Dolar AS Turun Karena Sentimen Risk-On

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada hari Jumat karena pelaku pasar lebih memilih mata uang yang terkait dengan sentimen risiko ketimbang safe haven dolar. Sentimen risk-on muncul berkat data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan dan ekspektasi bahwa paket bantuan virus corona yang diusulkan Presiden AS Joe Biden senilai $ 1,9 triliun akan membuahkan hasil. Dalam sepekan, dolar turun sekitar 0,2%. Sementara euro flat yen melemah lebih dari 0,5%. Sedangkan pound Inggris menguat lebih dari 1,1% terhadap dolar, penguatan mingguan terbaik sejak pertengahan Desember. Sterling, yang sering diuntungkan dari peningkatan sentimen risk-on, naik ke level tertinggi hampir tiga tahun di tengah program vaksinasi agresif di Inggris. Sementara Dolar Australia, yang terkait erat dengan harga komoditas dan prospek pertumbuhan global, naik 1,21% pada $0,7863, menyentuh level tertinggi sejak Maret 2018.
Loonie Menguat Meski Data Retail Sales Kanada Mengecewakan
Dolar Kanada (loonie) menguat atas dolar AS mendekati level tertinggi tiga tahun, yang diraih Januari, setelah dolar AS secara umum jatuh atas mata uang utama dunia lainnya. Investor mengabaikan data domestik yang menunjukkan penjualan ritel turun melebihi angka perkiraan. Loonie menguat 0,5% menjadi 1,2617 dolar AS. Selama sepekan loonie naik 0,6%.
Emas Catatkan Penurunan Mingguan Terburuk Sejak 8 Januari
Harga emas menguat pada hari Jumat, pulih dari level terendah tujuh bulan setelah dolar AS terkoreksi. Namun, naiknya imbal hasil obligasi AS, membuat logam mulia mulia tersebut membukukan penurunan terbesar sejak awal 8 Januari. Harga spot emas naik 0,3% menjadi $ 1,780,86 per ons, setelah sempat jatuh ke level terendah sejak 2 Juli di $1.759.29. Dalam sepekan emas turun sekitar 2,4%.
Harga Minyak Kembali Jatuh Setelah Perusahaan Energi Bersiap Beroperasi Lagi
Harga minyak turun untuk hari kedua pada hari Jumat, menjauh dari level tertinggi akhir-akhir ini, karena perusahaan energi di Texas mulai membuka kembali ladang minyak dan gas yang sebelumnya tutup karena suhu dingin dan pemadaman listrik. Minyak Brent turun 1,6% menjadi $62,91 , sementara WTI turun 2,1% menjadi $ 59,24. Selama sepekan, Brent masih naik sekitar 0,5%, sementara WTI turun sekitar 0,7%. Cuaca dingin yang tidak biasa di Texas dan negara bagian Plains telah membatasi produksi minyak mentah hingga 4 juta barel per hari (bph) dan 21 miliar kubik gas alam, menurut perkiraan analis. Perusahaan energi AS minggu ini memangkas jumlah rig minyak yang beroperasi untuk pertama kalinya sejak November, menurut data Baker Hughes. Pabrik penyulingan Texas menghentikan sekitar seperlima dari pemrosesan minyak negara di tengah pemadaman listrik dan cuaca dingin yang parah.

Wall Street Variatif, Dow Jones Naik Dalam Sepekan
Tiga indeks saham utama Wall Street bergerak mendatar pada hari Jumat karena investor menjual saham teknologi yang telah reli melalui pandemi dan beralih ke saham siklus yang akan mendapat keuntungan dari peningkatan permintaan begitu pandemi virus corona mereda. Dalam, Dow naik 0,1% sementara S&P 500 turun 0,7% dan Nasdaq turun 1,6% karena aksi jual saham raksasa teknologi.

Fokus Minggu ini : Powell, Macklem & PDB AS
Setidaknya ada dua pejabat bank sentral yang akan menyampaikan pidatonya di minggu ini, yaitu ketua The Fed Jerome Powell dan Gubernur BoC Tiff Macklem. Pasar tentunya ingin mencari tahu mengenai arah kebijakan kedua bank sentral tersebut. Kemudian RBNZ akan menggelar rapatnya. Sementara data-data ekonomi yang akan dirilis antara lain, IFO Jerman, PDB AS, Chicago PMI dan sentimen konsumen AS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*