Dolar Naik Setelah Imbal Hasil Obligasi Bertahan di Level Tertinggi 1 Tahun

Dolar AS menguat pada hari Jumat karena imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di dekat level tertinggi satu tahun. Imbal hasil obligasi AS melonjak seiring percepatan laju vaksinasi secara global dan optimisme atas peningkatan pertumbuhan global mendukung taruhan bahwa inflasi akan meningkat. Hal itu juga menyebabkan investor menilai pengetatan moneter akan dilakukan secepatnya daripada yang diisyaratkan oleh Federal Reserve dan bank sentral lainnya. Imbal hasil obligasi tenor 10 tahun secara sempat melonjak naik di atas imbal hasil dividen S&P 500 pada hari Kamis. Hasil benchmark Treasury 10- tahun melonjak di atas 1,6% pada hari Kamis untuk pertama kalinya dalam setahun setelah lelang uang kertas tujuh tahun yang lemah. Kenaikan imbal hasil AS telah dipercepat bulan ini karena pejabat Fed menahan diri untuk tidak mengungkapkan kekhawatiran tentang kenaikan imbal hasil.
Loonie Melemah Karena Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS
Loonie melemah tajam atas dolar AS pada hari Jumat karena lonjakan imbal hasil obligasi membebani sentimen investor. Loonie melemah 0,9% pada $1,2710, penurunan harian terbesar sejak akhir Oktober. Loonie sempat menyentuh level terlemah sejak 18 Februari di $1,2729 dan dalam sepekan anjlok 0,8%. Melemahnya loonie seiring kejatuhan saham karena kenaikan imbal hasil obligasi AS.
Emas Catatkan Penurunan Terburuk sejak November 2016
Emas jatuh 3% ke level terendah delapan bulan pada hari Jumat, dan mencatatkan penurunan terburuk sejak November 2016 karena penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil Treasury AS memukul daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. Harga spot emas turun 2,5% menjadi $ 1.726,31 per ounce, setelah menyentuh $ 1.716,85, terendah sejak Juni 2020. Di Februari emas sudah turun 6,4%.
Minyak Melemah di Jumat, Masih Naik Dalam Sepekan
Harga minyak melemah pada hari Jumat karena penguatan dolar AS. Selain itu, ada perkiraan bahwa output akan naik sebagai respons terhadap kenaikan harga di atas level pra-pandemi. Perkiraan ini muncul menjelang rapat OPEC+ minggu ini. Harga minyak WTI melemah 3,2%, menjadi $61,50 per barel. Sementara minyak Brent turun 1,1%, menjadi menetap di $ 66,13 per barel. Namun, kedua jenis minyak tersebut masih naik dalam sepekan, dengan Brent naik 4,8% dan WTI menguat 3,8%. Harga minyak tersebut sudah naik sekitar 20% di Februari karena gangguan pasokan di AS dan optimisme atas pemulihan permintaan, yang didorong program vaksinasi COVID-19. Sementara itu, dolar naik karena imbal hasil obligasi pemerintah AS bertahan di dekat level tertinggi satu tahun, membuat harga minyak yang dihargakan dalam greenback lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Wall Street Variatif, Nasdaq Rebound
Wall Street bergerak variatif pada Jumat, dengan indeks Dow Jones melemah 1,5% dan indeks S&P 500 turun 0,48%. Sedangkan Nasdaq Composite naik 0,56% menjadi 13.192,34. Meski begitu, kinerja indeks Nasdaq masih rapuh setelah mencatatkan penurunan terburuk dalam empat bulan pada Kamis karena kekhawatiran kenaikan inflasi yang membuat yield US Treasury mendekati level tertinggi satu tahun.

Fokus Mingu ini : PMI Manufacturing, Powell, UK Budget & NFP
Minggu ini akan banyak event, serta data ekonomi penting, yang akan membuat pasar keuangan berfluktuatif. Beberapa negara akan merilis data PMI manufacturing, kemudian ada RBA meeting, serta pengumumnan RAPBN Inggris oleh Menteri Keuangan Rishi Sunak. Setelah itu, ketua the Fed Jerome Powell akan kembali menyampaikan pidatonya. Terakhir, ada data ketenagakerjaan AS, termasuk di dalamnya NFP.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*