Dollar AS Bergerak Mendatar

Dollar AS bergerak mendatar dan masih berada dekat level terendah tiga minggu pada hari Senin karena optimisme atas kemungkinan tagihan bantuan COVID-19, diimbangi oleh kekhawatiran atas pandemi. Pada hari Minggu, pemerintahan Trump meminta Kongres untuk meloloskan RUU bantuan virus korona, dengan menggunakan dana sisa dari program pinjaman usaha kecil yang kedaluwarsa, karena negosiasi paket bantuan komprehensif mengalami hambatan. Seorang juru bicara Gedung Putih mengatakan pada hari Senin bahwa Senat Republik akan mengikuti apa yang diinginkan Trump. Dalam tiga minggu terakhir, dollar bergerak dalam range trading sekitar 2% karena tarik ulur perundingan stimulus. Indeks dollar, yang mengukur bobot dollar atas enam mata uang utama dunia turun tipis 0,059% mnejadi 93.06.

Euro turun 0,18% menjadi $ 1,18105. Di Eropa, Organisasi Kesehatan Dunia telah mendesak pemerintah untuk membatasi aktivitas untuk memerangi peningkatan cepat infeksi COVID-19. Sementara Pound bertahan di atas $ 1,30, menguat setelah PM Inggris Boris Johnson pada hari Senin menetapkan sistem tiga tingkat dari langkah-langkah lockdown lokal di Inggris. GBP/USD naik 0,15% menjadi $1,3065.

Harga emas bergerak melandai pada perdagangan awal pekan ini. Potensi stimulus fiskal AS menjadi salah satu penopang kenaikan harga emas dalam beberapa hari terakhir. Pekan lalu, harga emas merosot setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan akan menyetop negosiasi stimulus dengan Demokrat. Tapi, setelah itu Trump mengatakan akan melanjutkan negosiasi dan mengucurkan stimulus besar-besaran.

Kedua jenis minyak acuan dunia, baik Brent maupun WTI melemah pada perdagangan Senin menjelang laporan data industri minyak pada hari Selasa minggu ini. International Energy Agency (IEA) akan mempublikasikan World Outlook 2020 pada hari Selasa, dilanjutkan laporan Monthly Oil Market Report (MOMR) dari OPEC. Keduanya merupakan laporan industri yang sangat diantisipasi yang ditetapkan tidak hanya untuk menjelaskan produksi minyak di seluruh dunia, tetapi juga yang telah mengganggu harga sejak dimulainya pandemi — permintaan minyak. Harga turun hari Senin karena perusahaan minyak dan gas di Teluk Meksiko AS akan beroperasi kembali setelah ditutup karena Badai Delta. Kemudian, laporan Libya memulai kembali ladang minyak terbesarnya — Sharara — setelah berbulan-bulan blokade yang menutup ladang itu. Terakhir, harga minyak semakin terpukul setelah aksi mogok di Norwegia berhasil diakhiri. Minyak WTI turun 2,54% menjadi $39,57, sementara Brent turun 2,45% menjadi $41,80.

Tiga indeks utama Wall Street kembali melanjutkan penguatan di awal perdagangan pekan ini. Indeks Dow Jones Industrial naik 0,88%, S&P 500 melesat 1,64% dan Nasdaq Composite melonjak 2,56%. Penguatan Wall Street kembali disumbang oleh saham-saham teknologi, dengan saham Apple melesat 6,45%, Amazon naik 4,8%, dan Microsoft naik 2,6%. Tema stimulus masih menjadi katalis positif bagi pasar saham AS.

Fokus Hari Ini: Data Ketenagakerjaan Inggris
Fokus pasar hari ini akan tertuju pada data ketenagakerjaan Inggris, di mana tinggkat pengangguran naik 73,7 ribu di Agustus, lebih rendah dari perkiraan 99,5 ribu. Sementara pertumbuhan upah mencatat penurunan ketiga berturut-turut di bulan Juli, turun 1,0%. Perkiraan untuk Agustus berada di -0,6%. Tingkat pengangguran, yang naik menjadi 4,1% di bulan Juli, diperkirakan naik menjadi 4,3% di bulan September.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*