Emas Naik Setelah Dolar AS Koreksi

Gold

Swiss Franc Reli Setelah SNB Menaikkan Suku Bunga

Swiss Franc reli atas dolar dan euro pada hari Kamis setelah Swiss National Bank (SNB) secara mengejutkan menaikkan suku bunganya. SNB bergabung dengan bank sentral lainnya dalam memperketat kebijakan moneter dalam kenaikan suku bunga pertama dalam 15 tahun, menaikkan kebijakan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps), menjadi -0,25% dari -0,75% yang telah diterapkan sejak 2015. Langkah ini menempatkan Swiss franc pada kecepatan untuk lompatan harian terbesarnya terhadap euro sejak SNB melepaskan patok (peg) mata uangnya pada tahun 2015, dengan mata uang tunggal Eropa tersebut jatuh 1,9% menjadi 1,019 franc, terendah dalam 2 bulan. Sementara dolar AS jatuh 3,1% terhadap franc, dengan laju penurunan harian terbesar dalam sekitar 6,5 tahun. Sebagian besar analis memperkirakan SNB akan mempertahankan suku bunga pada hari Kamis dan menandai kenaikan untuk bulan September, meskipun beberapa bank telah memperkirakan kenaikan 25 bps.

Sterling Catat Kenaikan Harian Terbesar VS Dolar AS Setelah BoE Meeting

Sterling membukukan persentase kenaikan harian terbesar terhadap dolar sejak Oktober 2020. Terhadap euro, pound mengalami hari terbaiknya sejak awal Mei. BoE pada hari Kamis menaikkan suku bunga sebesar seperempat poin persentase, Mematahkan perkiraan oleh beberapa pelaku pasar yang berharap kenaikan yang lebih besar untuk melawan inflasi yang melonjak. Pound terakhir naik 1,6% terhadap dolar di $1,2367.

Emas Naik Setelah Dolar AS Koreksi

Harga emas naik 1% dalam perdagangan yang bergejolak pada hari Kamis karena dolar mundur tajam pada prospek kebijakan agresif bank sentral AS, membawa beberapa daya tarik safe-haven kembali ke logam. Spot emas terakhir naik 0,9% pada $1,849,68 per ons pada 13:54. ET (1754 GMT).

Minyak Rebound Setelah Sanksi Baru AS Atas Iran

Harga minyak rebound dalam perdagangan berombak setelah AS mengumumkan sanksi baru terhadap Iran. Pasar energi tetap fokus pada kekhawatiran pasokan yang telah membuat harga melonjak tahun ini. Sebelumnya, minyak sempat tergelincir karena kenaikan suku bunga di AS, Inggris, dan Swiss memicu kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global. Minyak mentah Brent ditutup di US$119,81, naik 1,1%. Sementara WTI AS naik 2% menjadi US$117,58. Setelah aksi jual, trader kembali masuk pasar karena sebagian besar analis memperkirakan pasokan akan tetap ketat selama beberapa bulan. IEA memperkirakan permintaan akan meningkat lebih lanjut pada tahun 2023, tumbuh lebih dari 2% ke rekor 101,6 juta barel per hari. Optimisme bahwa permintaan minyak China akan pulih karena pelonggaran pembatasan Covid-19 juga menopang harga. Analis mengatakan, harga mendapat dorongan dari keputusan Washington untuk menjatuhkan sanksi pada perusahaan China, Emirat dan Iran yang membantu mengekspor petrokimia Iran.

Wall Street Anjlok Karena Kekhawatiran Resesi

Tiga indeks Wall Street merosot tajam pada perdagangan Kamis, dipicu aksi jual karena kekhawatiran akan resesi setelah langkah bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunganya untuk menghentikan kenaikan inflasi, menyusul kenaikan suku bunga terbesar The Fed sejak 1994.

Fokus Hari Ini : BoJ Meeting & Pidato Powell

Hari ini Bank of Japan (BoJ) akan menggelar rapat regularnya, yang diperkirakan mempertahankan kebijakannya, dengan menahan suku bunga di minus 0,1% dan melanjutkan program pembelian aset-nya. Kebijakan tersebut kontras dengan bank sentral dunia lainnya yang sudah mengetatkan kebijakannya, negatif buat mata uang yen. Fokus lainnya pidato ketua The Fed di Washington DC.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*