Fokus Market Minggu ini

Dollar menguat kemarin karena kekhawatiran resesi yang mendorong investor memburu safe haven. Dengan meningkatnya dampak Covid-19 terhadap perekonomian global, investor melirik dollar sebagai safe haven. Dollar terangkat setelah data yang menunjukkan jobless claims AS melonjak menjadi 6,65 juta dari minggu sebelumnya 3,3 juta di minggu sebelumnya. Angka tersebut melampaui angka estimasi 3,5 juta. Sebelumnya pasar sudah waspada sejak pernyataan Presiden AS Donald tentang dua minggu ke depan yang menyakitkan dalam memerangi virus corona. Lebih dari 200 ribu kasus Covid-19, AS kini menempati urutan pertama dalam jumlah kasus yang terinfeksi. Hal ini membuat dollar AS dilirik sebagai safe haven.

Sterling naik ke level tertinggi tinggi atas euro dan flat atas dollar AS. Poundsterling rebound akhir-akhir ini setelah kepanikan pasar bulan lalu, yang mendorong mata uang tersebut jatuh ke level terendah dalam beberapa dekade. Terhadap euro, pound menguat setelah negara-negara zona euro tidak sepakat atas paket penyelematan untuk negara-negara yang terdampak pandemi Covid-19.

Harga emas kembali bergerak ke atas $1600 kemarin karena faktor safe haven setelah data jobless claims AS melonjak ke level tertinggi sepanjang masa dalam dua minggu berturut-turut di tengah pandemi virus corona dan dampaknya yang melumpuhkan ekonomi AS. Harga emas berjangka di AS menguat 3% pada kisaran $1637 setelah Departemen Tenaga Kerja melaporkan klaim tunjangan pengangguran melonjak menjadi 6,6 juta minggu lalu. Depnaker AS menyatakan bahwa Covid-19 berdampak pada angka klaim pengganguran tersebut. Sedangkan emas spot naik 1,4% menjadi $1613,88.

Harga minyak naik kemarin setelah presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa dia memperkirakan Arab Saudi dan Rusia akan memangkas produksinya. Trump mengatakan bahwa dia sudah melakukan pembicaraan dengan Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman dan berharap Arab Saudi dan Rusia untuk mengurangi produksi sebanyak 10 hingga 15 juta barel. Sementara itu, media Arab Saudi mengatakan bahwa Saudi akan mengadakan pertemuan darurat dengan OPEC untuk membahas guncangan pasar minyak akhir-akhir ini. Sedangkan Wall Street Journal melaporkan Saudi mempertimbangkan untuk memangkas 9 juta bph, atau lebih sedikit 3 juta bps dari rencana produksi bulan April. Minyak sudah turun sejak awal Maret ketika Rusia dan Saudi gagal menyepakati kerjasama pemangkasan output. Saudi kemudian menggenjot produksinya lebih dari 12 juta bpd serta mendiskon harga minyaknya. Minyak WTI naik sekitar 35% dan Brent naik 47%.

Saham-saham Asia diperkirakan menguat hari ini menyusul kenaikan bursa Wall Street menyusul naiknya harga minyak setelah pernyataan Presiden Trump yang mengatakan Arab Saudi dan Rusia akan memangkas produksinya. Indeks S$P 500 menguat 2,3% kemarin, didorong oleh saham-saham energy, sementara saham-saham consumer melemah setelah jobless claims AS melonjak menjadi 6,6 juta minggu lalu.

Fokus Hari Ini:
Di akhir minggu ini, fokus pasar akan tertuju pada data ketenagakerjaan AS, yang meliputi, pertumbuhan upah per jam, tingkat pengangguran dan non-farm payroll. Upah diperkirakan turun dari 0,3% menjadi 0,2%, sementara tigkat pengangguran diperkirakan melonjak menjadi 3,8% dari 3,5% dan non-farm payroll diperkirakan kontraksi 100 ribu. Data lainnya, ISM non-manufacturing, yang diperkirakan kontraksi 43,5.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*