Emas Stabil di Atas Level Terendah Sesi Sebelumnya

Gold

Abaikan Kekhawatiran Covid-19 di China, Dolar AS Melemah

Dolar AS melemah pada hari Selasa, menyerahkan sebagian penguatan di sesi sebelumnya, karena investor mengabaikan kekhawatiran tentang gejolak COVID China, meningkatkan permintaan untuk mata uang berisiko. Ekuitas, komoditas, dan mata uang berisiko sebagian besar menguat pada hari Selasa, sehari setelah pembatasan baru COVID-19 di China memicu kekhawatiran atas prospek ekonomi global. Euro naik 0,5% terhadap dolar menjadi $1,02965, menghentikan penurunan beruntun tiga sesi. Dolar telah menguat tahun ini, didorong oleh kenaikan suku bunga agresif The Fed dalam memerangi inflasi. Tetapi data CPI AS yang lebih dingin dari perkiraan baru-baru ini telah mendorong harapan investor bahwa Fed mungkin berada dalam posisi untuk memoderasi laju kenaikannya. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Loretta Mester menegaskan kembali Selasa bahwa penurunan inflasi tetap penting bagi bank sentral. Investor akan mencermati FOMC minutes, yang akan memberi petunjuk tentang prospek suku bunga.

Sterling Rebound Setelah Dolar AS Koreksi

Poundsterling naik pada hari Selasa setelah jatuh di sesi sebelumnya, menyusul koreksi dolar AS setelah tiga hari naik. Greenback sempat naik tajam pada hari Senin karena lonjakan kasus COVID-19 di China memicu kekhawatiran pertumbuhan dan mengirim investor ke mata uang safe-haven, menyebabkan pound turun 0,59%. Namun mata uang AS menyerahkan beberapa kenaikan hari sebelumnya terhadap mata uang utama pada hari Selasa, dengan sterling naik 0,48% menjadi $1,187.

Emas Stabil di Atas Level Terendah Sesi Sebelumnya

Harga emas bertahan di atas level terendah sesi terakhir kemarin karena melemahnya dolar dan imbal hasil Treasury AS diimbangi oleh kenaikan ekuitas, sementara investor menunggu petunjuk tentang jalur kebijakan moneter Federal Reserve AS. Emas spot tidak berubah di $1.737,19 per ons.

Minyak Reli 3% Setelah Arab Saudi Bertekad Menyeimbangkan Harga

Harga minyak mentah berjangka WTI naik hampir 3% menjadi di atas $82 per barel karena prospek bahwa OPEC dapat melakukan intervensi lebih lanjut di pasar mengimbangi kekhawatiran tentang prospek permintaan yang memburuk. Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengisyaratkan bahwa kerajaan siap mengurangi produksi lebih lanjut untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan jika diperlukan. Arab Saudi, pemimpin de-facto OPEC, membantah laporan dari WSJ pada hari Senin yang mengisyaratkan bahwa kartel minyak sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan produksi, yang membuat harga turun 5% di sesi sebelumnya. Sementara itu, prospek permintaan tetap suram karena wabah virus korona yang muncul kembali di importir minyak mentah utama China yang mendorong pihak berwenang untuk mengaktihan kembali beberapa pembatasan.

Wall Street Reli, Ditopang Saham Peritel dan Energi

Wall Street naik tajam pada akhir perdagangan Selasa, dengan indeks S&P 500 ditutup pada level tertinggi dalam 2,5 bulan. Dorongan Wall Street didapat dari penguatan dari sektor ritel dan sektor energi. Indeks Dow Jones naik 397,82 poin atau 1,18% menjadi 34.098,1, indeks S&P 500 menguat 53,64 poin atau 1,36% ke 4.003,58 dan indeks Nasdaq Composite menanjak 149,90 poin atau 1,36% ke 11.174,41.

Fokus Hari Ini : RBNZ Meeting, PMI Global & FOMC Minutes

RBNZ akan menggelar rapatnya, yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis point (bps). Setelah itu, pasar akan mencermati pernyataan dari sang Gubernur Adrian Orr mengenai arah kebijakan moneter ke depan. Fokus pasar lainnya adalah data PMI global dari sektor manufaktur dan jasa. Terakhir, ada FOMC minutes, yang akan memberi gambaran mengenai arah suku bunga The Fed.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*