Dollar Amerika Serikat (AS) Jatuh Ke Level Terendah

Dollar Amerika Serikat (AS) jatuh ke level terendah dalam lebih dari dua bulan atas mata uang dunia hari Jumat, setelah penghitungan suara pilpres AS yang kontroversial berlarut-larut dan investor memperkirakan penurunan lebih lanjut atas mata uang AS tersebut. Investor bertaruh bahwa Demokrat Joe Biden akan menjadi presiden berikutnya, tetapi Partai Republik akan tetap mengendalikan Senat, yang akan menyulitkan Demokrat untuk meloloskan paket pengeluaran fiskal yang lebih besar yang telah mereka dorong. Penurunan tajam pada imbal hasil Treasury jangka panjang, yang dikombinasikan dengan reli ekuitas dan aset berisiko lainnya, telah menekan dollar AS, yang kemungkinan besar akan berlanjut. Pada hari Jumat, indeks dolar turun 92,274, terendah sejak 2 September. Selama sepekan, indeks dollar turun 1,6%, penurunan mingguan terbesar dalam hampir empat bulan.

Dollar AS melemah atas yen Jepang, diperdagangkan pada kisaran 103,23 yen pada Jumat, mendekati level terendah delapan bulan. Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga berjanji untuk bekerja sama dengan otoritas luar negeri untuk menjaga pergerakan mata uang tetap stabil, karena penguatan yen secara luas dipandang sebagai ancaman bagi perekonomian Jepang.

Harga Emas naik Jumat, mencatatkan kenaikan mingguan terbaiknya sejak Juli, berkat pelemahan dolar di tengah kemenangan Joe Biden pada pemilihan presiden AS, mendorong harapan untuk bantuan virus corona yang lebih besar. Harga emas spot menguat 0,1% Jumat dan 3,9% secara mingguan pada level $1949,81.

Harga minyak turun di bawah $ 40 per barel pada hari Jumat karena meningkatnya kasus virus korona global memicu kekhawatiran tentang permintaan yang lesu. Perancis melaporkan rekor kasus, meningkatkan kekhawatiran bahwa lockdown baru di Eropa dapat membebani permintaan. Minyak juga tertekan karena hasil pemilu yang berlarut-ladut. Kandidat presiden dari Partai Demokrat Joe Biden memimpin atas Presiden Donald Trump. Kemenangan Biden memberikan kekhawatiran bagi OPEC karena berpotensi meningkatkan kembali ketegangan dalam aliansi OPEC+, dan pasar akan merindukan kebijakan Presiden Donald Trump yang tadinya mengkritik kelompok tersebut, kemudian berbalik mendukung untuk rekor pemangkasan produksi minyak. Pada hari Jumat, minyak jenis Brent turun 3,62 % menjadi $39,45 dan WTI turun 4,25% menjadi $37,14. Namun selama sepekan kedua jenis minyak tersebut masih menguat, masing-masing 5,8% untuk Brent dan 4,3% untuk minyak WTI.

Wall Street bergerak variatif pada hari Jumat, namun menutup penguatan mingguan karena calon presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden semakin dekat dengan kemenangan, sementara laporan tenaga kerja secara bulanan menggarisbawahi rintangan yang masih dihadapi ekonomi AS. Indeks Dow Jones turun 0,24%, S&P 500 turun tipis 0,03%, sementara Nasdaq naik 0,04%.

Fokus Minggu Ini: Pidato Powell, Bailey & RBNZ Meeting
Setelah minggu lalu pasar disibukkan oleh dinamika pilpres di AS, minggu ini pasar akan melihat reaksi saat Joe Biden dari Demokrat menyampaikan pidato kemenangannya. Sementara senat masih dikuasai Republik, pemerintahan masih akan terbagi. Beberapa pejabat bank sentral juga akan berpidato minggu, yaitu, Jerome Powell dari the Fed, serta Andrew Bailey dari BoE. Minggu ini, ada juga RBNZ meeting.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*