Dolar AS Rebound dari Level Terendah 2,5 Tahun

Dolar rebound dari posisi terendah 2,5 tahun pada hari Jumat, setelah Uni Eropa dan negosiator Inggris menghentikan pembicaraan untuk kesepakatan perdagangan pasca-Brexit, membebani sterling. Meski begitu. greenback masih mencatatkan penurunan mingguan terburuk dalam sebulan setelah investor mengabaikan data NFP AS yang lebih lemah dari perkiraan. Inggris dan Uni Eropa menghentikan pembicaraan pada hari Jumat setelah gagal mempersempit perbedaan untuk mencapai kesepakatan perdagangan, kurang dari empat minggu sebelum Inggris keluar dari blok tersebut. Para negosiator, David Frost dari Inggris dan Michel Barnier dari Uni Eropa, mengatakan mereka akan memberi tahu para pemimpin mereka untuk mencari dukungan baru dalam perundingan. Dolar telah kehilangan pamornya safe haven-nya setelah pengumuman optimis tentang vaksin COVID-19, yang membantu mendorong reli mata uang berisiko.
Euro Raih Level Tertinggi 2,5 Tahun di Tengah Pelemahan Dolar AS
Euro menjadi mata uang yang paling diuntungkan dengan melemahnya dolar AS. Mata uang tunggal Eropa tersebut menembus ke atas $ 1,20 minggu lalu dan mampu membukukan penguatan sekitar 2%, meski di hari Jumat mengalami koreksi. EURƒUSD menyentuh level tertinggi 2,5 tahun pada $1,21770. Untuk pertama kalinya sejak 2018, EURƒUSD bertahan di atas $1.2100, terlepas bahwa ECB akan menambah stimulus.
Meski Koreksi di Jumat, Isu Stimulus Tetap Dukung Emas
Harga emas melemah pada hari Jumat karena aksi profit raking setelah logam mulia tersebut naik tajam di sesi-sesi sebelumnya. Bursa saham AS juga reli, isu stimulus mendukung emas sebagai lindung nilai inflasi, yang secara mingguan berhasil mecatat penguatan sekitar 2,6%.

Minyak Menguat Berkat Ekspektasi Stimulus
Minyak Brent naik lebih dari 1% pada hari Jumat, namun masih di bawah $50 per barel, berkat ekspektasi paket stimulus ekonomi AS dan kemungkinan vaksin untuk virus korona, mengabaikan peningkatan pasokan dan lonjakan kematian akibat COVID-19. Rencana bantuan virus korona senilai $908 miliar dari bipartisan mendapatkan momentum di Kongres AS. Sementara itu, dalam rapatnya minggu lalu, OPEC+ menyetujui kesepakatan untuk meningkatkan produksi mulai Januari, namun tetap melanjutkan sebagian besar pembatasan pasokan yang ada untuk mengatasi permintaan yang dilanda virus corona. OPEC dan Rusia sepakat untuk melonggarkan pengurangan produksi minyak sebesar 500.000 barel per hari (bph). OPEC+ akan meonggarkan produksi sebesar 7,2 juta barel per hari, atau 7% dari permintaan global mulai Januari, dibandingkan dengan pemotongan saat ini sebesar 7,7 juta bph. Kedua jenis minyak tersebut sudah naik dalam lima minggu berturut-turut, dengan Brent naik 1,7% dan WTI naik 1,9% pekan lalu.

Wall Street Catatkan Penguatan Mingguan Berkat Harapan Vaksin & Stimulus
Tiga indeks utama Wall Street berhasil membukukan penguatan minggu lalu, dengan Nasdaq Composite menjadi indeks dengan penguatan terbesar setelah naik 2,1%. Disusul, indeks S&P 500 yang yang 1,7% dan indeks Dow Jones menguat 1%. Kenaikan didorong oleh berita positif terkait vaksin virus corona, serta stimulus AS yang meningkat, untuk membantu ekonomi yang tertekan akibat pandemi virus corona.

Fokus Minggu ini : Stimulus, Vaksin, ECB Meeting & Brexit Talk
Ada beberapa agenda penting yang mungkin akan membuat pergerakan pasar keuangan kembali mengalami volatilitas yang tinggi. Pembicaraan mengenai stimulus tetap akan menjadi agenda yang dinanti pasar, disusul perkembangan vaksin setelah Inggris menjadi negara pertama yang meluncurkan vaksin yang dikembangkan Pfizer dan BioNTech. Kemudian ada ECB meeting dan pembicaraan Brexit.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*