Dollar AS Melemah

Dollar AS melemah minggu lalu di tengah ketidakpastian stimulus menjelang pemilu AS yang akan datang, turun 1% pada level 92.71. Ketua Kongres AS Nancy Pelosi mengatakan bahwa bantuan COVID-19 masih dimungkinkan sebelum pemilihan 3 November, tetapi Presiden Donald Trump harus meminta izin Partai Republik, yang enggan menyetujui, jika dia menginginkan kesepakatan. Trump dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin membantah bahwa Pelosi harus berkompromi untuk mendapatkan paket bantuan, dengan mengatakan perbedaan signifikan tetap ada antara pemerintahan Republik dan Demokrat. Sementara itu, pasar memperkirakan Joe Biden akan memenangkan pemilu. Untuk itu, mereka masih mengharapkan paket stimulus pada akhir tahun. Jadi, sentimen risk-on menguat minggu lalu di tengah stimulus yang agresif.

Pound jatuh pada hari Jumat setelah Indeks PMI Inggris turun ke level terendah empat bulan, meski begitu pound masih menguat sepanjang minggu ini, setelah fase baru pembicaraan Brexit yang intens dimulai kembali.PMI sektor jasa Inggris turun ke level terendah empat bulan menjadi 52,9 di Oktober dari 56,5 di September. Hari Jumat Pound melemah 0,4% menjadi 1.3031, namun masih menguat 0,9% pekan lalu.

Emas melemah pada hari Jumat setelah dollar mengikis penurunannya, tetapi ketidakpastian politik AS menjelang Pemilu AS membatasi kerugian emas. Harga emas spot turun tipis 0,1% menjadi $1903,07, sementara emas berjangka flat pada level $1905,20. Harga emas masih stuck di tengah pembicaraan stimulus. Masih ada perbedaan mengenai stimulus antara Gedung Putih, Kongres, serta senat AS.

Minyak turun hampir 2% pada hari Jumat, berakhir melemah sepanjang minggu lalu, karena antisipasi atas lonjakan pasokan minyak mentah Libya dan kekhawatiran permintaan yang disebabkan oleh melonjaknya kasus virus corona di Amerika Serikat dan Eropa. Pada hari Kamis, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa Moskow tidak mengesampingkan perpanjangan pengurangan produksi minyak OPEC+, tetapi jaminan itu tidak mampu mengimbangi ekspektasi atas meningkatnya produksi Libya dan kekhawatiran permintaan. Harga minyak turun setelah National Oil Corp (NOC) Libya mengatakan telah mencabut force majeure pada ekspor dari pelabuhan-pelabuhan utama dan produksi akan mencapai 1 juta barel per hari dalam empat minggu. Sementara itu, Italia dan beberapa negara bagian AS melaporkan rekor peningkatan infeksi setiap hari dan Perancis memperpanjang jam malam saat gelombang kedua pandemi COVID-19 melanda seluruh Eropa. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran mengenai permintaan bahan bakar.

Tiga indeks utama Wall Street menguat Jumat lalu di tengah negosiasi paket stimulus Amerika Serikat. Namun selama sepekan ketiga indeks tersebut masih mencatatkan penurunan, dengan indesk Dow Jones turun 0,9%, S&P 500 turun 0,5% dan Nasdaq turun 1,1%. Saham Gilead Sciences Inc naik 0,2% setelah obat antiviral remdesivir menjadi satu-satunya obat yang disetujui untuk merawat pasien Covid-19 di RS AS.

Fokus Minggu Ini: BoC, BoJ, ECB Meeting & PDB Jerman, Kanada, AS
Minggu ini pasar keuangan akan kembali disibukkan oleh serangkaian data, serta event. Ada tiga bank sentral yang akan menggelar rapatnya, yaitu; BoC, BoJ dan ECB. Ketiga bank sentral tersebut diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan, namun kemungkinan masih akan menyuarakan dovish. Sementara data ekonomi yang akan diliris antara lain; IFO Jerman, PDB Jerman, AS & Kanada, serta inflasi Australia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*