Dollar AS Menguat Perlahan

Dollar AS menguat Jumat lalu, menjadikan mata uang AS tersebut berada di jalur hijau minggu lalu menyusul rilisan data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan. Departemen Perdagangan AS melaporkan penjualan rumah naik ke rekor 24,7% di Juli, di atas ekspektasi untuk kenaikan 14,7%. Data lainnya mengenai survei aktivitas bisnis AS juga membantu meredakan kekhawatiran tentang lesunya pemulihan ekonomi. IHS Markit menunjukkan indeks PMI naik 54,7 di Agustus, di atas perkiraan 51,3. Namun, beberapa analis memperkirakan bahwa penguatan dollar tersebut mungkin tidak akan berlangsung lama. Dalam beberapa bulan terakhir, dollar tertekan karena melonjaknya jumlah kasus virus corona di AS. Kerusakan yang disebabkan oleh gelombang kedua virus itu terhadap ekonomi akan terus membebani dan memaksa the Fed untuk melanjutkan langkah-langkah stimulus, yang bisa memicu penurunan dollar lebih lanjut. Dollar juga tertekan di tengah perdebatan mengenai RUU stimulus lanjutan di senat AS.

Penguatan dollar AS menyeret mata uang rivalnya masuk ke zona merah, termasuk euro. Mata uang tunggal Eropa tersebut juga tertekan setelah data ekonomi di kawasan zona yang mengecewakan. PMI Agustus di kawasan zona euro memberikan gambaran yang agak suram bagi prospek pemulihan ekonomi.

Minggu lalu, harga emas berjangka dan spot mengalami penurunan di tengah penguatan dollar, yang rebound dari level terendah dua tahunnya. Selama sepekan, harga emas berjangka AS turun 0,16%, sementara emas spot turun 0,22%. Meski begitu, beberapa analis masih yakin emas akan kembali menguji $2075, jika the Fed memberi sinyal toleransi yang lebih besar terhadap target inflasi.

Harga minyak melemah Jumat lalu setelah data Baker Hughes yang menunjukkan jumlah rig AS melonjak dua digit minggu lalu. Hal itu menunjukkan bahwa para pengebor minyak di AS terus memproduksi, meski prospek permintaan dipertanyakan di tengah pandemi virus corona. Lonjakan rig tersebut menunjukkan bahwa pengebor minyak AS merasa nyaman dengan harga minyak di kisaran $40 per barel. Sebelum rilis berita dari Baker Hughes tersebut, harga minyak sudah turun di tengah berita gencatan senjata di Libya, yang bisa meningkatkan produksi di negara yang kaya minyak tersebut, sehingga bisa merusak tingkat kepatuhan OPEC yang saat ini mencapai 97%. Minggu lalu, OPEC+ menggelar rapat untuk memantau kepatuhan anggotanya dalam pemangkasan output. Dadalam rapatnya tersebut, OPEC juga memperkirakan permintaan minyak global akan turun tahun ini. Dengan adanya sentimen negatif tersebut, harga minyak bergerak variatif secara mingguan, dengan WTI naik 0,8%, sementara Brent turun 1%.

Saham Asia masih rentan di awal perdagangan hari ini, meski sentimen didukung oleh harapan virus corona setelah Badan Pengawas Obat & Makanan AS (FDA) mengesahkan penggunaan plasma darah dari pasien yang pulih sebagai pilihan pengobatan.Indeks MSCI dari saham Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,04%, namun tidak terlalu jauh dari level tertinggi enam bulan yang disentuh minggu lalu.

Fokus Minggu ini: PDB Jerman & AS
Minggu ini, beberapa negara besar akan merilis data PDB, yang akan menunjukkan seberapa parah kerusakan ekonomi yang disebabkan krisis pandemi Covid-19. Pada pembacaan pertama, PDB di negara-negara besar di kuartal kedua mengalami kontraksi yang sangat tajam. PDB Jerman terkontraksi 10,1% dan PDB AS terotraksi 32,9%. Untuk permbacaan kedua, diperkirakan masih akan mengalami kontraksi tajam.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*