Dollar AS menguat minggu lalu berkat lonjakan imbal hasil obligasi AS

Dollar AS menguat minggu lalu berkat lonjakan imbal hasil obligasi AS yang kembali naik ke level tertinggi lebih dari satu tahun. Dalam beberapa pekan terakhir Greenback mengalami kenaikan seiring dengan lonjakan imbal hasil Treasury AS. Sejak awal Januari, indeks dolar, telah naik sekitar 3,3%, dengan Benchmark imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun naik sekitar 80 basis poin dalam jangka waktu yang sama. Sementara itu, pada hari Jumat The Fed mengatakan tidak akan memperpanjang bantuan penyangga modal sementara yang diberlakukan untuk meredakan tekanan yang dipicu pandemi di pasar pendanaan. The Fed telah memberlakukan aturan untuk mendorong pinjaman bank karena rumah tangga dan bisnis AS dirugikan oleh lockdown. Indeks dolar, yang sempat jatuh pasca FOMC meeting, kembali menguat 0,1% menjadi 91,906. Selama sepekan indeks dollar naik sebesar 0,6%, kenaikan ke tiga dari empat minggu terakhir.

Euro merosot 0,1% menjadi $1,1908 pada hari Jumat di tengah kekhawatiran tentang penguncian virus korona lebih lanjut di Eropa. Prancis memberlakukan penguncian empat minggu baru mulai Jumat di 16 wilayah yang paling parah dilanda krisis kesehatan. Semantara Yen flat di kisaran di 108,89 per dolar setelah Bank of Japan memperluas kisaran target untuk patokan imbal hasil, sesuai ekspektasi.

Harga emas naik pada hari Jumat dan mencatatkan penguatan mingguan untuk kedua kalinya setelah imbal hasil US Treasury turun dan dolar menjauh dari level tertingginya. Harga emas spot emas naik 0,3% menjadi $ 1,742,14 per ounce dan naik 0,9% minggu ini. Sementara emas berjangka AS ditutup naik 0,5% menjadi $ 1.741,70. Yield AS tenor 10 tahun AS mundur setelah sempat naik ke level tertinggi satu tahun.

Harga Minyak naik lebih dari 2% pada hari Jumat, namun tetap melemah sekitar 7% pekan lalu, karena gelombang baru infeksi virus korona di Eropa mengurangi harapan bahwa permintaan bahan bakar akan segera pulih. Di hari Kamis, minyak turun 7% karena sebagian besar Eropa kembali lockdown, sementara program vaksinasi di sana diperlambat oleh masalah distribusi dan kekhawatiran efek samping dari vaksin AstraZeneca. Goldman Sachs mengatakan hambatan pasar minyak terkait dengan permintaan Uni Eropa dan pasokan Iran akan memperlambat penyeimbangan pasar pada kuartal kedua, meskipun pihaknya mengharapkan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya bertindak untuk mengimbangi itu. Goldman Sach memperkirakan adanya peningkatan pada permintaan minyak global dalam beberapa bulan mendatang, dan mengangkat perkiraan harga Brent menjadi $80 per barel di musim panas ini.

Bursa Wall Street ditutup variatif di akhir perdagangan Jumat, dengan indeks Dow Jones dan S&P 500 melemah, namun Nasdaq menguat. Penguatan Nasdaq didorong oleh penguatan saham Facebook, yang reli 4,1%. Sedangkan Dow Jones dan S&P 500 tertekan oleh penurunan saham-saham perbankan Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,71%, S&P 500 turun 0,06% dan Nasdaq Composite naik 0,76%.

Fokus Minggu ini : Data Inggris, Pidato Powell & Yellen
Minggu ini tidak begitu banyak data ekonomi yang dirilis, kecuali beberapa data ekonomi dari Inggris, yang mungkin akan membuat pergerakan sterling lebih volatil. Inggris akan merilis data ketenagakerjaan, inflasi dan PMI sektor manufaktur. Sementara itu, ketua the Fed Jerome Powell akan menyampaikan pidatonya di kongres berkenaan dengan CARES Act, bersama dengan menteri keuangan Janet Yellen.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*