Dollar AS Membukukan Persentase Kenaikan

Dollar AS membukukan persentase kenaikan mingguan terbesar sejak akhir September, dengan investor memburu greenback karena kekhawatiran menjelang pilpres dan dampak ekonomi dari lockdown baru di Perancis, Jerman dan beberapa wilayah Spanyol. Sementara di AS mencatatkan kasus kesembilan juta pada hari Jumat, hampir 3% dari populasi, dengan hampir 229.000 meninggal sejak wabah pandemi awal tahun ini. Sementara itu, data ekonomi hari Jumat, yang menunjukkan belanja konsumen AS melebihi perkiraan, tidak terlalu berdampak berdampak pada pasar valas. Pada hari Jumat indeks dolar naik 0,2% menjadi 94,035. Dalam sepekan, indeks naik 1,4%, penguatan mingguan terbaiknya dalam lebih dari sebulan.

Sterling diperdagangkan pada kisaran yang sempit atas dollar AS pada hari Jumat, karena kurangnya berita seputar perundingan perdagangan Brexit yang sedang berlangsung, membuat investor menjauh atas mata uang Inggris tersebut. Berita mengenai perundingan Brexit tampaknya diabaikan pasar, dengan beberapa analis mengatakan bahwa bahkan jika kesepakatan Brexit dikonfirmasi, kecil kemungkinan sterling menguat. Namun, para analis menganggap kurangnya berita Brexit sebagai kabar baik.

Harga emas menguat pada hari Jumat setelah reli dolar tersendat, dengan kekhawatiran atas meningkatnya kasus COVID-19 dan ketidakpastian seputar pilpres AS minggu depan masih menudukug permintaan safe haven logam mulia tersebut. Harga emas spot emas naik 0,6% menjadi $ 1.879,01, setelah dua sesi berturut-turut mengalami penurunan tajam. Namun di bulan Oktober, harga emas turun 0,3%.

Harga minyak turun pada hari Jumat dan membukukan penurunan bulanan kedua berturut-turut karena meningkatnya kasus COVID-19 di Eropa dan Amerika Serikat meningkatkan kekhawatiran atas prospek konsumsi bahan bakar. Para pemimpin di Perancis dan Jerman telah memerintahkan negara mereka untuk lockdown, karena gelombang besar kedua dari infeksi virus corona mengancam Eropa sebelum musim dingin. AS juga menghadapi lonjakan kasus, memecahkan rekor infeksi harian. Sementara itu, OPEC+ berencana meningkatkan produksi sebesar 2 juta barel per hari (bph) pada bulan Januari. Namun, produsen utama Arab Saudi dan Rusia masih mendukung untuk mempertahankan pengurangan produksi saat ini sekitar 7,7 bph hingga tahun depan di tengah lockdown di Eropa dan naiknya produksi minyak Libya. Pada hari Jumat, minyak WTI berakhir di $35,75, setelah sempat jatuh ke $34,92, terendah sejak Juni dan turun 11% di Oktober, sementara brent turun 10%, ditutup pada level $37,46.

Tiga indeks Wall Street kembali berlabuh di zona merah di akhir perdagangan Jumat. Maraknya sentimen negatif, mulai dari koreksi saham teknologi, melonjaknya virus corona dan kekhawatiran pilpres AS, telah membebani sentimen. Sepanjang minggu lalu, indeks Dow Jones turun 6,5%, indeks S&P 500 turun 5,6% dan Nasdaq melemah 5,5%. Wall Street pun mencatatkan aksi jual mingguan terbesar sejak bulan Maret lalu.

Fokus Minggu Ini: US Election, RBA & BoE Meeting, PMI, NFP
Minggu ini adalah minggu yang super sibuk dengan data serta event penting. AS akan menggelar pilpres, yang tentunya akan membuat pasar keuangan menjadi lebih bergejolak. Event penting lainnya adalah rapat dua bank sentral dunia, yaitu RBA dan BoE. Sementara data-data ekonomi yang dirilis meliputi, PMI sektor jasa di beberapa negara, serta data ketenagakerjaan AS, termasuk Non-Farm Payrol (NFP).

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*