Jum. Jul 19th, 2024

Hidup di 2024 Bakal Susah? Ini Jurusnya Biar Kaya

Jakarta, CNBC Indonesia – Melewati tahun 2023, tampaknya ketidakpastian ekonomi masih membayangi dunia dan Indonesia pada tahun ini. Lantas bagaimanakah diri Anda dalam menyiapkan strategi pengelolaan keuangan kedepannya?

Di tengah melandainya inflasi Amerika Serikat (AS) yang bisa berdampak pada melunaknya kebijakan Bank Sentral AS (The Federal Reserve) terkait suku bunga, maka hal itu juga bisa menjadi sinyal positif di pasar keuangan Indonesia. Lantaran, pergerakan Suku Bunga Bank Indonesia cenderung mengekor The Fed.

Namun Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, mengingatkan kembali bahwa walaupun muncul sinyal pemangkasan suku bunga The Fed, suku bunga diperkirakan masih akan tetap tinggi pada jangka waktu yang lama (higher for longer).

Selain masalah suku bunga, ekonomi terbesar kedua di dunia yakni China diperkirakan masih dilanda sejumlah masalah. Sebut saja, krisis properti, melandainya kepercayaan konsumen, dan konsumsi warga Tiongkok membuat Negeri Panda ini masih sulit bangkit dari keterpurukan.

Perlambatan ekonomi China tentu bisa menjadi masalah besar bagi Indonesia. Mantan Menteri Keuangan RI, Chatib Basri mengungkapkan bahwa setiap perlambatan ekonomi China melemah atau turun sebesar 1%, maka akan memberikan dampak perlambatan hingga 0,3% terhadap perekonomian Indonesia.

Terlepas dari isu dua negara besar tersebut, pada 14 Februari mendatang Indonesia dipastikan akan memiliki presiden baru pada tahun ini. Pemilihan presiden (pilpres) akan digelar pada 14 Februari 2024.

Adanya pemilu cenderung membuat investor memilih wait and see. Investasi diperkirakan baru akan naik setelah pemenang pilpres diketahui, dan hal itu juga bisa berdampak pada pasar saham Indonesia serta keputusan investasi ke depan.

Jika belum ada pemenang mayoritas maka pilpres putaran kedua akan digelar pada 26 Juni.

Lantas apa yang memiliki resolusi memperbaiki keuangan pribadi di tahun 2024 ini? Berikut pemaparannya.

Tetap bijak dalam urusan kredit
Dalam manajemen keuangan pribadi, penurunan suku bunga tentu bisa berdampak dari segi konsumsi, bisnis hingga investasi. Hal tersebut tentu akan meringankan beban finansial bagi mereka yang memang berniat mengajukan kredit konsumtif maupun produktif.

Bunga dari kredit pemilikan rumah (KPR), kartu kredit, kredit usaha dan lainnya, tentu akan sangat terdampak dari kebijakan ini.

Penting sekali bagi Anda untuk membuat perbandingan serta perhitungan yang matang terkait beban bunga yang ditanggung sebelum Anda menentukan pilihan.

Bukan berarti dengan masih tingginya suku bunga maka segalanya harus ditunda. Apa yang menjadi prioritas di tahun ini tetap bisa terlaksana dengan manajemen keuangan yang baik.

Cobalah untuk menjaga besaran cicilan utang di bawah 30% dari penghasilan, dan besaran utang di bawah 50% dari total aset.

Jaga penghasilan
Kabar mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK) tampak berseliweran di media massa maupun media sosial.

Sebut saja, yang terbaru adalah PHK ribuan pekerja di pabrik tekstil Semarang. Dan hal itu menunjukkan bahwa ada 10 pabrik yang melakukan PHK tahun 2023 ini, menyebabkan total lebih 12.000 karyawan kehilangan pekerjaannya tahun ini.

Angka ini hanya mencatat PHK yang dilakukan pabrik beranggotakan serikat pekerja tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN).

Adanya sikap wait and see di era pemilu juga berpotensi memunculkan ketidakpastian di pasar tenaga kerja RI.

Bagi Anda yang memang berniat untuk melakukan upgrade karier di tahun ini, maka penting sekali untuk mencermati kondisi fundamental perusahaan yang Anda tuju sebagai tempat kerja baru.

Sementara bagi Anda yang belum berhasil memulihkan kondisi keuangan dari Covid-19 atau badai ekonomi belakangan ini, maka tidak ada salahnya pula untuk fokus ke penghasilan atau bisnis sampingan demi menjaga ketersediaan penghasilan Anda ke depan.

