Dolar AS Naik ke Level Tertinggi 1 Bulan

Dolar AS menguat dalam tiga hari berturut-turut pada hari Senin, mencapai tertinggi empat minggu, karena aksi risk aversion, mendorong dolar Australia dan pound Inggris lebih rendah. Dengan pasar AS tutup untuk liburan pada hari Senin dan menjelang pelantikan Joe Biden sebagai presiden AS pada hari Rabu, pasar valas bergerak dalam range range trading, mengantisipasi sikap pemerintah baru terhadap mata uang tersebut. Dolar cenderung melemah di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, namun Janet Yellen, pilihan Biden untuk mengambil alih Departemen Keuangan AS, diharapkan menjelaskan bahwa Amerika Serikat tidak mencari dolar yang lebih lemah. Selain itu, rencana Biden untuk paket stimulus $ 1,9 triliun telah memicu kenaikan imbal hasil Departemen Keuangan AS dan membalikkan penurunan nilai dolar di akhir tahun 2020. Indeks dollar naik ke level tertinggi satu bulan pada 90,94, tertinggi sejak 21 Desember.
Poundsterling Melemah Karena Meredupnya Sentimen Risk-On, Prospek Masih Bullish Pound tergelincir pada hari Senin karena meningkatnya kasus COVID-19 menekan sentimen risk-on global, tetapi CFTC future menunjukkan posisi beli bersih terbesar sejak Maret 2020, karena spekulan tetap bullish atas prospek mata uang Inggris. Pound melemah atas dolar di awal tahun ini, namun dengan no-deal Brexit yang bisa dihindari, analis memperkirakan pound bisa menguat sepanjang tahun ini.

Emas Menjauh dari Level Terendah 1,5 Bulan Berkat Prospek Stimulus
Harga Emas menjauh dari level terendah 1,5 bulan, yang diraih pada pada hari Senin berkat ekspektasi stimulus fiskal tambahan AS mendukung daya tarik bullion sebagai lindung nilai inflasi. Presiden terpilih AS Joe Biden mengeluarkan $1,9 triliun rencana stimulus minggu lalu dan Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pada hari Kamis tidak ada alasan untuk mengubah kebijakan akomodatif bank sentral.
Minyak Turun Tipis Karena Penguatan Dolar, Lonjakan Kasus Covid-19
Harga minyak turun tipis pada hari Senin karena penguatan dolar, kekhawatiran atas melonjaknya kasus COVID-19 global dan lambannya vaksinasi terhadap virus korona, mengimbangi rebound ekonomi China yang melebihi ekspektasi. Minyak Brent turun 0,4%, menjadi $54,87, sementara WTI turun atau 0,4% menjadi $ 52,17. Kedua jenis minyak tersebut sudah menguat dalam beberapa minggu terakhir, didukung oleh peluncuran vaksin COVID-19 dan pemangkasan produksi sukarela oleh Arab Saudi. Tetapi lambannya vaksinasi telah menimbulkan keraguan tentang seberapa cepat perekonomian dapat pulih. Sementara itu, dolar AS yang menguat dalam tiga hari berturut-turut, turut membebani harga minyak, membuat harga minyak lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Namun, harga minyak mulai mengurangi penurunan setelah data yang menunjukkan ekonomi China mempercepat pemulihannya dari pandemi.

Saham Australia Diperkirakan Menguat
Saham-saham Australia berpeluang menguat hari ini, didukung oleh saham pertambangan, yang diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas dan menjelang data domestik hasil produksi, serta mulai dibukanya kembali pasar AS kembali setelah liburan Martin Luther King. Indeks future S&PƒASX 200 menguat 0,6%, setelah Benchmark turun 0,8% pada hari Senin.

Fokus Hari ini : Inflasi & ZEW Jerman
Hari ini ada banyak data ekonomi dari kawasan zona euro, diantaranya data inflasi Jerman, yang diperkirakan tumbuh 0,5% di Desember, setelah pertumbuhan yang sama di bulan sebelumnya. Kemudian ada data sentimen konsumen Jerman versi ZEW, yang diperkirakan berada di angka 55,1 di bulan ini, lebih baik dari bulan sebelumnya, yang berada di angka angka 55.0

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*