Emas Naik Berkat Turunnya Imbal Hasil Obligasi AS

Dolar AS Menguat Meski Yield Obligasi AS Turun

Dolar AS menguat atas mata uang utama pada hari Selasa setelah libur panjang Independence Day karena para trader melakukan positioning menjelang rilis FOMC minutes. Pelaku pasar akan mencari petunjuk kapan Fed akan mulai mengurangi pembelian obligasi akibat pandemi di tengah pemulihan ekonomi pada minutes- nya nanti. Penguatan dollar terjadi bahkan ketika ketika imbal hasil Treasury AS turun menyusul data yang mengisyaratkan bahwa pertumbuhan di sektor jasa melambat. Data dari Institute of Supply Management (ISM) menunjukkan bahwa aktivitas industri jasa AS melambat pada bulan Juni, kemungkinan tertahan oleh kekurangan tenaga kerja dan bahan baku, sehingga pekerjaan yang belum selesai terus menumpuk. ISM sektor jasa jatuh menjadi 49,3 di Juni dari 55,3 pada bulan Mei. Data tersebut mengikuti laporan pekerjaan AS yang beragam pada hari Jumat, yang menyebabkan dolar mundur dari level tertinggi tiga bulan.

Euro Jatuh Setelah Data Jerman Yang Mengecewakan

Euro melemah setelah data ekonomi Jerman yang mengecewakan, mengirim euro menuju level terendah tiga bulan terhadap dolar. Sentimen investor di Jerman, tetap pada level tinggi tetapi turun tajam pada Juli, menurut survei ZEW. Sementara data lainnya menunjukkan pesanan untuk barang-barang buatan Jerman mencatat penurunan paling tajam pada Mei sejak penguncian pertama pada 2020.

Emas Naik Berkat Turunnya Imbal Hasil Obligasi AS

Emas naik pada hari Selasa, rebound ke atas level kunci $1.800, didukung oleh turunnya imbal hasil obligasi AS, sementara investor mengamati FOMC minutes untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga AS. Spot emas naik 0,2% menjadi $1.794,37. Benchnmark imbal hasil Treasury AS mencapai titik terendah hampir dua minggu, meningkatkan daya tarik emas yamg tidak memiliki bunga.

Harga Minyak Anjlok Setelah OPEC+ Membatalkan Pertemuan

Harga minyak jatuh pada Selasa sesi setelah OPEC+ membatalkan pertemuan ketika para produsen utama tidak dapat mencapai kesepakatan untuk meningkatkan pasokan. Harga minyak Brent anjlok 3,4%, menjadi US$ 74,53 per barel. Minyak WTI AS juga anjlok 2,4% ke US$ 73,37, setelah sempat berada di US$ 76,98 per barel, tertinggi sejak November 2014. Pada hari Senin, para menteri dari OPEC+, yang mencakup anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC), Rusia dan produsen lainnya, mengabaikan pembicaraan setelah negosiasi gagal untuk menutup perpecahan antara Arab Saudi, produsen OPEC terbesar, dan Uni Emirat Arab. Awalnya, harga minyak menguat di tengah berita kegagalan pembicaraan. Namun harga berbalik melemah karena para trader fokus pada kemungkinan bahwa perselisihan akan menyebabkan beberapa produsen lainnya membuka keran dan mulai mengekspor lebih banyak minyak ke pasar.

Wall Street Variatif, Dow & SP 500 Koreksi

Wall Street ditutup variatif pada hari Selasa, dengan dua indeks mereka turun akibat penurunan sektor keuangan usai libur panjang Hari Kemerdekaan. Indeks Dow Jones ditutup turun 208,98 poin atau 0,6% menjadi 34.577,37, indeks S&P 500 melemah 8,8 poin atau 0,20% ke 4.343,54. Sementara indeks Nasdaq. Composite menguat 24,32 poin atau 0,17% menjadi 14.663,64.

Fokus Hari ini: FOMC Minutes

Fokus pasar saat ini tertuju pada FOMC minutes yang akan dirilis Kamis dini hari nanti, yang akan memberikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan the Fed. Data ketenagakerjaan minggu lalu tampaknya telah meredakan ekspektasi pengetetan moneter The Fed, yang sebelumnya mencuat. Namun, yang jadi pertanyaan adalahh akankah risalah rapat Fed terbaru dengan cepat membalikkan pemikiran itu?

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*