Dolar AS Rebound Setelah Data Ketenagakerjaan AS

Dolar Amerika Serikat (AS) berbalik naik pada hari Jumat setelah data payroll AS Desember yang mengecewakan, meningkatkan ekspektasi stimulus tambahan untuk menopang ekonomi yang terpukul oleh virus corona dan lockdown pemerintah terkait. Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan nonfarm payrolls turun 140.000 pada Desember, penurunan pertama dalam delapan bulan, jauh di bawah ekspektasi yang memperkirakan kenaikan 71.000. Tingkat pengangguran 6,7%. Greenback berhasil rebound dari level terendah hampir tiga tahun pada hari Kamis karena kenaikan imbal hasil AS membantu memicu pelepasan taruhan bearish dolar AS, dengan trader profit taking atas euro. Presiden terpilih AS Joe Biden mengatakan data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa warga AS membutuhkan stimulus secepatnya dan akan ber tindak membantu ekonomi bahkan dengan pembiayaan defisit, termasuk pemeriksaan stimulus $ 2.000.
Melemah di Jumat, Loonie Masih Menguat 0,2% Pekan Lalu
Loonie melemah atas greenback pada Jumat setelah data ketenagakerjaan Kanada yang turun untuk pertama kalinya sejak April. Kanada kehilangan 63.000 pekerjaan pada bulan Desember, lebih besar dari perkiraan penurunan 32,5 ribu karena lockdown diberlakukan untuk mencegah gelombang kedua penyebaran virus corona. Namun dalam sepekan loonie masih mencatatkan penguatan 0,2%.
Emas Melemah Setelah Prospek Transisi Kepemimpinan Washington Yang Mulus
Harga emas merosot lebih dari 4% pada hari Jumat setelah prospek transisi kepemimpinan yang mulus di Washington dan kenaikan dalam imbal hasil Treasury AS. Dengan mengalirnya aliran dana ke Treasury telah menguarangi daya tarik dari emas. Kontrol Demokrat terhadap Senat AS telah menaikkan taruhan untuk stimulus besar, mengangkat imbal hasil obligasi 10 tahun ke level tertinggi sejak Maret.
Minyak Naik 8% Minggu Lalu Setelah Langkah Saudi & Reli Saham
Harga minyak naik ke level tertinggi dalam hampir satu tahun pada hari Jumat, menguat 8% selama sepekan. didukung oleh janji Arab Saudi untuk memangkas produksi dan reli saham. Minggu lalu, Arab Saudi minggu berjanji untuk memangkas produksi minyaknya secara sukarela sebesar 1 juta barel per hari (bph) pada bulan Februari dan Maret sebagai bagian dari kesepakatan di mana sebagian besar produsen OPEC+ akan mempertahankan produksi stabil selama lockdown. Arab Saudi berbeda pendapat dengan beberapa negara produsen minyak lainnya yang ingin meningkatkan produksi untuk mencegah perusahaan shale AS merebut pangsa pasar mereka. Akhirnya, kesepakatan dicapai untuk memungkinkan Rusia dan lainnya meningkatkan produksi sementara Saudi membatasi produksi mereka. Sementara itu, bursa saham global reli karena investor fokus pada stimulus tambahan untuk memperbaiki kerusakan ekonomi akibat pandemi.

Wall Street Cetak Rekor Pekan Lalu Berkat Prospek Stimulus Tambahan
Bursa Wall Street cetak rekor tertinggi minggu lalu. Harapan akan stimulus yang lebih besar sedikit terganggu oleh komentar seorang senator, naun kemudian mendapatkan dukungan dari komentar Presiden terpilih AS Joe Biden perihal paket ekonominya akan capai triliunan dolar. Selama sepekan, indeks S&P naik 1,83%, indeks Dow menguat 1,61% dan Nasdaq bertambah 2,43.%.

Fokus Minggu ini : Lagarde, Powell & Retail Sales AS
Beberapa event, serta data ekonomi akan kembali mewarnai pergerakan di minggu ini. Beberapa pejabat bank sentral juga akan menyampaikan pidatonya di minggu ini, seperti Christine Lagarde dari ECB dan ketua the Fed Jerome Powell. Sementara data-data ekonomi yang layak disimak antara lain; inflasi China dan AS, kemudian ada data retail sales dan sentimen konsumen AS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*