Euro Rebound Setelah Jatuh ke Level Terendah Sejak Januari 2017

Dolar AS Koreksi Setelah Naik ke Level Tertinggi 20 Tahun

Indeks dolar AS melemah pada hari Senin setelah mencapai puncaknya dalam 20 tahun pekan lalu, dengan
fokus ke ekonomi global setelah data ekonomi yang lemah dari China menyoroti kekhawatiran tentang prospek perlambatan global. Analis melihat bahwa fundamental tidak terlalu bagus dan dari perspektif risk- oß, seharusnya masih mendukung dolar terhadap atas mata uang utama lainnya. Namun, dolar AS kini tengah berkonsolidasi menyusul penguatan tajam dan perdagangan kemungkinan akan bergerak terbatas, sebelum nantinya menguat lagi. Analis juga mengatakan bahwa perdagangan dolar mungkin diredam sebagian karena banyak berita buruk telah diperhitungkan, tetapi juga karena investor menunggu peristiwa seperti rilis data penjualan ritel AS dan pidato ketua The Fed Jerome Powell. Indeks dolar turun 0,37% pada 104,16, setelah sempat melintasi level 105 pada hari Jumat, level tertinggi sejak Desember 2002.

Euro Rebound Setelah Jatuh ke Level Terendah Sejak Januari 2017

Euro rebound dari posisi terendah sebelumnya setelah pembuat kebijakan ECB Francois Villeroy de Galhau mengatakan pelemahan mata uang bersama itu dapat mengancam upaya ECB untuk mengarahkan inflasi menuju targetnya. Euro naik 0,26% pada $ 1,0438, namun tidak jauh dari terendah minggu lalu $ 1,0354, level terendah sejak awal 2017. Analis melihat $ 1,0340 sebagai level support bagi euro.

Minyak Menguat Karena Sanksi EU Atas Minyak Rusia

Harga minyak naik ketika Uni Eropa melangkah lebih dekat ke larangan impor minyak mentah Rusia dan para trader melihat tanda-tanda bahwa pandemi COVID-19 surut di daerah-daerah yang paling terpukul di China, menunjukkan pemulihan permintaan yang signifikan sedang terbentuk. Minyak mentah berjangka AS naik
$3,71 menjadi $114,20 per barel, sementara Brent naik $2,69 menjadi di $114,24 per barel.

Emas Naik Tipis Karena Penurunan Yield Obligasi AS, Koreksi Dolar AS

Emas naik tipis pada hari Senin setelah mundurnya imbal hasil Treasury AS mengimbangi hambatan dari dolar yang relatif kuat, yang didukung oleh kenaikan suku bunga yang agresif, yang sempat membuat emas jatuh ke level terendah lebih dari tiga setengah bulan. Spot emas naik 0,3% menjadi $1,817,12 per ounce pada 13:52. ET (1752 GMT), setelah sebelumnya mencapai level terendah sejak 31 Januari di $1,786.60. Rebound emas disebabkan oleh penurunan dalam imbal hasil Treasury dan koreksi tipis pada dolar. Meski begitu, dolar AS masih bertahan di dekat puncak dua dekade, membuat emas mahal bagi pembeli luar negeri. Meskipun emas dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi untuk meredam inflasi telah menyurutkan selera emas, aset yang tidal menghasilkan bunga. Analis melihat bahwa harga emas sudah murah, untuk itu trader memanfaatkan untuk aksi buy on dip.

Wall Street Cenderung Melemah di Tengah Kekhawatiran Perlambatan Ekonomi Global

Wall Street variatif, cenderung melemah setelah data ekonomi China yang suram menambah kekhawatiran tentang perlambatan global. Aktivitas ekonomi China mendingin tajam pada April karena meluasnya penguncian Covid-19 yang berdampak besar pada konsumsi, produksi industri, dan lapangan kerja. Situasi ini menambah kekhawatiran perekonomian dapat menyusut pada kuartal kedua.

Fokus Hari Ini : Retail Sales AS & Pidato Powell

Hari ini ada data retail sales AS, yang akan memberikan gambaran mengenai tren daya beli konsumen di AS. Retail sales diperkirakan tumbuh 1,1% di April, lebih baik dari pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 0,5%. Sementara core retail sales justru diperkirakan melambat menjadi 0,3%, dibanding bulan Maret yang sebesar 1,1%. Fokus pasar lainnya adalah pidato ketua The Fed Jerome Powell.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*