Kiwi Jatuh Meski RBNZ Naikkan Suku Bunga

Dolar AS Naik di Tengah Kekhawatiran Inflasi & Kenaikan Suku Bunga

AS Dolar menguat atas mata uang utama dunia lainnya pada hari Rabu karena melonjaknya harga energi memicu kekhawatiran tentang inflasi dan kenaikan suku bunga, memukul sentimen risk-on dan mendorong arus dana ke safe haven. Meningkatnya tekanan inflasi dapat menimbulkan hambatan bagi pertumbuhan dan berimplikasi pada seberapa cepat The Fed dapat menaikkan suku bunga. Federal Reserve mengatakan kemungkinan akan mulai mengurangi pembelian obligasi bulanannya segera setelah November dan kemudian menindaklanjutinya dengan kenaikan suku bunga. Sementara itu, pelaku pasar masih tetap khawatir mengenai negosiasi pagu utang AS, bahkan ketika Senat AS dari Partai Republik Mitch McConnell mengatakan partainya akan mengizinkan perpanjangan pagu utang federal hingga Desember, sebuah langkah yang akan mencegah default bersejarah. Indeks dolar AS naik 0,3% menjadi 94,228.

Kiwi Jatuh Meski RBNZ Naikkan Suku Bunga

Penguatan greenback, yang dipadu dengan menurunnya minat terhadap mata uang berisiko, mengirim dolar Selandia Baru (Kiwi) turun 0,7%, meskipun bank sentral Selandia Baru (RBNZ) menaikkan suku bunga pada hari Rabu untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun dan menandakan pengetatan lebih lanjut yang akan datang. Dalam rapatnya kemarin, RBNZ menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 0,50%.

Emas Naik Setelah Imbal Hasil Obligasi AS Koreksi

Emas naik pada hari Rabu setelah mundurnya imbal hasil Treasury AS, namun penguatan dolar membatasi kenaikan, dengan fokus investor beralih pada data ketenagakerjaan AS hari Jumat, yang diperkirakan akan menentukan rencana Fed taper. Harga emas spot naik 0,1% pada $1.760,78. Imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mundur setelah mencapai level tertinggi lebih dari tiga bulan, tetapi tetap di atas 1,5%.

Minyak Koreksi Setelah Data EIA Menunjukkan Kenaikan Cadangan

Harga minyak anjlok hampir 2% pada hari Rabu setelah kenaikan tak terduga dalam persediaan minyak mentah AS, mendorong aksi profit taking setelah kenaikan tajam baru-baru ini. Minyak Brent yang sempat mencapai US$83,47 per barel, tertinggi sejak Oktober 2018, turun 1,79% menjadi US$81,08 per barel. Sementara WTI AS turun 1,9% menjadi $77,43 per barel, setelah sebelumnya naik ke US$79,78, tertinggi sejak November 2014. Data dari Energy Information Administration (EIA) AS menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 2,3 juta barel pekan lalu, melawan ekspektasi untuk penurunan 418.000 per barel. Khususnya, produksi AS meningkat menjadi 11,3 juta barel per hari, pulih dari penutupan akibat badai lebih dari sebulan lalu untuk rebound mendekati level tertinggi pandemi. Tetapi masih jauh dari rekor 13 juta barel per hari yang ditetapkan pada 2019.

Wall Street Menguat di Tengah Optimisme Kesepakatan Plafon Utang AS

Wall Street menguat di akhir perdagangan Rabu karena investor optimistis bahwa Kongres Demokrat dan Republik dapat mencapai kesepakatan untuk mencegah default utang pemerintah. Senat AS dari Partai Republik Mitch McConnell mengatakan partainya akan mendukung perpanjangan plafon utang federal hingga Desember. Ini akan mencegah default historis yang akan menimbulkan korban ekonomi yang besar.

Fokus Hari ini: ECB Minutes, Pidato William & Macklem

Ada beberapa data ekonomi yang layak disimak hari ini di berbagai negara. Di Eropa, Jerman akan merilis data industrial prodution, yang diperkirakan kontraksi 0,4% di Agustus. Masih dari Eropa, ECB akan merilis minutes-nya, yang merupakan notulen dari rapat bulan lalu. Di AS, ada data jobless claims dan pidato pejabat The Fed John William. Terakhir, gubernur BoC Tiff Maclem juga akan menyampaikan pidatonya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*