Dollar AS Jatuh Lebih dari 6% di 2020

Dolar Amerika Serikat (AS) mencatatkan penurunan tahunan terbesar sejak 2017 pada hari Kamis, setelah memudarnya peran safe haven yang didapat pada bulan Maret ketika kepanikan atas penyebaran COVID- 19 , sebelum jatuh karena stimulus the Fed yang belum pernah terjadi sebelumnya. Greenback sempat naik ke level tertinggi tiga tahun di 102,99 di bulan Maret, sebelum mengakhiri tahun ini pada level di 89,96, turun 6,77% di 2020 dan 12,65% dari level tertinggi Maret. Membaiknya prospek ekonomi global saat vaksin COVID-19 diluncurkan, rendahnya suku bunga AS, dan pembelian obligasi Fed yang sedang berlangsung telah mengurangi daya tarik dolar di akhir tahun 2020. Ekspektasi stimulus fiskal tambahan dan meningkatnya defisit fiskal, serta transaksi berjalan akan menjadi hambatan tambahan yang kemungkinan besar akan memukul mata uang AS di tahun mendatang.
Euro Naik Hampir 9% di 2020
Euro di tutup di $1,2215 pada hari Kamis, naik 8,97% pada tahun 2020. Mata uang tunggal Eropa tersebut mencapai level $ 1,2310 pada hari Rabu, tertinggi sejak April 2018, tetapi memagkas kenaikannnya karena investor menyesuaikan posisi untuk tahun ini. Sementara Aussie dan kiwi mencapai level tertinggi sejak April 2018 pada hari Kamis. Masing-masing naik 9,76% dan 6,82% di 2020.
Emas Naik 25% Sepanjang 2020, Penguatan Terbaik dalam 1 Dekade
Harga emas stabil setelah dollar melanjutkan pelemahannya pada hari Kamis, dan mencatatkan kenaikan tahunan terbaiknya dalam satu dekade di tengah ketidakpastian ekonomi dan karena pemerintah di seluruh dunia menggelontorkan stimulus besar-besaran untuk mengurangi dampak pandemi COVID-19. Sepanjang tahun 2020 logam mulia tersebut mencatakan kenaikan 25%.
Minyak Naik Hari Kamis, Namun Masih Turun lebih dari 20% di 2020
Harga minyak menguat tipis pada hari Kamis, namun tetap melemah lebih dari 20% di 2020, karena lockdown telah menekan aktivitas ekonomi dan membuat pasar minyak terguncang. Meski begitu, baik minyak Brent, maupun WTI telah naik lebih dari dua kali lipat dari level terendah di bulan April setelah OPEC+ memangkas produksi mereka untuk menyesuaikan dengan permintaan yang lebih lemah. Sementara itu, berita tentang distribusi vaksin virus korona juga mendorong harga di kuartal keempat, membangkitkan harapan pemulihan permintaan ke depan, mengangkat harga ke level tertinggi dalam sekitar 10 bulan. Harga minyak mencapai level terendah di 2020 pada April menyusul anjloknya permintaan bahan bakar dikarenakan pandemi COVID-19 dan setelah perang harga antara Arab Saudi dan Rusia. WTI anjlok ke rekor terendah negatif- $ 40,32 per barel, sementara Brent turun menjadi $ 15,98 barel, terendah sejak 1999.

Wall Street Cetak Rekor di 2020, Meski Ekonomi Dihantam Pandemi
Tiiga indeks saham utama Wall Street menguat dan berhasil mencatat rekor di 2020, meski ekonomi terguncang oleh virus corona. Investor melihat prospek perbaikan ekonomi pasca pandemi. Sepanjang tahun 2020, indeks S&P 500 naik sekitar 16%, indeks Dow Jones menguat sekitar 7% dan Nasdaq melesat lebih dari 43%, menandai kenaikan tahunan terbesar untuk indeks teknologi berat sejak 2009.

Fokus Minggu ini : JMMC Meeting, PMI, NFP AS & FOMC & ECB Minutes
Memasuki Tahun Baru di minggu ini, beberapa data, serta event kembali akan meramaikan pasar keuangan. Di awal minggu, OPEC-JMMC (Joint Ministerial Monitoring Committee) akan menggelar rapat, yang rencananya akan membahas penambahan produksi. Kemudian data-data ekonomi penting akan dirilis, seperti PMI di beberapa dan data ketenagakerjaan AS. Ada juga FOMC dan ECB minutes.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*