Emas Melemah Meski Dolar AS Jatuh

Dolar AS Melemah Menjelang FOMC

Dolar Amerika Serikat (AS) melemah atas mata uang utama pada hari Senin karena investor melakukan positioning menjelang rapat reguler The Fed minggu ini. Indeks dolar turun 0,261% menjadi 92.654 , namun masih mendekati level tertinggi 3-1ƒ2 bulan minggu lalu di 93,194. The Fed akan memulai pertemuan dua hari pada hari Selasa, yang akan diikuti oleh konferensi pers dari sang Ketua Jerome Powell pada hari Rabu (Kamis dini hari), di mana investor akan mendengarkan setiap komentar tentang kapan pengurangan pembelian aset bank sentral dapat dimulai. Sejak rapatnya bulan Juni lalu, isu tapering ini tertutupi oleh berita mengenai infeksi COVID-19 harian yang dipimpin oleh varian Delta yang lebih menular. Namun, Greenback masih naik hampir 4% sejak 25 Mei karena ekonomi AS yang membaik mendukung prospek The Fed untuk mulai mengurangi pembelian aset pada awal tahun ini.

Euro Menguat, Meski Data IFO Jerman Mengecewakan

Euro menguat 0,27% atas dolar AS menjadi $ 1,1800, bahkan setelah survei dari Ifo Institute menunjukkan sentimen bisnis Jerman turun secara tak terduga pada Juli karena berlanjutnya kekhawatiran rantai pasokan dan meningkatnya infeksi COVID-19. Data kemarin menunjukkan German ifo Business Climate turun menjadi 100,8 di Juli, dibanding bulan sebelumnya 101,1. Analis memperkirakan kenaikan 102,3.

Emas Melemah Meski Dolar AS Jatuh

Emas melemah pada hari Senin karena kekhawatiran investor menjelang rapat FOMC, meski dolar AS jatuh. Spot emas turun 0,2% menjadi $1.798,41 per ons. The Fed akan memulai pertemuan kebijakan dua hari  pada hari Selasa. Analis mengatakan bahwa ada kekhawatiran the Fed akan memberikan rincian lebih lanjut mengenai tapering. Emas bahkan turun saat dolar AS jatuh dan penurunan dalam imbal hasil Treasury AS.

Minyak Stabil Berkat Ekspektasi Ketatnya Pasokan

Harga minyak stabil pada hari Senin dalam perdagangan choppy, karena penyebaran varian Delta COVID-19 memicu kekhawatiran tentang permintaan bahan bakar, tetapi pelemahan dibatasi oleh perkiraan bahwa pasokan minyak mentah akan ketat sepanjang sisa tahun ini. Minyak Brent naik 0,5% menjadi $74,50, sementara WTI AS turun 0,2% menjadi $71,91. Kasus virus corona terus meningkat selama akhir pekan, dengan beberapa negara melaporkan rekor peningkatan harian dan memperpanjang tindakan penguncian. Harga minyak sempat terbebani oleh perubahan aturan impor di China yang mengimbangi ekspektasi pasokan yang ketat sepanjang sisa tahun ini. Namun, kedua patokan minyak mentah pekan lalu pulih dari penurunan 7% di awal minggu dan menandai kenaikan mingguan pertama mereka dalam dua hingga tiga minggu, didorong oleh permintaan AS yang kuat dan ekspektasi pasokan yang ketat.

Wall Street Kembali Rekor Berkat Optimisme Hasil Earning Big Tech

Wall Street kembali cetak rekor dalam dua sesi berturut-turut pada hari Senin karena optimistisme investor menjelang rilis pendapatan dari emiten Big Tech dan internet minggu ini. Namun, kehati-hatian menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve masih menjadi penahan kenaikan pasar saham lebih lanjut. Indeks Dow Jones naik 0,24%, S&P 500 menguat 0,24% dan Nasdaq Composite bertambah 0,03%.

Fokus Hari ini: Durable Goods Order & Consumer Confidence AS

Sembari menunggu hasil FOMC yang akan digelar dalam dua hari ke depan, pelaku pasar akan terlebih dahulu disajikan data-data penting AS, diantaranya durable goods order, yang diperkirakan tumbuh 2,1% di Juni, setelah pertumbuhan 2,3% di Mei. Data lainnya adalah consumer confidence, yang diperkirakan turun menjadi 124,2 di Juli, dari bulan Juni yang sebesar 127,3.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*