Fokus Market Minggu Ini : Data Inflasi AS, RBNZ Meeting, Powell, Bailey, Dan Beberapa sentimen

Dollar menguat Jumat lalu setelah data yang menunjukkan kontraksi yang lebih rendah dari data ketenagakerjaan AS bulan April. Data Jumat lalu menunjukkan non-farm payroll kontrkasi 20,5 juta, lebih baik dari perkiraan kontraksi 22 juta. Sementara tingkat pengangguran meningkat 14%, juga lebih rendah dari perkiraan peningkatan 16%. Dollar mencatat penguatan mingguan terbesar atas euro dalan sebulan terakhir, meski itu lebih terkait dengan mata uang tunggal Eropa mengenai ketidakjelasan program pembelian aset ECB. Dollar juga mencatat kinerja mingguan terbaiknya atas Swiss Franc. Indeks dollar menguat 0,1% menjadi 99,824 Jumat lalu.

Euro jatuh ke level terendah dua minggu minggu lalu karena ketidakpastian stimulus ECB . Euro juga melemah setelah Mahkamah Tinggi Jerman yang memberi waktu tiga bulan kepada ECB untuk membuktikan alasan program pembelian obligasi, atau akan kehilangan partisipasi Bundesbank dalam salah satu skema stimulus utamanya, Sementara itu, poundterling sempat bertahan setelah rapat BoE yang memutuskan tetap mempertahankan kebijakannya, namun tetap melemah sepanjang minggu lalu.

Reli emas tersendat di tengah penguatan Wall Street, meski Departemen Tenaga Kerja AS minggu lalu melaporkan jumlah klaim tunjangan pengangguran naik 3,17 juta orang, menjadikan total lebih dari 33 juta orang yang kehilangan pekerjaan sejak pandemi melanda AS. Harga emas juga turun dari level tertinggi dua minggu Jumat lalu karena harapan aktifitas ekonomi akan kembali dibuka. Meski begitu, kebijakan stmulus yang dijalankan bank sentral masih menopang penguatan mingguan emas.

Harga minyak naik dalam dalam dua minggu berturut-turut setelah jumlah rig di AS mengaami penurunan. Harga minyak jenis WTI menguat 25% dan berakhir pada kisaran $24,74, sementara minyak Brent menguat 17% dan berakhir di kisaran $30,97 Jumat lalu. Laporan dari Baker Hughes menyebutkan jumlah rig AS turun 33 minggu ini menjadi 292. Jumlah rig tersebut sebelumnya belum turun ke bawah 300, sejak krisis keuangan 2008/2009. Harga minyak juga menguat setelah relaksasi lockdown yang diberlakukan di beberapa negara, yang meningkatkan harapan pulihnya permintaan minyak. Goldman Sach mengatakan bahwa pihaknya optimis bahwa harga minyak bisa naik tahun depan karena rendahnya produksi minyak dan pemulihan parsial dalam permintaan minyak. Sementara itu, Wall Street bank menaikkan perkiraan untuk minyak Brent di tahun 2021 menjadi $55,63 per barel dari sebelumnya $52,50. Selain itu, minyak juga naik didorong oleh upaya pemangkasan output oleh OPEC+, yang mulai efektif bulan ini.

Saham-saham Asia menguat di awal perdagangan minggu karena harapan dibukanya kembali ekonomi, bahkan ketika AS melaporkan rekor kehilangan pekerjaan pada bulan April. Di Jepang, Indeks Nikkei menguat 0,81%, sementara di Korea Selatan, indeks Kospi menguat 0,4%. Saham-saham di Australia juga menguat, dengan S&P/ASX 200 naik 0,61%. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang menguat 0,15%.

Fokus Minggu Ini : Data Inflasi AS, RBNZ Meeting, Powell, Bailey.
Beberapa sentimen kemungkinan akan menjadi faktor penggerak di pasar keuangan minggu ini, antara lain adalah relaksasi lockdown di beberapa negara. Selain itu, beberapa data ekonomi juga akan hadir, antara lain; data inflasi AS (CPI dan PPI), PDB Inggris dan Jerman, dan retail sales AS. Ada juga RBNZ meeting, serta komentar ketua the Fed Jerome Powell dan Gubernur BoE Andrew Bailey.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*