Harga Minyak Menguat Berkat Data EIA, Namun Masih Turun dalam Sepekan

Dolar AS Melemah Karena Meningkatnya Selera Risk-On

Dolar melemah pada hari Jumat, bersama dengan yen Jepang, karena investor memilih mata uang berisiko, dengan reli di Treasuries AS berkurang dan pasar saham global stabil. Beberapa data AS yang lemah baru- baru ini, bersamaan dengan lonjakan kasus COVID-19 di banyak bagian dunia, telah memicu kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi global kehabisan tenaga, yang menghapus penurunan delapan hari dari imbal hasil Treasury tenor 10 yang berakhir pada hari Jumat. Kenaikan imbal hasil mendukung aset dan mata uang yang lebih berisiko, dengan pasar saham global naik dan dolar Australia dan Selandia Baru yang terkait komoditas diuntungkan. Sementara itu, analis mengatakan bahwa penurunan greenback kemungkinan sebagian disebabkan oleh aksi ambil untung menjelang data inflasi AS bulan Juni yang akan dirilis minggu depan. Pada hari Jumat, indeks dolar AS turun 0,252% menjadi 92,131.

Loonie Rebound Setelah Data Ketenagakerjaan Kanada

Dolar Kanada menguat pada pada hari Jumat setelah data ketenagakerjaan Kanada mendukung ekspektasi untuk pengurangan pembelian aset Bank of Canada Kanada , dengan menambahkan 231.000 pekerjaan pada bulan Juni, melebihi ekspektasi. Dolar Kanada menguat 0,6% menjadi 1,2455 atas greenback, setelah hari Kamis mencapai level terendah 2-1ƒ2 bulan di 1,2590. Namun dalam sepekan masih turun 1,1%.

Emas Naik Berkat Pelemahan Dolar, Penyebaran Varian Delta

Harga emas naik pada hari Jumat dan mencatatkan penguatan mingguan terbaiknya dalam tujuh minggu. Penguatan didukung oleh pelemahan dolar dan kekhawatiran bahwa penyebaran varian Delta dari virus corona dapat memperlambat pemulihan ekonomi global. Harga spot emas menguat 0,5% menjadi $1,810,99 dan naik 1,4% untuk minggu lalu.

Harga Minyak Menguat Berkat Data EIA, Namun Masih Turun dalam Sepekan

Harga minyak naik untuk hari kedua pada hari Jumat karena pasar bereaksi terhadap penurunan persediaan AS, dan tanda-tanda permintaan Asia yang kuat dari China dan India. Data dari Energy Information Administration (EIA) minggu lalu menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 6,9 juta barel, lebih besar dari perkiraan penurunan 4 juta barel. Sementara stok bensin AS juga turun 6,1 juta barel. Sebelumnya, analis memperkirakan penurunan 2,2 juta barel. Namun, kenaikan harga minyak dibatasi oleh kekhawatiran bahwa anggota kelompok OPEC+ dapat tergoda untuk mengabaikan batas produksi yang telah mereka ikuti selama pandemi COVID-19, dengan pembicaraan terhenti karena kebuntuan antara produsen utama Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Minyak WTI AS naikk 2,2% pada hari Jumat pada $ 74,56, namun, selama sepekan turun 0,6%. Sementara Brent naik 1,9% di $75,55. Untuk sepekan Brent jatuh 0,8%

Wall Street Menguat Berkat Rebound Saham Keuangan

Tiga indeks saham di bursa Wall Street kompak menguat di akhir perdagangan Jumat, didorong rebound sektor keuangan dan sektor yang berfokus pada ekonomi lainnya dari aksi jual yang dipicu oleh kekhawatiran pertumbuhan di awal pekan. Indeks Dow Jones menguat 1,3%, S&P 500 naik 1,13% dan Nasdaq melesat 0,98%. Dalam sepekan, Dow naik 0,2%, S&P 500 dan Nasdaq masing-masing menguat 0,4%.

Fokus Minggu ini: RBNZ & BoC Meeting, Inflasi AS, PDB China

Minggu ini pasar keuangan akan kembali diramaikan oleh beberapa data ekonomi, serta event. Setidaknya ada dua bank sentral dunia yang akan menggelar rapatnya, yaitu RBNZ dan BoC. Beberapa pejabat bank sentral juga tampil di publik, termasuk ketua The Fed Jerome Powell. Sementara data-data penting yang akan dirilis diantaranya; inflasi AS, PDB China, data ketenagakerjaan Australia dan retail sales AS.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*