Dollar Naik Euro Jatuh

Dollar AS naik ke level tertinggi dua bulan minggu lalu dan mencatatkan penguatan mingguan terbesar sejak Maret, didukung oleh momentum safe haven di tengah data ekonomi AS yang lemah dari perkiraan, serta kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang dampak ekonomi dari kurangnya stimulus federal reserve lebih lanjut. Data Jumat lalu menunjukkan durable goods orders AS hanya tumbuh 0,4% di Agustus, di bawah perkiraan pertumbuhan 1,5%. Penguatan dollar juga didukung oleh melemahnya mata uang euro dan sterling karena gelombang kedua penyebaran Covid-19 di Eropa telah mengancam adanya lockdown kembali di Inggris dan Uni Eropa. Pada hari Jumat indeks dollar menguat 0,24% menjadi 94,58 dan sekaligus mencatatkan mingguan sebesar 1,7%.

Euro jatuh ke level terendah dua bulan minggu lalu. Pelemahan euro ini disebabkan oleh meningkatnya permintaan safe haven atas dollar di tengah ancaman second wave penyebaran virus corona di Eropa. Sentimen juga terpukul setelah data yang menunjukkan PMI sektor jasa UE di bulan September terkontraksi untuk pertama kalinya sejak Mei. EUR/USD melemah 1.7% selama sepekan pada level 1.1630.

Emas berjangka melemah Jumat lalu dan membukukan kerugian hampir 5% selama sepakan, penurunan mingguan terbesar sejak pertengahan Maret. Penguatan dollar menjadi penyebab turunnya harga emas pekan lalu. Meski begitu, analis melihat bahwa prospek jangka panjang tetap positif untuk emas. Analis memperkirakan bahwa pemulihan ekonomi global akan membutuhkan lebih banyak stimulus.

Harga minyak mentah mencatat penurunan mingguan ketiga dalam empat minggu terakhir di tengah suramnya prospek permintaan dan setelah Libya kembali memproduksi minyaknya. Sentimen yang mendukung harga minyak adalah komitmen produsen minyak atau yang lebih dikenal dengan OPEC+ dalam pemangkasan output mereka guma menyeimbangkan pasar, ditambah dengan turunnya cadangan minyak AS. Namun, sentimen kemudian terbebani setelah faksi-faksi yang bertikai di Libya berdamai. Kondisi ini bisa membawa 1 juta barel kembali membanjiri pasar. National Oil Corp Libya minggu lalu mengatakan bahwa mereka mengharapkan produksi naik menjadi sekitar 260.000 barel per hari (bph), atau pada minggu depan, naik dari sekitar 100.000 bpd sebelum blokade pelabuhan minyak dan ladang minyaknya dicabut oleh pasukan yang bersekutu dengan jenderal pemberontak Khalifa Haftar. Selama sepekan, harga minyak jenis WTI turun 2,1% pada level 40,25 per barel, sementara harga minyak Brent turun 3% pada level $41,84.

Meski mencatatkan penguatan di hari Jumat, dua indeks di Wall Street, yaitu Dow Jones dan S&P 500 masih mencatatkan penurunan dalam empat minggu berturut-turut. Penurunan ini terpanjang sejak Agustus 2019. Sementara indeks Nasdaq mampu mengakhiri pelemahan tiga minggu berturut-turut. Dalam sebulan terakhir, sentimen Wall Street terpukul oleh kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi.

Fokus Minggu Ini: Debat Capres AS, NFP & Voting Stimulus di Kongres AS
Selain agenda politik, yaitu debat perdana antara Presiden AS Donald Trump dengan Rivalnya Joe Biden menjelang pemilu AS November nanti, pelaku pasar juga akan disuguhi beberapa data ekonomi penting lainnya. Data-data tersebut meliputi; inflasi Jerman, PDB Inggris dan Kanada, data ketenagakerjaan zona euro dan AS. Selain itu, ada juga voting kongres AS mengenai stimulus fiskal tambahan senilai $2,2 triliun.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*