Harga minyak melemah kemarin karena kekhawatiran mengenai gelombang kedua dari infeksi virus corona

Fokus Market Hari Ini : CPI AS Tidak begitu banyak data yang akan dirilis hari ini, kecuali data inflasi dari AS. Data tersebut mencakup CPI, yang diperkirakan turun 0,7% di April dari bulan sebelumnya yang turun 0,4%. Sementara core CPI diperkirakan turun 0,2% dari sebelumnya turun 0,1. Sementara untuk tahunan CPI diperkirakan melambat menjadi 0,4%, sementara core CPI diperkirakan melambat menjadi 2,1%.

Dollar, yang biasanya berfungsi sebagai aset safe haven, menguat kemarin, bahkan ketika investor menambahkan risiko pada portofolio mereka dengan membeli saham dan menjual obligasi. Sentimen investor bervariasi, dengan fokus pasar kembali khawatir akan adanya gelombang kedua penyebaran Covid-19 seiring dengan banyaknya negara yang melakukan lockdown. Jerman melaporkan adanya kasus terinfeksi baru secara eksponensial setelah melakukan relaksasi lockdown. Kumlah kasus di Korea Selatan juga meningkat ke level tertinggi satu minggu. Sementara itu, Jepang akan mengakhiri status darurat di beberapa wilayah minggu ini. Beberapa negara lain yang melakukan relaksasi adalah Selandia Baru, Inggris dan Perancis. Indeks dollar menguat 0,37% menjadi 100,16.

Sterling jatuh terhadap dollar kemarin karena naiknya imbal hasil obligasi, mengangkat minat beli atas mata uang AS tersebut. Selain itu, investor juga khawatir mengenai relaksasi lockdown di Inggris.  PM Inggris Boris Johnson kemarin merinci bagaimana membuat ekonomi kembali bekerja, meski masih adanya pertentangan dan kritik sindiran di seluruh Inggris terhadap kebijakan relaksasi lockdown-nya.

Harga emas melemah kemarin karena penguatan dollar, membuat logam mulia tersebut jatuh ke bawah $1700. Beberapa investor masih dibayangi kekhawatiran potensi gelombang kedua penyebaran virus corona setelah relaksasi lockdown. Hal ini yang kemudian membatasi penurunan emas. Sementara itu, pemerintah AS memperingatkan bahwa adanya peretas yang terikat dengan pemerintah China sedang mencuri data dari peneliti AS yang mengembangkan vaksin virus corona, menurut The Wall Street Journal.

Harga minyak melemah kemarin karena kekhawatiran mengenai gelombang kedua dari infeksi virus corona. Permintaan minyak global sudah turun sekitar 30% karena pandemi virus corona telah membatasi aktifitas di seluruh dunia, yang memicu pada peningkatan investaris global. Sementara harga minyak berjangka sudah jatuh lebih dari 55% tahun karena pandemi tersebut. Namun, dalam dua minggu ini terakhir harga mulai rebound setelah relaksasi lockdown di beberapa negara. Meski begitu, investor khawatir akan adanya gelombang kedua dari penyebaran virus corona. Kemarin, Jerman melaporkan jumlah yang terinfeksi meningkat secara eksponensial setelah relaksasi lockdown. Di Wuhan, yang merupakan episentrum wabah di China, melaporkan kluster infeksi pertama sejak lockdown dicabut bulan lalu. Namun, penurunan minyak mampu dibatasi setelah Pejabat Kementerian Arab Saudi mengatakan bahwa pihaknya sudah mengarahkan Aramco untuk memperbesar pengurangan produksi minyaknya sebesar 1 juta bph di Juni.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*