Dollar AS Melemah Atas Mata Uang Utama Dunia

Dollar AS melemah atas mata uang utama dunia Jumat lalu, memangkas penguatan mingguan yang didorong oleh peningkatan kewaspadaan atas lonjakan global dalam kasus virus korona dan memudarnya prospek paket stimulus AS sebelum pemilihan 3 November. Pembatasan baru untuk memerangi COVID-19 telah dijalankan di seluruh Eropa, dan Midwest AS sedang menanggulangi lonjakan kasus baru, mengancam pemulihan ekonomi global negara dari guncangan virus corona. Sementara itu, rencana stimulus fiskal AS tetap buntu pada negosiasi tiga arah, yaitu Gedung Putih, Senat Partai Republik, dan Kongres Demokrat . Pada hari Jumat, indeks dolar AS turun 0,1% menjadi 93,676, namun selama sepekan tetap naik 0,7%, kenaikan mingguan terbaiknya dalam tiga minggu.

Pound menjauh dari posisi terendah atas dollar Jumat lalu, mengabaikan pembicaraan perdagangan yang memburuk antara Inggris dan Uni Eropa setelah juru bicara Perdana Menteri Boris Johnson mengatakan pembicaraan “berakhir” kecuali ada perubahan mendasar dari Uni Eropa. GBP/USD naik 0,06% menjadi $ 1,2920, menjauh dari level terendah pada $1,2866. Namun, selama sepakan pair tersebut mencatatkan penurunan 1.06%. Sentimen Sterling jatuh setelah Inggris Menjalankan Lockdown ketat.

Harga emas jatuh lebih dari 1% minggu lalu dan menjadi penurunan mingguan pertama dalam tiga minggu terakhir. Tekanan emas datang karena memudarnya peluang kesepakatan stimulus antara pemerintah Donald Trump dengan Partai Demokrat yang menngikis pamor emas sebagai lindung nilai. Harri Jumat, harga emas spot turun 0,5% menjadi US$ 1.899,29, menjadikan harga emas spot turun 1,61% di pekan lalu.

Harga minyak turun tipis pada hari Jumat, tertekan oleh kekhawatiran bahwa lonjakan kasus COVID-19 di Amerika Serikat dan Eropa akan terus menyeret permintaan di dua wilayah konsumen bahan bakar terbesar di dunia. OPEC + khawatir gelombang kedua pandemi yang berkepanjangan dan lonjakan produksi Libya dapat mendorong pasar minyak menjadi surplus tahun depan. Panel pejabat OPEC +, yang disebut Joint Technical Committee, telah membahas skenario terburuk mereka selama pertemuan bulanan virtual pada hari Kamis. Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC) akan memikirkan prospek saat bertemu pada hari Senin. Harga minyak Brent turun 23 sen menjadi $42.93 dan WTI turun 8 sen menjadi $40.88 per barel. Namun, selama sepekan Brent masih 0.2% dan while WTI menguat 0.7%. Turunnya cadangan minyak AS yang melebihi perkiraan menjadi salah satu pendorong harga minggu lalu.

Tiga indeks utama Wall Street mencatat penguatan pada hari Jumat seteah hampir sepanjang perdagangan minggu lalu bergerak di zona merah. Optimisme mengenai vaksin serta data retail sales AS yang melebihi ekspektasi berhasil mengangkat sentimen, mengimbangi sentimen dari ketidakpastian stimulus fiskal AS. Indeks Dow Jones naik 0,57% , indeks S&P 500 menguat 0,40% dan Nasdaq naik 0,50%.

Fokus Minggu Ini: Stimulus, Powell, PDB China & PMI
Perundingan mengenai stimulus fiskal AS masih menjadi isu yang menjadi penggerak di pasar keuangan. Isu tersebut masih akan kembali menjadi sorotan minggu ini, di mana Senat akan kembali melakukan voting atas stimulus senilai $300 miliar dari Partai Republik. Fokus lainnya, ada pidato Powell, Bailey dan RBA minutes. Sementara data yang akan dirilis antara lain, PDB China dan PMI Inggris, Zona euro dan AS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*