Dollar AS melemah lagi, Emas melonjak.

Dollar AS melemah kemarin karena meningkatnya sentimen risk-on, mengurangi pamor safe haven dan dan mengangkat saham AS, mendorong Nasdaq naik ke level tertinggi sepanjang masa. Pergerakan risk-on di saham mendorong indeks dolar yang turun 0,21% dan diperdagangkan di 92,817. Dollar juga melemah setelah hasil survei yang lemah dari aktifitas manufaktur regional, menambah keraguan bahwa pemulihan AS sedang goyah. Data kemarin menunjukkan Indeks Empire State Manufacturing turun menjadi 3,7 di Agustus dari 17,2 di Juli. Angka tersebut juga jauh di bawah perkiraan 15 poin. Data tersebut menunjukkan perlambatan di sektor manufaktur, meski sebagian diimbangi oleh data perumahan yang kuat yang dirilis sebelumnya pada hari Senin. Kepercayaan pengembang rumah AS naik dalam tiga bulan berturut-turut pada bulan Agustus ke rekor tertinggi karena tingkat suku bunga terendah mendorong lonjakan pelanggan.

Dollar AS juga terbebani oleh kekhawatiran mengenai pemulihan ekonomi AS karena ketegangan politik meningkat dan menjelang rilis FOMC minutes. Jobless claims AS turun di bawah angka satu juta akhir pekan lalu untuk pertama kalinya sejak wabah Covid-19, tetapi data tersebut sulit menghapus kenyataan suram bahwa lebih dari 30 juta orang Amerika kehilangan pekerjaan.

Harga Emas melonjak sekitar 2% ke level tertinggi hampir satu minggu kemarin karena pelemahan dollar dan imbal hasil obligasi AS. Sentimen emas juga terangkat setelah Berkshire Hathaway milik Warren Buffet membeli saham penambang emas Barrick Gold Corp sebanyak 20.9 juta lembar saham. Harga emas spot naik 1,9% menjadi $1981,41, sementara emas berjangka AS naik 2,5% menjadi 19978,70.

Harga minyak menguat kemarin, didorong oleh reli harga komoditas dan berita yang menyebutkan bahwa anggota OPEC + hampir sepenuhnya mematuhi menjalankan pemotongan produksinya. Panel OPEC, yang dipimpin Saudi dan Rusia beserta aliansinya akan bertemu Rabu untuk meninjau pasar di tengah upaya untuk mengembalikan sekitar dua juta barel dari pengurangan produksi sekitar 9,6 juta bph yang disepakati pada Mei. Menurut laporan Reuters kemarin, mengutip dua sumber OPEC +, mengatakan bahwa kepatuhan anggota grup terhadap pemotongan terlihat sekitar 97% pada Juli. Harga minyak juga naik berkat reli komoditas lainnya di tengah turunnya imbal hasil obligasi AS, yang kemudian menyeret penurunan dollar. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun sempat anjlok ke 5%, sebelum akhirnya ditutup turun 3,8%. Sementara indeks dollar sempat turun ke 92,75, sebelum stabil di 92,85. Harga minyak WTI naik 2,1% menjadi 42,89 dan Brent naik 1,4% di 45,37.

Wall Street bergerak variatif semalam, dengan indeks Nasdaq kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, S&P 500 mendekati level tertinggi. Kedua indeks tersebut ditopang oleh saham Nvidia dan saham-saham teknogi yang mencatat performa mengesankan. Namun indeks Dow Jones tertekan oleh penurunan saham Boeing yang anjlok 3,41%, JP Morgan Chase&Co 2,64% dan saham Goldman Sach yang turun 2,36%.

Fokus Hari ini: RBA Minutes
Reserve Bank of Australia (RBA) akan merilis minutes-nya, yang merupakan notulen rapat awal bulan ini. Dalam meeting nya tersebut, RBA tetap mempertahankan suku bunga di 0,25%, yang sudah dijalankan sejak Maret. RBA juga memperingatkan bahwa prospek ekonomi masih banyak ketidakpastian setelah pandemi Covid-19. Jika ada pernyataan dovish dari minutes tersebut, bisa membebani Aussie.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*