Euro Gagal Naik Meski Inflasi Zona Euro Mengalami Lonjakan

Dolar AS Menguat Setelah Data Ketenagakerjaan AS, Flat Dalam Sepekan

Dolar Amerika Serikat (AS) naik pada hari Jumat, didukung oleh data pertumbuhan pekerjaan AS yang kuat untuk bulan Maret, yang memperkuat ekspektasi pasar bahwa The Fed akan menaikkan suku bunganya lebih agresif dalam upaya untuk meredam kenaikan inflasi. Nonfarm payrolls (NFP) AS tumbuh 431.000 bulan lalu, dibawah perkiraan pertumbuhan 490.000, namun data untuk bulan Februari direvisi naik menjadi 750 ribu penambahan pekerjaan. Sedangkan tingkat pengangguran turun menjadi 3,6%, terendah sejak Februari 2020. Indeks dolar, yang mengukur greenback atas enam mata uang lainnya, termasuk euro, naik 0,314% pada 98,627, melanjutkan kenaikan 0,5% pada hari Kamis. Selama sepekan, dolar AS nyaris datar, setelah rebound dari penurunan pertengahan minggu karena harapan atas pembicaraan damai Rusia-Ukraina memudar, meningkatkan permintaan safe-haven untuk dolar AS.

Euro Gagal Naik Meski Inflasi Zona Euro Mengalami Lonjakan

Euro gagal menemukan dukungan dari lonjakan inflasi zona euro, yang naik menjadi 7,5% pada bulan Maret, mencapai rekor tertinggi lainnya dan meningkatkan tekanan pada ECB untuk mengendalikan harga, bahkan ketika pertumbuhan melambat tajam. Mata uang tunggal turun tajam hari Kamis setelah mencapai tertinggi satu bulan di awal sesi, karena harapan untuk gencatan senjata dalam invasi Rusia ke Ukraina memudar.

Emas Turun Setelah Solidnya Data Ketenagakerjaan AS

Harga emas melemah pada hari Jumat dan alami penurunan mingguan setelah data pekerjaan AS yang kuat mendorong dolar lebih tinggi dan memperkuat taruhan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga secara agresif. Spot emas turun 0,8% menjadi $1.921,86 per ons.

Minyak Merosot Setelah IEA Setuju Untuk Melepas Minyak dari SPR

Harga minyak turun setelah sempat naik tajam minggu lalu. Bahkan, harga minyak WTI yang merupakan minyak acuan Amerika Serikat (AS) turun ke bawah level US$ 100 per barel. Minyak WTI turun 1,01% menjadi US$ 99,27 per barel. Dalam sepekan, harga minyak merosot 12,84%. dan menyentuh level terendah dalam lebih dari dua pekan. Sementara Brent melemah 0,30% ke US$ 104,39 pada Jumat dan turun 11,06% dalam sepekan dan mencapai level terendah dalam 11 hari perdagangan. Minyak memperpanjang kerugian pada hari Jumat setelah International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional setuju untuk bergabung dalam melepaskan cadangan minyak terbesar yang pernah ada. Sebelumnya Presiden AS Joe Biden mengumumkan pelepasan cadangan strategic petroleum reserve (SPR) pada hari Kamis, yang membuat harga minyak merosot 7%. Biden mengumumkan pelepasan 1 juta bph minyak mentah selama enam bulan, mulai Mei, yang pada 180 juta barel merupakan pelepasan terbesar dari SPR AS.

Wall Street Menguat Setelah Laporan Pekerjaan Bulanan AS yang Kuat

Wall Street menguat Jumat lalu setelah laporan pekerjaan bulanan menunjukkan pasar tenaga kerja yang solid dan kemungkinan akan menjaga The Fed di jalurnya untuk mempertahankan sikap kebijakan hawkishnya. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,4% menjadi 34.818,27, S&P 500 naik 0,34% menjadi 4.545,86 dan Nasdaq Composite bertambah 0,29% menjadi 14.261,50.

Fokus Minggu Ini : FOMC & ECB Minutes, RBA & BoC Meeting, PMI Jasa Global

Minggu ini, pasar akan menyoroti perkembangan seputar perang di Ukraina dan juga rencana pengetatan bank sentral dunia. The Fed dan ECB akan menerbitkan risalah dari pertemuan terakhir, sementara Australia dan Kanada akan menggelar rapat reegular-nya. Sementara data ekonomi yang layak disimak adalah PMI sektor jasa dari beberapa negara maju, termasuk AS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*