Tetap terlindungi
Belum lama ini, catatan Kemenkes menyebutkan bahwa, kasus aktif Covid-19 periode 6-19 Desember berjumlah 2.548 kasus dan kasus mingguan meningkat 243%.

Di sisi lain, saat ini juga muncul varian baru virus corona dengan varian JN.1 yang merupakan sublineage dari BA.2.86 di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia sebelumnya mengklasifikasikan Covid JN.1 sebagai varian of interest tapi resikonya rendah.

Tak hanya Covid 19, dunia kini juga tengah mempersiapkan diri untuk segala wabah baru di dunia kesehatan.

Berdasarkan pemberitaan dari South China Morning Post (4/12/2023), proyeksi dari lembaga think tank Center for Global Development yang menunjukkan bahwa ada kemungkinan 57% terjadinya pandemi sebesar Covid lainnya dalam 25 tahun ke depan.

Sementara itu Aliansi Riset Pandemi juga membahas seputar lonjakan infeksi di kalangan anak-anak yang disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae dan meyakinkan masyarakat bahwa kondisi tersebut mudah untuk diobati.

Ketika diri kita terpapar virus tersebut aktivitas pun bisa terhenti, belum lagi ada beban finansial yang harus ditanggung karena pengobatan.

Mencegah memang lebih baik dari mengobati namun yang tak kalah penting dilakukan adalah melindungi keuangan dari segala risiko finansial yang ada.

Penting sekali untuk meninjau ulang jaminan kesehatan yang kita miliki saat ini, dan jika ada rencana untuk menambah ke asuransi kesehatan swasta, maka belilah produk di perusahaan yang memiliki kesehatan finansial dan reputasi baik.

2024, investasi apa?
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan terakhir 2023, Jumat (29/12/2023) ditutup di posisi 7.272,79 dengan penguatan sepanjang 2023 sebesar 6,16% dan sempat mencetak rekor tertingginya pada perdagangan Kamis (29/12/2023) dengan menyentuh posisi 7.303,88.

Secara historis, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung positif selama gelaran pemilu beberapa edisi terakhir. Data BEI juga menunjukkan investor tetap melakukan net buying selama tahun politik. Kapitalisasi market juga meningkat meski ada gelaran pilpres.

Bagi mereka yang terjun di saham, penting sekali mencermati sektor-sektor yang diprediksi tumbuh karena dorongan dari domestik efek tahun pemilu, atau sektor yang akan terdorong kenaikannya dari sentimen global.

Sektor tersebut berasal dari komoditas, namun bukan komoditas minyak ataupun batu bara, melainkan komoditas emas.

Seperti diketahui, di sepanjang 2023 harga emas di pasar spot mengalami kenaikan sebesar 17,06% saat menyentuh level tertinggi sepanjang tahun 2023 pada 4 Desember 2023 di level US$2.135,4 per troy ons. Emas yang terus berkilau tentu masih cocok digunakan untuk investasi jangka panjang.

Namun yang tak kalah penting dari semua ini adalah memahami dengan baik risiko serta tujuan awal Anda terjun saham. Trading atau investasi?

Bagi investor dengan profil risiko konservatif, surat berharga negara (SBN) tentu bisa menjadi solusi berinvestasi baik untuk jangka pendek maupun panjang sesuai dengan tenornya. Pembelian SBN di pasar sekunder juga semakin mudah lantaran ada fitur bantuan dari berbagai aplikasi trading milik perusahaan sekuritas maupun agen penjual reksa dana.

Di samping itu, penting pula untuk menjaga ketersediaan uang dingin yang dimiliki.

Tetap apresiasi diri Anda
Menerapkan gaya hidup hemat tentu bisa membantu Anda untuk menjaga ketersediaan tabungan serta dana darurat. Lakukanlah jika memang Anda sama sekali belum memiliki keduanya.

Meski demikian, bukan berarti Anda benar-benar stop untuk melakukan hal yang Anda sukai. Anda masih bisa merencanakan liburan bersama keluarga atau membeli barang yang Anda inginkan lewat perencanaan keuangan yang baik.

Rencanakanlah kegiatan-kegiatan tersebut jauh-jauh hari agar keuangan Anda tidak terganggu. Dan dahulukanlah apa yang menjadi prioritas.

Ketahuilah bahwa kegiatan self reward juga merupakan hal yang dibutuhkan oleh Anda semua. Dengan beristirahat sejenak dari aktivitas, maka Anda akan bisa memulihkan energi dan mencari inspirasi baru untuk menyehatkan kondisi keuangan Anda ke depan.

Klik link, agar tidak ketinggalan informasi menarik lainnya seputar dunia trading.

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *