Euro Berusaha Pulih Saat Invasi Rusia Ke Ukraina Mulai

Rusia Lakukan Invasi Penuh Ke Ukraina, Pasar Kaji Dampak Kepada Kebijakan Bank Sentral

Rusia, akhirnya melancarkan serangan terbesar mereka sejak Perang Dunia Kedua, mendorong puluhan ribu orang di Ukraina meninggalkan rumah mereka, saat pecah pertempuran di berbagai front. Amerika Serikat menanggapi dengan gelombang sanksi yang menghambat kemampuan Rusia untuk melakukan bisnis dalam mata uang utama bersama dengan sanksi terhadap bank dan perusahaan milik negara. Selain dampak langsung perang Ukraina, ada dampak perang terhadap kebijakan moneter di seluruh dunia. Beberapa pembuat kebijakan di ECB, yang terkadang terlihat hawkish, mengatakan situasi ini dapat menyebabkan ECB memperlambat langkah keluarnya dari langkah-langkah stimulus. Senada dengan ini, perang kemungkinan akan memperlambat rencana kenaikan suku bunga FED, namun tidak akan menghentikan kenaikan itu sendiri.

Pasar Sambut Positif Sanksi Biden, Bursa Saham Rebound

Investor kembali pada asset beresiko, risk appetite meningkat setelah Presiden AS Joe Biden menyatakan akan memberikan sanksi baru, termasuk perbankan Rusia dan impor teknologi. Namun tidak menyinggung sektor minyak dan gas. Ini menimbulkan kelegaan pasar, yang khawatir bahwa sanksi-sanksi kepada Rusia akan mendorong harga energy global lebih tinggi. Dow Jones ditutup naik 92,07 poin, atau 0,28%, menjadi 33.223,83 sedangkan S&P 500 naik 63,2 poin, atau 1,50%, menjadi 4.288,7 dan Nasdaq naik 436,10 poin, atau 3,34%, ditutup pada 13.473,59.

Euro Berusaha Pulih Saat Invasi Rusia Ke Ukraina Mulai

Euro berusaha pulih dari kejatuhannya, setelah invasi Rusia ke Ukraina telah memukul mata uang bersama Eropa dan mengirim investor berebut untuk mengamankan dolar, yen dan franc Swiss. Euro terakhir di $ 1,1196 setelah menyentuh $ 1,1106, terendah sejak Mei 2020. Sterling dan dolar Australia yang ramah risiko juga terpukul sementara dolar AS pada gilirannya melemah terhadap yen dan franc Swiss. Akibatnya, indeks dolar naik setinggi 97,740, tertinggi sejak Juni 2020. Terakhir di 96,990. Satu dolar bernilai 115,47 yen di akhir pekan ini, setelah greenback jatuh 0,48% pada mata uang Jepang pada Kamis. Dolar berada di 0,9241 terhadap franc Swiss setelah turun 0,85% pada hari sebelumnya. Poundsterling berada di $1,33840 dan dolar Australia berada di $0,7153 karena keduanya mencoba untuk pulih dari pukulan di hari Kamis.

Ramai-Ramai Ambil Untung Setelah Harga Komoditi Meroket

Invasi Rusia ke Ukraina mendorong harga komoditi global meroket, baik Minyak mentah ataupun emas di bursa berjangka mengalami kenaikan. Harga minyak mentah bahkan telah naik diatas $100 per barel ($100,54) dan kemudian menyerahkan sebagian besar keuntungan dengan ditutup pada $93,08 pbl. Pedagang emas juga menyaksikan roller coaster dimaa harga berayun luar biasa hampir $100 selama 18 jam terakhir perdagangan. Kontrak berjangka emas diperdagangkan ke level tertinggi $1976.50 selama jam-jam awal setelah Rusia mulai melakukan invasi dan kemudian diperdagangkan ke level terendah $1878.60 sebelum penutupan. Ayunan harga yang luar biasa ini sebagai akibat bauran antara ketakutan pasar dan keinginan membukukan keuntungan sesaat.

Fokus Pasar Hari Ini :

Invasi penuh Rusia ke Ukraina tetap menjadi pusat gravitasi sentimen pasar di akhir pekan ini. Risk Aset tentu mengalami tekanan hebat, sementara aset safe haven akan menemukan momentum kenaikannya. Data ekonomi secara parsial akan memberikan isyarat yang menguatkan akan potensi inflasi lebih lanjut. Paling utama adalah angka Indek Harga yang diperkirakan tetap sebesar 0.5%. Sejumlah pernyataan dari bangkir Bank Sentral akan menyita perhatian, mengingat perlunya kejelasan lebih rinci bagaimana mereka akan melakukan normalisasi kebijakan nantinya. (LH)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*