Emas Menguat Berkat Pelemahan Dolar AS

Dollar Melemah Karena Pernyataan Dovish Fed & Data AS yang Mengecewakan

Dolar AS melemah tipis hari Senin karena pasar terus mencerna pernyataan dovish dari The Fed minggu lalu, serta data ekonomi AS yang beragam. Indeks dolar turun kurang dari 0,1% menjadi 92,05. Minggu lalu, indeks turun turun 0,9%, yang merupakan penurunan mingguan terburuk dolar sejak awal Mei, setelah lengser dari level tertinggi 3,5 bulan di minggu sebelumnya ketika para trader memproyeksikan tapering The Fed yang lebih cepat dari perkiraan. Sementara itu, data ekonomi AS yang menunjukkan aktifitas manufaktur tumbuh melambat, memperkuat gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi sudah mencapai puncaknya. ISM manufacturing PMI AS tumbuh 59,5 di bulan Juli. Angka tersebut lebih lambat dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang berada pada angka 60,6 dan juga jauh di bawah ekspektasi pertumbuhan 60,8. Kebijakan akomodatif The Fed yang masih akan lama dari perkiraan telah memukul dolar akhir-akhir ini.

Sterling Stabil Jelang BoE Meeting

Sterling stabil menjelang pertemuan Bank of England (BoE) akhir pekan ini, karena sentimen risk-on membaik di tengah optimisme atas RUU infrastruktur AS. Sterling cenderung flat, setelah mencapai level tertinggi lima minggu di 1,3983 dolar pada hari Jumat, menutup minggu terbaiknya. Penurunan kasus COVID- 19 dan pembukaan kembali ekonomi Inggris memicu rebound pound pada Juli, setelah sempat terpuruk.

Emas Menguat Berkat Pelemahan Dolar AS

Harga emas menguat pada hari Senin, ditopang oleh pelemahan dolar dan turunnya imbal hasil obligasi AS. Harga emas spot naik 0,1% menjadi $1,816,01, setelah sempat jatuh ke level terendah harian di $1,804,49. Fokus pasar saat ini akan tertuju pada data non-farm payroll AS (NFP) , yang diharapkan dapat menunjukkan lebih lanjut tentang kondisi pasar tenaga kerja AS.

Minyak Anjlok 3% Setelah Data China dan AS yang Mengecewakan, OPEC

Harga minyak turun lebih dari 3% pada hari Senin setelah data ekonomi yang lemah dari China dan AS. Minyak Brent turun 3,3%, menjadi $72,89 per barel, sementara WTI AS anjlok 3,6%, menjadi $71,26. Aktivitas manufaktur China tumbuh pada Juli pada laju paling lambat dalam hampir satu setengah tahun karena biaya bahan baku yang lebih tinggi, pemeliharaan peralatan dan cuaca ekstrem membebani aktivitas bisnis, menambah kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Sementara aktivitas manufaktur AS juga menunjukkan tanda-tanda melambat. Indeks aktivitas manufaktur nasional ISM turun ke 59,5 bulan lalu, angka terendah sejak Januari, dari 60,6 di bulan Juni. Harga juga terbebani setelah survei Reuters yang menunjukkan produksi minyak OPEC naik pada Juli ke level tertinggi sejak April 2020, karena OPEC+ semakin mengurangi pembatasan produksi.

Wall Street Variatif, Dow dan S&P 500 Melemah

Bursa Wall Street bergerak variatif, dengan dua dari tiga indeks utama melemah karena kekhawatiran tentang varian Delta dan ekonomi AS yang melambat, membayangi optimisme seputar lebih banyak stimulus fiskal serta laporan kinerja kuartal kedua yang kuat. Indeks Dow Jones melemah 0,28% menjadi 34.838,16, S&P 500 turun 0,18% ke level 4.387,16. Sementara Nasdaq naik tipis 0,06% menjadi 14.681,07.

Fokus Hari ini: RBA Meeting

Hari ini RBA akan menggelar rapatnya. Pada rapat bulan Juni, RBA mengumumkan akan memangkas program pembelian obligasi menjadi A$4 miliar per minggu, dari laju mingguan saat ini sebesar A$5 miliar mulai September karena data ekonomi melampaui ekspektasi. Namun, rencana tersebut sepertinya akan ditunda karena Australia saat ini dalam keaadaan sulit menyusul lockdown yang lebih lama di Sydney.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*