Emas Naik Berkat Pelemahan Dolar AS

Dolar AS Koreksi Setelah Catat Penguatan Harian Terbesar Sejak Juni

Dolar AS melemah atas rivalnya hari Senin, setelah membukukan kenaikan harian terbesarnya dalam lebih dari empat bulan di sesi sebelumnya, karena para trader melakukan reposisi menjelang pertemuanĀ  kebijakan Federal Reserve AS minggu ini. Rapat bank sentral AS, Australia dan Inggris menjadi fokus, dengan The Fed diperkirakan akan mengumumkan pengurangan stimulus, faktor yang telah memicu kenaikan greenback dalam beberapa pekan terakhir. Indeks dolar turun 0,321% pada 93.894. Pada hari Jumat, greenback mencapai level tertinggi sejak 13 Oktober, penguatan harian terbesar sejak pertengahan Juni, didukung data yang menunjukkan kenaikan 4,44% pada PCE price index. Data tersebut telah mendorong beberapa bank investasi seperti Goldman Sachs meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed pada awal Juli 2022, dibandingkan dengan kuartal ketiga tahun 2023 sebelumnya.

Pound Jatuh ke Level Terendah 2 Minggu Menjelang Rapat BoE

Poundsterling jatuh ke level terendah lebih dari dua minggu atas dolar, tertekan oleh ketidakpastian sikap kebijakan Bank of England (BoE) dan meningkatnya sengketa pasca-Brexit dengan Perancis atas hak penangkapan ikan. BoE diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 15 bps menjadi 0,25% di hari Kamis, namun para pejabat MPC masih terpecah antara voting menaikkan dan membiarkannya bertahan.

Emas Naik Berkat Pelemahan Dolar AS

Harga emas menguat hari Senin karena pelemahan dolar AS. Namun, laju kenaikan tertahan di tengah penguatan bursa saham, dengan fokus sekarang tertuju pada rapat FOMC minggu ini untuk langkah-langkah pemangkasan stimulus dalam rapatnya tersebut. Harga emas spot menguat 0,6% menjadi US$ 1.793,28 per ons troi, sementara emas berjangka AS naik 0,7% menjadi US$1.795,80 per ons troi.

Minyak Menguat Berkat Prospek Permintaan

Minyak menguat hari Senin berkat ekspektasi kuatnya permintaan dan keyakinan bahwa OPEC+ tidak akan terlalu cepat memasok ke pasar, membantu membalikkan kerugian awal yang disebabkan oleh pelepasan cadangan bahan bakar oleh China. Brent menguat 1,1% menjadi US$ 84,71 per barel dan WTI AS naik 0,6% ke US$84,05. Sebuah jajak pendapat dari Reuters menunjukkan bahwa harga minyak diperkirakan akan bertahan mendekati US$80 per ons troi pada akhir tahun. Ini terjadi karena persediaan yang terbatas dan harga gas yang lebih tinggi mendorong peralihan ke minyak mentah untuk digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Minyak reli ke level tertinggi dalam beberapa tahun minggu lalu, dibantu oleh rebound permintaan pasca-pandemi dan OPEC+ yang tetap berpegang pada peningkatan produksi bulanan bertahap sebesar 400.000 (bph), meskipun ada permintaan untuk lebih banyak minyak dari konsumen utama

Wall Street Kembali Cetak Rekor, Didorong Saham Tesla & Sektor Energi

Wall Street kembali cetak rekor setelah saham Tesla melonjak dan indeks sektor energi menguat. Di sisi lain, investor menantikan pertemuan Federal Reserve pada pekan ini. Indeks Dow Jones naik 0,26% menjadi 35.913,84, S&P 500 menguat 0,18% ke 4.613,67 dan indeks Nasdaq naik 0,63% ke 15.595,92. Fokus investor kini tertuju pada rapat FOMC yang diproyeksikan akan menyetujui rencana tapering senilai US$ 120 miliar.

Fokus Hari Ini: RBA Meeting

Reserve Bank of Australia (RBA) akan menggelar rapatnya, yang diperkirakan mempertahankan suku bunga di 0,1%. Namun, dengan solidnya data-data terakhir, terutama data inflasi yang mengalami kenaikan, pasar memperkirakan RBA akan berubah hawkish. RBA kemungkinan akan menaikkan suku bunganya lebih awal, ketimbang dari perkiraan sebelumnya, di mana RBA hanya akan menaikkan suku bunga pada tahun 2024.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*