Euro Turun Tajam Atas Dollar

Euro turun tajam atas dolar kemarin, di tengah meningkatnya ekspektasi bahwa ECB akan mengeluarkan lebih banyak stimulus setelah bank sentral Eropa tersebut mengkhawatirkan apresiasi euro akhir-akhir ini. Menjelang rapat ECB minggu depan, beberapa pejabat ECB telah menyuarakan keprihatinan atas kenaikan tajam euro, menambah ekspektasi bahwa stimulus akan datang lebih cepat dari yang diperkirakan. Kepala Ekonom ECB Philip Lane mengatakan pada hari Selasa bahwa level euro “penting” untuk kebijakan moneter. Mata uang yang lebih kuat umumnya membebani pertumbuhan ekspor dan membatasi harga impor, yang menyebabkan perlambatan inflasi. Faktor lainnya adalah bahwa tanda-tanda kendurnya pemulihan ekonomi zona euro baru-baru ini bisa mendorong bank sentral untuk memperluas program stimulus darurat pandemi, yang diluncurkan pada Maret tahun ini. EUR/USD turun 0,65% menjadi $ 1,1833.

Dollar AS semakin menjauh dari level terendah dua tahun yang dicetak minggu lalu, dengan mencatat penguatan dua hari berturut-turut setelah adanya tanda-tanda pemulihan pada ekonomi AS. Indeks dollar, yang mengukur bobot dollar atas enam mata uang lainnya menguat 0,598%.

Emas turun lebih dari 1,5% pada hari Rabu karena penguatan dolar dan rebound yang kuat di sektor manufaktur AS, memicu harapan pemulihan ekonomi yang lebih cepat setelah ekonomi dilanda virus corona. Dolllar kembali rebound 0,5%, dari level terendah dua tahun. Sementara itu, data ADP yang dirilis lebih rendah dari perkiraan, juga gagal mengangkat harga emas.

Harga minyak turun lebih dari 2% kemarin setelah laporan yang menunjukkan permintaan bensin turun di Amerika Serikat (AS) minggu lalu. Harga minyak future berbalik negatif setelah data mingguan pemerintah menunjukkan permintaan bensin yang lebih rendah dari minggu sebelumnya, mengabaikan data persediaan minyak mentah AS yang bullish. Dalam laporannya kemarin, Energy Information Administration (EIA) mengatakan cadangan minyak AS turun 9,4 juta barel pekan lalu menjadi 498,4 juta barel. Angka terrsebut jauh lebih dalam daripada perkiraan penurunan 1,9 juta barel. Data tersebut mencerminkan periode di mana Badai Laura menutup fasilitas produksi dan refinery. EIA juga melaporkan Permintaan bensin dalam sepekan turun menjadi 8,78 juta barel per hari (bph) dari 9,16 juta bph pada pekan sebelumnya. Harga minyak Brent, yang menjadi patokan bagi harga minyak global, turun 2,5%, menjadi $44,43 per barel, setelah menguat dua hari. Sementara minyak WTI AS turun 2,9% menjadi $41,51 per barel. Sentimen minyak juga terpukul setelah data ADP AS dirilis lebih rendah dari perkiraan, menunjukkan masih lemahnya sektor tenaga kerja.

Tiga indeks utama Wall Street kembali menguat pada peutupan perdagangan Rabu, ditopang oleh peningkatan aktivitas bisnis dan lapangan kerja AS. Laporan Beige Book Federal Reserve menunjukkan sedikit peningkatan dalam aktivitas bisnis AS dan peningkatan lapangan kerja hingga akhir Agustus, sementara pertumbuhan ekonomi tetap lesu di beberapa bagian negara.

Fokus Hari ini: PMI Non-Manufacturing & Bailey
Sektor manufaktur di beberapa negara mulai menunjukkan pemulihan, terlihat dari hasil survei yang dirilis awal minggu ini. Hari ini pelaku pasar akan melihat apakah pemulihan juga akan terjadi pada sektor jasa, di mana beberapa negara akan merilis PMI non-manufacturing hari ini. Hari ini juga ada data jobless claims AS, serta pidato ketua Bank of England (BoE) Andrew Bailey.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*