Flat Dalam Sepekan
Minyak ditutup mendekati $70 per barel hari Jumat, didukung oleh pengurangan output oleh produsen minyak utama dan optimisme tentang pemulihan permintaan di paruh kedua tahun ini. Minyak Brent turun 0,6% menjadi $ 69,22 per barel, sementara WTI turun 41 sen menjadi $65,61 per barel. Baik Brent, maupun WTI ditutup flat pekan lalu setelah harga menyentuh level tertinggi 13 bulan hari Senin, setelah kenaikan tujuh minggu berturut-turut. Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memperkirakan pemulihan permintaan minyak yang lebih kuat tahun ini, khususnya di paruh kedua. OPEC, Rusia dan sekutunya di pekan sebelumnya memutuskan untuk mempertahankan pembatasan produksi pada level saat ini (7,2 juta bph). Pengebor AS juga menahan diri, memotong jumlah rig minyak dan gas alam yang beroperasi untuk pertama kalinya sejak November, menurut data dari perusahaan jasa energi Baker Hughes Co.

Wall Street Menguat Setelah Penandatanganan RUU Stimulus AS
Tiga indeks saham utama Wall Street menguat minggu lalu setelah Presiden AS Joe Biden menandatangani undang-undang stimulus fiskal terbesar AS dan data yang memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS sedang menuju pemulihan pertumbuhan tinggi. Selama sepekan, indeks S&P naik 2,6%, Dow menguat 4,1% dan Nasdaq naik 3,1%. Bagi Dow, itu adalah kenaikan mingguan terbesar sejak November tahun lalu.

Fokus Minggu ini : Fed & BoE Meeting, Inflasi Zona Euro & Kanada
Minggu ini pasar keuangan akan kembali disibukkan oleh serangkaian data, serta event penting. Dua bank sentral besar dunia akan menggelar rapatnya, yaitu the Fed dan BoE. Khusus untuk the Fed, pasar tentunya akan mencermati pernyataan terkait kenaikan imbal hasil obligasi. Sementara data-data ekonomi yang akan dirilis meliputi; retail sales AS, data inflasi zona euro dan Kanada.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*