Inflasi AS, RBNZ Meeting, Pidato Phillip Lowe Minggu ini investor kembali akan disibukan oleh serangkaian data ekonomi

Dollar rebound dari level terendah dua tahun setelah data pertumbuhan pekerjaan AS yang sedikit lebih baik dari perkiraan pada bulan Juli, juga menghentikan reli emas dan euro. Data Jumat lalu menunjukkan Non-farm Payrol (NFP) tumbuh 1.769 ribu di Juli, melambat dari pertumbuhan bulan Juni yang sebesar 4.791 ribu. Namun, angka tersebut lebih baik dari perkiraan perlambatan 1.530 ribu. Meningkatnya jumlah kasus COVID-19 di AS menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya perlambatan tersebut. Untuk itu, data tersebut sekaligus menyoroti perlunya Gedung Putih dan Kongres mencapai kesepakatan tentang RUU stimulus baru. Indeks dollar, yang mengukur bobot dollar AS terhadap enam mata uang dunia lainnya menguat 0,662%. Namun, secara mingguan indeks tersebut masih turun tipis sekitar 0,12% di tengah penguatan euro yang tajam pasca diloloskannya paket bantuan pandemi Uni Eropa senilai 750 miliar euro.

Sterling melemah Jumat lalu dan mencatatkan penurunan harian terbesar sejak Juni karena memburuknya sentimen pasar global berubah setelah ketegangan AS-China. Sterling, merupakan mata uang yang didorong oleh sentimen risk-on, turun 0,3% pekan lalu, dibanding dengan penguatan 2,3% di minggu sebelumnya. Pada hari Kamis, sterling sempat naik ke level tertinggi lima bulan setelah BoE meeting.

Harga emas berjangka di Comex bulan Desember turun sekitar 2% . Hari Kamis, kontrak tersebut melonjak ke level 2089,20, tertinggi sepanjang masa. Sementara harga emas spot turun 1,4% pada level 2035,12, setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Terlepas dari koreksi hari Jumat, harga emas masih mencatatkan penguatan sebesar 32% tahun ini berkat faktor safe haven di tengah meningkatnya kasus virus corona, yang mendorong pemerintah dunia menggelontorkan stimulus guna mengatasi kerusakan ekonomi.

Harga minyak jenis WTI turun 1,7%, menjadi $ 41,27 per barel Jumat lalu, sementara minyak Brent turun 1,5%, menjadi $ 43,30. Namun, secara mingguan WTI naik 2,4% dan Brent menguat sebesar 2,5%. Peningkatan infeksi Covid-19 tetap menjadi masalah dominan untuk prospek permintaan bahan bakar. Lebih dari 700.000 orang telah meninggal dalam pandemi di seluruh dunia. Semetara itu, hampir 4,9 juta orang Amerika telah terinfeksi oleh COVID-19 sejauh ini, dengan jumlah kematian mencapai di atas 160.000, menurut Universitas Johns Hopkins. Sentimen minyak juga terbebani oleh data NFP yang hanya tumbuh 1,8 juta di Juli, melambat dari pertumbuhan 4,8 juta pekerjaan pada Juni, karena gelombang baru infeksi virus korona menghambat pemulihan pasar tenaga kerja. Namun, sentimen minyak terangkat oleh Data EIA mengenai turunnya cadangan minyak dan rencana Irak untuk memangkas produksi.

Saham Asia jatuh Jumat lalu setelah Presiden AS Donald Trump semakin meningkatkan ketegangan dengan Beijing dengan melarang transaksi AS dengan raksasa teknologi China Tencent serta ByteDance, pemilik aplikasi berbagi video TikTok. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang turun 1% dan Hang Seng anjlok 2%. Saham Tencent, perusahaan terbesar kedua di Asia berdasarkan kapitalisasi pasar, turun 9,0%.

Fokus Minggu ini: Inflasi AS, RBNZ Meeting, Pidato Phillip Lowe
Minggu ini investor kembali akan disibukan oleh serangkaian data ekonomi, event dan pidato gubernur bank sentral. Inggris akan merilis data ketenagakerjaan, sementara di Jerman ada sentimen ekonomi versi ZEW dan AS akan merilis data inflasi. Minggu ini ada juga rapat RBNZ, yang diperkirakan tetap mempertahankan kebijakan. Sementara pejabat bank sentral yang akan tampil, adalah Phillip Lowe dari RBA.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*