Dolar AS Naik Dalam 2 Minggu Berturut-turut

Euro Flat, Masih Melemah Selama Sepekan

Euro flat di $1,1775 hari Jumat, mencatatkan penurunan sekitar 0,3% secara mingguan. Euro tidak terlalu bereaksi terhadap rilisan data PMI di zona euro. Aktivitas bisnis zona euro tumbuh pada laju bulanan tercepat dalam lebih dari dua dekade di bulan Juli berkat relaksasi lockdown Covid-19, yang memberikan dorongan pada sektor jasa, tetapi kekhawatiran gelombang infeksi lain memukul kepercayaan bisnis.

Dolar AS Naik Dalam 2 Minggu Berturut-turut, Fokus ke FOMC

Dolar AS menguat pada hari, sekaligus mencatatkan penguatan dalam dua minggu berturut-turut, setelah bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan minggu lalu, dengan risk-on kembali muncul, karena fokus pasar beralih ke rapat The Fed minggu ini. Beberapa analis mulai mempertanyakan, apakah reli dolar baru-baru ini telah kehilangan momentum. Indeks dolar menguat tipis pada kisaran 92.873 dan mencatatkan penguatan 0,1% dalam sepekan, setelah pekan lalu naik 0,6%. Meski menguat, indeks menjauh dari level tertinggi 3,5 bulan di 93.194, yang dicapai pada hari Rabu. Tersendatnya laju dolar AS terjadi setelah solidnya hasil earning di Wall Street, yang membantu investor mendapatkan kembali kepercayaan di tengah kekhawatiran bahwa varian virus corona Delta dapat menggagalkan pemulihan global. Fokus pasar berikutnya akan tertuju pada rapat FOMC minggu ini. Banyak ekonom memperkirakan rapat tersebut untuk membahas tapering.

Emas Melemah Karena Risk Aversion Mereda

Emas melemah pada hari Jumat karena penguatan dolar, kenaikan yield obligasi AS dan saham telah mengurangi daya tariknya. Spot emas turun 0,3% menjadi $1,800,72 per ons. Emas turun 0,7% minggu lalu, setelah sempat naik ke level tertinggi satu bulan, karena kekhawatiran atas meningkatnya kasus COVID-19 varian Delta telah mereda, mendorong investor untuk keluar dari aset safe-haven karena risk-on kembali.

Sempat Anjlok, Harga Minyak Naik Berkat Ekspektasi Pasokan yang Ketat

Harga minyak naik tipis pada hari Jumat, namun membukukan penguatan selama sepekan, didukung oleh ekspektasi bahwa pasokan akan tetap ketat sepanjang tahun. Harga minyak dan aset berisiko lainnya jatuh pada awal minggu karena kekhawatiran atas dampak pada ekonomi dan permintaan minyak mentah dari lonjakan kasus varian Delta Covid-19 di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan beberapa tempat lainnya. Selama sepekan Brent naik 0,7% dan WTI menguat 0,4%. Minyak sempat merosot sekitar 7% pada hari  Senin dan berada di bawah US$ 70 per barel. Tetapi, minyak berhasil mengurangi kerugian itu, dengan investor memperkirakan permintaan tetap kuat dan pasar menerima dukungan dari penurunan stok minyak dan meningkatnya tingkat vaksinasi. Persediaan minyak mentah AS naik 2,1 juta barel pekan lalu, tetapi stok di titik pengiriman Cushing, Oklahoma untuk WTI mencapai level terendah sejak Januari 2020.

Wall Street Kembali Rekor, Dow di Atas 35 Ribu

Tiga indeks utama Wall Street menguat untuk sesi keempat berturut-turut pada penutupan hari Jumat. Kenaikan ini memperpanjang reli, mendorong ketiga indeks saham utama AS ke rekor penutupan tertinggi berkat solidnya pendapatan perusahaan dan munculnya tanda-tanda kebangkitan ekonomi mendorong investor masuk bursa. Indeks Dow Jones ditutup di atas 35.000 untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Fokus Minggu ini: IFO Jerman, Inflasi Australia, Kanada & AS, Serta FOMC Meeting

Minggu ini akan menjadi minggu yang sibuk bagi pelaku pasar karena banyaknya event, serta data ekonomi penting yang hadir. Di awal minggu, ada survei IFO Jerman, serta data CPI Jepang. Kemudian hari berikutnya Gubernur BoJ akan menyampaikan pidatonya, dilanjutkan dengan data consumer confidence AS. Data lainnya adalah Inflasi Australia, Kanada, serta PCE dan PDB AS. Dan, yang terpenting adalah rapat FOMC.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*